Selasa, 28 Agustus 2018

Dimusuhi Saudi, Kanada Cari Dukungan Jerman


Bendera Arab Saudi dan Kanada.
Bendera Arab Saudi dan Kanada.
Foto: Al Bawaba

Saudi mengusir Dubes Kanada karena mengkritik penangkapan aktivis HAM.




CB, BERLIN -- Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland
pada Senin (27/8) menyerukan dukungan Jerman dalam kampanye Ottawa untuk mempromosikan hak asasi manusia di seluruh dunia.

Pemerintah Jerman, yang berusaha memperbaiki hubungannya dengan Riyadh, bersikap diam atas perselisihan Kanada dan Arab Saudi. Konflik Kanada dan Saudi telah menimbulkan kecaman dari sejumlah politisi dan kelompok-kelompok hak asasi manusia.

Chrystia Freeland, berbicara pada pertemuan tahunan duta besar Jerman di Berlin. Walaupun tidak secara khusus menyebutkan Arab Saudi tetapi dia sempat menyinggung tweet-nya yang menuntut pembebasan aktivis hak asasi manusia yang dipenjarakan di Arab Saudi.


Sebagai tanggapan, Riyadh telah membekukan perdagangan baru dengan Kanada, mengusir duta besar Kanada, dan mengakhiri program pendidikan dan medis. Freeland mengatakan Kanada akan selalu membela hak asasi manusia walaupun memiliki konsekuensi. "Kami mengandalkan dan berharap untuk dukungan Jerman," katanya.


Hubungan antara Berlin dan Riyadh telah tegang sejak mantan menteri luar negeri Sigmar Gabriel mengecam kebijakan luar negeri Saudi di Timur Tengah pada November tahun lalu. Komentar itu dinilai sebagai kritik atas tindakan Riyadh di wilayah tersebut.

Arab Saudi menarik duta besarnya untuk Berlin dan, sejak awal 2018, telah mengecualikan perusahaan perawatan kesehatan Jerman dari tender umum. Riyadh berselisih dengan banyak negara Eropa yang mengkritik intervensinya dalam perang saudara Yaman dan mendukung dialog dengan Iran.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas menekankan pada konferensi Eropa dan Kanada terkait langkah menghadapi tindakan sepihak Presiden AS Donald Trump.

"Ini memukul Eropa dan Jerman ketika Amerika Serikat, tiba-tiba dan tanpa konsultasi, memperkenalkan sanksi acak terhadap Rusia, Cina, Turki dan di masa depan mungkin lebih banyak mitra dagang penting kami," katanya.

Menurutnya Eropa perlu lebih otonom untuk mempertahankan kepentingan perdagangannya. "Walaupun Itu tidak akan mudah," ujarnya.




Credit  republika.co.id