Jumat, 10 Agustus 2018

Kritik Protes, Bangladesh Desak Kedubes AS Tarik Pernyataan


Para siswa meneriakkan slogan dalam protes atas kecelakaan lalu lintas yang menewaskan seorang bocah laki-laki dan perempuan, di Dhaka, Bangladesh, Ahad, 5 Agustus 2018. REUTERS
Para siswa meneriakkan slogan dalam protes atas kecelakaan lalu lintas yang menewaskan seorang bocah laki-laki dan perempuan, di Dhaka, Bangladesh, Ahad, 5 Agustus 2018. REUTERS

CB, Jakarta - Pemerintah Bangladesh menuntut kedutaan besar Amerika Serikat menarik kecaman atas penanganan protes mahasiswa untuk keselamatan lalu lintas.
Puluhan ribu mahasiswa dan pelajar sekolah memblokir jalan-jalan di Dhaka selama lebih dari seminggu, menuntut lalu lintas yang lebih aman, setelah dua remaja tewas oleh bus yang melaju kencang. Polisi menembakkan gas air mata dan memukuli demonstran untuk membubarkan massa, yang menyebabkan puluhan orang terluka.
Pada Minggu 5 Agustus, kedutaan besar AS mengunggah sebuah pernyataan di Facebook yang mengatakan anak-anak muda terlibat dalam protes damai sedang melaksanakan hak demokratis mereka dan tidak ada yang bisa membenarkan serangan brutal dan kekerasan terhadap anak-anak muda.
Menteri Komunikasi dan Penerangan Bangladesh, Hasanul Hoque Inu, mengatakan polisi telah bertindak dengan menahan diri dan baik Amerika Serikat serta PBB telah melampaui batas dengan kritik mereka.
"Kami mendesak untuk menarik pernyataan ini. Ini tidak sopan," kata Hoque, seperti dilaporkan Reuters, 9 Agustus 2018. Hoque menambahkan pemerintah Bangladesh akan menulis surat kepada kedutaan dan PBB untuk menyampaikan protes.

Marcia Bernicat, Duta Besar Amerika Serikat untuk Bangladesh. Wikipedia
Pada Minggu 5 Agustus, sekelompok orang bersenjata menyerang iring-iringan kendaraan yang membawa duta besar AS untuk Bangladesh. Tidak ada yang terluka tetapi dua kendaraan rusak. Polisi mengatakan mereka masih menyelidiki kasus tersebut.
Para demonstran menuntut perubahan UU keamanan lalu lintas pasca-insiden 29 Juli ketika pengemudi bus kehilangan kendali dan menabrak sekelompok siswa.
Polisi juga mengatakan mereka menangguhkan penahanan aktivis dan fotografer, Shahidul Alam, untuk interodasi setelah dia dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan pada Rabu 8 Agustus.
Alam dijemput dari rumahnya pada Minggu 5 Agustus setelah ia menulis komentar di media sosial bahwa sayap mahasiswa dari partai berkuasa Perdana Menteri Sheikh Hasina berusaha menyerang para pengunjuk rasa. Dia ditangkap dengan tuduhan menyebarkan isu di media sosial, yang bertujuan untuk memicu kekerasan.
Ini bukan pertama kali fotografer Bangladesh Shahidul Alam dengan pihak berwenang. Dilansir dari New York Times, Alam pernah membuat proyek tahun 2010 yang mendokumentasikan penyiksaan dan kematian yang dilakukan aparat pemerintahan, yang menyebabkan polisi Dhaka menutup galerinya dan memprovokasi protes nasional.

Fotografer Bangladesh Shahidul Alam ditangkap oleh polisi di luar pengadilan Metropolitan Magistrate di Dhaka, Bangladesh, 6 Agustus 2018 dalam gambar diam ini diambil dari video [REUTERS]
Dalam demonstrasi keselamatan lalu lintas, sedikitnya 20 petugas polisi menggerebek rumah Alam beberapa jam setelah ia mengunggah video di Facebook yang mengatakan bahwa dia telah dipukuli oleh preman pro-pemerintah dan membuat klaim serupa dalam sebuah wawancara.
Alam yang berusia 63 tahun, dikenal sebagai seorang aktivis sosial dan pengusaha. Ia dibawa ke sidang pengadilan tanpa alas kaki, bersandar pada dua petugas dan dengan keras menyatakan bahwa dia telah disiksa selama ditahan.

Shahidul Alam [MFA News]
Seorang hakim pengadilan tinggi Bangladesh memerintahkan pemerintah untuk membawanya ke rumah sakit, yang dilakukan pihak berwenang pada Rabu 8 Agustus, tetapi kemudian dikembalikan ke tahanan. Para pejabat rumah sakit mengatakan dia tidak memiliki cedera yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Reporters Without Borders di Prancis menyebut kasus Alam sebagai hari gelap untuk kebebasan pers di Bangladesh, dan mengatakan bahwa sekitar puluhan jurnalis lain telah dipukuli selama protes oleh polisi dan pemuda, yang terkait dengan partai Liga Awami yang berkuasa. Saat kejadian, polisi tidak berupaya menghentikan anggota liga pemuda yang menyerang demonstran dan jurnalis.



Credit  tempo.co