Kamis, 28 Mei 2015

Pentagon: Nama Sandi Syiah Tak Membantu Serangan ke Ramadi


WASHINGTON (CB), SELASA — Pentagon, Amerika Serikat, Selasa (26/5), mengatakan, nama sandi berbau sektarian yang diumumkan milisi Syiah Irak untuk operasi merebut kembali kota Sunni, Ramadi, tak banyak membantu. Dalam pandangan AS, serangan penuh untuk merebut kembali Ramadi juga belum dimulai.
 Tentara Irak  dan milisi dikerahkan ke wilayah Al-Nibaie, barat laut Baghdad, Irak, Selasa (26/5), dalam operasi yang ditujukan untuk menghentikan gerak milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di Provinsi Anbar sebelum serangan utama untuk merebut kembali kota Ramadi. Tentara Irak mengepung Ramadi dan meluncurkan operasi bersandi
AFP PHOTO/AHMAD AL-RUBAYE Tentara Irak dan milisi dikerahkan ke wilayah Al-Nibaie, barat laut Baghdad, Irak, Selasa (26/5), dalam operasi yang ditujukan untuk menghentikan gerak milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di Provinsi Anbar sebelum serangan utama untuk merebut kembali kota Ramadi. Tentara Irak mengepung Ramadi dan meluncurkan operasi bersandi "Labaik ya Hussein". Sandi itu merujuk pada salah satu pemimpin Islam Syiah yang dihormati.
Ahmed al-Assadi, juru bicara milisi Syiah Hashid al-Shaabi (mobilisasi rakyat), mengatakan, nama sandi untuk operasi baru tersebut adalah "Labaik ya Hussein". Itu merupakan slogan untuk menghormati cucu Nabi Muhammad SAW yang tewas dalam pertempuran abad ketujuh dan menyebabkan perpecahan antara Syiah dan Sunni.
AS secara tegas telah menganjurkan Irak melangkah hati-hati dalam menggunakan milisi Syiah untuk membantu pasukan Irak merebut kembali kota Ramadi yang jatuh ke tangan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) seminggu lalu. Ini merupakan kemunduran militer terbesar di Baghdad dalam kurun waktu hampir setahun ini.
Ditanya tentang nama sandi berbau sektarian tersebut, juru bicara Pentagon AS, Kolonel Steve Warren, mengatakan, nama sandi tersebut tak cukup banyak membantu upaya perebutan kembali kota Ramadi. Warren menambahkan, kunci kemenangan adalah persatuan Irak yang bebas dari perpecahan sektarian.
Menteri Pertahanan AS Ash Carter, akhir pekan lalu, menyatakan, pasukan Irak tidak menunjukkan kemauan keras untuk melawan militan NIIS selama musim gugur di Ramadi. Pernyataan tersebut memicu reaksi dari Perdana Menteri Irak Haidar al-Abadi.
Selasa, Warren memperjelas pernyataannya. Menurut dia, jumlah pasukan Irak lebih banyak dibandingkan pasukan musuh, tetapi mereka memilih untuk mundur. Ia mencontohkan sejumlah masalah yang mendahului penarikan Irak dari Ramadi.
"Semangat mereka jatuh. Kepemimpinan mereka tidak maksimal. Mereka meyakini bahwa mereka tidak mendapat dukungan yang mereka butuhkan," kata Warren.
Kegagalan militer Irak untuk mempertahankan kota Ramadi memaksa pemerintah mengirim pasukan Iran yang didukung paramiliter Syiah untuk membantu merebut kembali kota Ramadi tersebut.
Milisi Syiah didukung sejumlah kecil kader dari pasukan pemerintah, Selasa, menyerang hingga beberapa kilometer dari sebuah universitas di tepi barat daya kota Ramadi. Warren menggambarkan hal itu sebagai operasi persiapan menjelang serangan yang sebenarnya.
 Pasukan gabungan  yang   terdiri dari tentara dan milisi akan bergerak menuju Ramadi dari Provinsi Salaheddin. Demikian dikatakan  juru bicara milisi Syiah Hashid al-Shaabi, Ahmed al-Assadi.
AFP PHOTO/AHMAD AL-RUBAYE
 Pengungsi  Sunni yang menghindari pertempuran di Ramadi tiba di pinggiran Baghdad, Irak,  dengan memanggul anak di pundaknya, Minggu (24/5). Tentara Irak merebut kembali wilayah dekat kota Ramadi dari milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), Minggu. Sementara itu, di Suriah, pemerintah menyatakan, milisi NIIS telah membunuh ratusan orang sejak merebut kota Palmyra.
REUTERS/Stringer
"Operasi persiapan dalam hal ini adalah operasi untuk mengamankan jalur komunikasi, jalan utama dan persimpangan, serta medan tertentu sebelum melakukan serangan utama," ujarnya.


Credit  Kompas.com