Jumat, 31 Agustus 2018

Situasi di Idlib Memanas, 10 Ribu Milisi Bersiap


Sukarelawan White Helmets mencari korban setelah ledakan di Idlib, Suriah, April lalu.
Sukarelawan White Helmets mencari korban setelah ledakan di Idlib, Suriah, April lalu.
Foto: EPA/Mohammed Badra

PBB meminta semua pihak mencegah pertempuran di Idlib.



CB, JENEWA -- Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) meminta Rusia, Iran dan Turki untuk mencegah pertempuran di Provinsi Idlib, Suriah.  Pertempuran itu akan mempengaruhi jutaan warga sipil dan memungkinkan kedua pihak yang berseteru menggunakan klorin sebagai senjata kimia.

Utusan PBB Suriah, Staffan de Mistura mengatakan kepada wartawan, ada konsentrasi yang tinggi dari pejuang asing di Idlib, termasuk sekitar 10 ribu milisi. Akan lebih baik, kata ia, untuk mengatur koridor kemanusiaan untuk mengevakuasi warga sipil.

"Lebih baik mengatur soal kemanusiaan daripada terburu-buru ke dalam pertempuran yang bisa berubah menjadi peperangan yang luar biasa," ujar Mistura dikutip dari laman Reuters, Kamis (30/8).

PBB telah berulang kali berupaya menginisiasi perundingan perdamaian antara Pemerintah Suriah dan kubu oposisi. Pada Desember 2017, perundingan damai Suriah putaran ke delapan yang digelar di Jenewa, Swiss, berakhir tanpa hasil apapun.



De Mistura menerangkan, kegagalan perundingan tersebut karena delegasi pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad mengajukan prasyarat untuk melakukan pembicaraan langsung dengan oposisi.
Prasyarat yang diajukan delegasi pemerintah adalah menuntut oposisi menarik diri dari Deklarasi Riyadh 2. Deklarasi itu merupakan sebuah pernyataan oposisi yang menolak Assad terlibat dalam proses transisi politik di negara tersebut.

Namun pada Januari lalu, kemajuan mulai tampak setelah perwakilan pemerintah dan oposisi Suriah menyepakati pembentukan komite konstitusional. Komite itu terdiri dari pemerintah, perwakilan oposisi dalam perundingan intra-Suriah di Jenewa, pakar Suriah, masyarakat sipil, dan para pemimpin suku.

Menurut de Mistura, penyusunan konstitusi baru Suriah memang bukan pekerjaan mudah, tapi itu harus dituntaskan. Terkait hal itu, perwakilan Suriah membutuhkan tempat yang aman dan netral untuk menyusun konstitusi. “Semua rakyat Suriah saat ini membutuhkan gencatan senjata yang berkelanjutan, akses kemanusiaan penuh, dan pembebasan tahanan,” ucapnya.





Credit  republika.co.id