Selasa, 14 Agustus 2018

AS Kerja Keras Stop Ketergantungan pada Mesin Roket Rusia



AS Kerja Keras Stop Ketergantungan pada Mesin Roket Rusia
Mesin roket RD-180 Rusia. Amerika Serikat masih ketergantungan pada mesin roket itu untuk menerbangkan roket Atlas-nya ke luar angkasa. Foto/REUTERS

WASHINGTON - Amerika Serikat bekerja keras untuk menghentikan ketergantungannya pada mesin roket RD-180 Rusia. Administator Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA) AS, Jim Bridenstine, mengungkapnya.

Pada bulan Agustus ini pemerintah Presiden Donald Trump mengumumkan penjatuhan sanksi baru terhadap Rusia sebagai tanggapan atas dugaan penggunaan senjata kimia Moskow terhadap mantan perwira intelijen Rusia Sergei Skripal di kota Salisbury, Inggris, pada bulan Maret.


Kepala Komite Anggaran Majelis Tinggi Rusia, Sergei Ryabukhin, kepada Sputnik telah mengancam bahwa Moskow bisa mengambil opsi melarang penjualan mesin roket RD-180 kepada Washington sebagai balas dendam atas sanksi yang dijatuhkan AS.

"Amerika Serikat bekerja sangat keras untuk tidak bergantung pada mesin RD-180. NASA adalah yang unik dari (badan) pemerintah federal lainnya dalam arti bahwa ketika hubungan menjadi sulit di antara negara-negara, ketika mereka tidak begitu baik, NASA mampu mempertahankan hubungan itu," kata Bridenstine dalam sebuah wawancara dengan penyiar C-SPAN, yang dilansir Senin (13/8/2018).

Bridenstine menekankan bahwa NASA tidak ingin bergantung pada Rusia, tetapi ingin mempertahankan hubungan baik dengan Moskow.

Rusia memasok mesin RD-180 ke AS berdasarkan kontrak tahun 1997. Program luar angkasa AS bergantung pada mesin buatan Rusia itu untuk menyalakan tahap pertama roket Atlas V, yang digunakan untuk mengirim muatan besar ke luar angkasa.

Pada akhir Juli, Igor Arbuzov, kepala produsen mesin roket utama Rusia JSC NPO Energomash, mengatakan bahwa perusahaannya telah menandatangani perjanjian baru dengan United Launch Alliance untuk pengiriman enam mesin roket RD-180 yang digunakan untuk penerbangan roket Atlas V pada tahun 2020. 




Credit  sindonews.com