Jumat, 13 November 2015

Jumat Berkabung, Libanon Kibarkan Bendera Setengah Tiang


Jumat Berkabung, Libanon Kibarkan Bendera Setengah Tiang  
 Ilustrasi peti mati korban serangan bom bunuh diri. (Reuters/ Khaled Abdullah)
 
 
Jakarta, CB -- Perdana Menteri Libanon, Tammam Salam menyatakan bahwa hari ini, Jumat (13/11), sebagai hari berkabung atas korban serangan bom bunuh diri Bourj al-Barajneh. Dia meminta agar semua lembaga publik di Libanon mengibarkan bendera setengah tiang, seperti dilaporkan oleh National News Agency Lebanon.

Berdasarkan informasi terakhir dari Kementerian Kesehatan Libanon, korban tewas serangan bom bunuh diri Bourj al-Barajneh, Beirut selatan, terus bertambah menjadi 43 orang, dan 239  lainnya mengalami luka-luka.

NNA melaporkan, dua pengebom bunuh diri meledakkan diri dengan jarak masing-masing 150 meter (490 kaki), dan selang waktu lima menit. Dalam  sebuah pernyataan yang beredar secara online oleh para pendukung ISIS di media sosial, ISIS mengaku bertanggung jawab atas ledakan tersebut. Namun, pernyataan tersebut belum dapat dikonfirmasi keasliannya.

Selain puluhan korban tewas dan ratus luka, ledakan merusak sedikitnya empat bangunan di dekatnya. Menurut NNA, setelah ledakan, pihak berwenang menutup semua pintu masuk ke Bourj al-Barajneh.

Peristiwa ini pengeboman yang bukan pertama kalinya terjadi dalam sejarah berdarah Lebanon ini mendapat kecaman dari dunia internasional. Kedutaan Amerika Serikat di Beirut mengecam serangan tersebut lewat akun Twitter-nya, “serangan mengeringan di Bourj el-Barajneh”, demikian bunyi kecaman tersebut.

Kedutaan AS juga mengirimkan belasungkawanya kepada keluarga para syuhada dan berharap korban yang terluka dapat segera pulih.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas menghubungi Perdana Menteri Libanon Tammam Salam untuk mengecam aksi terorisme yang terjadi wilayah selatan kota Beirut tersebut. Abbas menegaskan solidaritas dari rakyat Palestina untuk pemerintah dan orang-orang Libanon dalam keadaan ini.

Sementara itu, Presiden Perancis Francois Hollande menyatakan bahwa ledakan Beirut ini sebagai serangan mengerikan yang tercela.

Menteri Pariwisata Libanon Michael Pheron mengatakan, “Kami berdiri dalam solidaritas dengan penduduk di wilayah yang terkena serangan (bom bunuh diri), kami akan membentengi keamanan dan mengaktifkan lembaga untuk kesepakatan politik eksternal dan internal yang diperlukan.”


 Credit   CNN Indonesia


Dua Pengebom Beirut Meledakkan Diri dengan Jarak 150 Meter

Dua Pengebom Beirut Meledakkan Diri dengan Jarak 150 Meter  
Ilustrasi serangan bom bunuh diri. (Reuters/Parwiz)
 
Jakarta, CB -- Dua ledakan bom bunuh diri terjadi di Beirut selatan, Libanon.  Menurut perwakilan Palang Merah Lebanon Rodney Eid, setidaknya 37 orang tewas dan 181 lainnya luka-luka.

Menurut kantor berita Lebanon, National News Agency (NNA), ledakan tersebut mengguncang Bourj al-Barajneh, salah satu kamp pengungsi warga Palestina terbesar dan paling terkenal di Lebanon.


NNA melaporkan, dua pengebom bunuh diri meledakkan diri dengan jarak masing-masing 150 meter (490 kaki), dan selang waktu lima menit. Belum ada informasi dari mana mereka berasal, berhubungan dengan kelompok mana, atau apa motivasi mereka.

Setidaknya empat bangunan di dekat peristiwa bom bunuh diri tersebut hancur. Sebuah video yang  disebarkan oleh Reuters menampilkan adagan dramatis usai pengeboman. Tampak para petugas penyelamat membawa korban dari tumpukan puing-puing.

Warga didesak untuk menjauh dari tempat kejadian juga rumah sakit terdekat untuk memudahkan ambulans lewat.

Di Lebanon telah terjadi banyak kekerasan yang melibatkan banyak pihak dalam beberapa dekade terakhir. Termasuk dampak dari perang sipil berdarah di Suriah. Menurut PBB, perang Suriah telah membuat lebih dari satu juta warga negara Timur Tengah tersebut mengungsi ke negara lain.

Sebagian besar pertumpahan darah terkonsentrasi di perbatasan Suriah, meskipun tidak semuanya. Sebagai bukti, serangan bom di Beirut pada November 2013 yang menewaskan setidaknya 23 orang dan melukai lebih dari 150 lainnya.




 Credit  CNN Indonesia