Rabu, 15 Agustus 2018

Inggris Sebut Demokrasi dan HAM Fokus Kemitraan di Asia



Inggris Sebut Demokrasi dan HAM Fokus Kemitraan di Asia
Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad seusai pemilu yang baru lalu. (REUTERS/Lai Seng Sin)



Jakarta, CB -- Inggris memuji gelaran pemilihan umum Malaysia pada Mei lalu yang dianggap berhasil menggambarkan penerapan demokrasi di Negeri Jiran dan berharap Indonesia bisa melakukan hal yang sama pada Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Muda Inggris Urusan Kawasan Asia Pasifik Mark Field dalam diskusi di Pusat Kajian Internasional dan Strategis (Centre for Strategic & International Studies/CSIS) bertajuk The UK and All of Asia: A Modern Partnership di Jakarta, Selasa (14/8).

"Pemilu Malaysia menggambarkan dukungan tegas terhadap kekuatan demokrasi-sesuatu yang sudah lama hidup dan diterapkan di Indonesia," papar Field di depan sejumlah akademisi, pelajar, dan awak media.



"Dan dalam beberapa waktu mendatang saya berharap dapat melihat warga Thailand, Bangladesh, Afghanistan, dan tentunya Indonesia mengekspresikan suara mereka berpartisipasi ke tempat pemungutan suara," kata dia menambahkan.



Dalam kesempatan itu Field menegaskan komitmen Inggris untuk terus memperkuat kemitraan dengan negara-negara di Asia, tak terkecuali di Indonesia. Hal ini, tuturnya, bisa dilihat dari kebijakan Inggris yang memiliki 50 misi diplomatik di seluruh penjuru Asia, termasuk di seluruh 10 negara ASEAN.

Field mengatakan salah satu kebijakan yang difokuskan Inggris di Asia adalah mendukung penerapan demokrasi, hak asasi manusia, dan aturan hukum di kawasan.

Menurutnya negara-negara Asia harus bisa memastikan seluruh warganya bebas mengekspresikan diri dan menjalani kehidupan sesuai pilihan masing, bebas memeluk agama yang diyakini tanpa takut didiskriminasi, dan dihargai tanpa melihat gender, etnis, atau orientasi seksualnya.

"Kami percaya orang-orang Asia dan seluruh dunia menerapkan nilai-nilai itu semua. Dalam semboyan nasional Indonesia, persatuan dalam keberagaman atau (Bhineka Tunggal Ika)," papar Field.

Dalam kesempatan itu, Field turut menyinggung sejumlah isu dan konflik yang dikhawatirkan bisa mengancam penerapan demokrasi dan HAM di Asia. Mulai dari pengekangan pemerintah China terhadap gerakan demokrasi di Hong Kong, ancaman terhadap kebebasan beragama di Nepal dan Pakistan, kekhawatiran terhadap dugaan penindasan warga minoritas di Xinjiang, China, hingga krisis kemanusiaan di Myanmar.

Pengungsi Rohingya di Bangladesh.
Foto: REUTERS/Clodagh Kilcoyne
Pengungsi Rohingya di Bangladesh.

"Di Myanmar, saya menyoroti perlunya pihak-pihak yang terlibat kejahatan dan kekejaman untuk diadili. Sementara di Thailand dan Kamboja, saya juga mendorong pemerintah menciptakan kondisi pemilu yang bebas, adil, dan transparan," ucap Field.

Dalam isu keamanan, Field juga menegaskan kebijakan Inggris yang terus mendukung kawasan Asia yang bebas nuklir.

Selain itu, London juga terus mendorong penerapan kebebasan bernavigasi dan penghormatan terhadap hukum internasional di Laut China Selatan, perairan yang menjadi sengketa antara China dan sejumlah negara Asia Tenggara.







Credit  cnnindonesia.com