Selasa, 24 November 2015

Serangan ke Muslim di Inggris Naik 300 Persen


Serangan ke Muslim di Inggris Naik 300 Persen 
 Ilustrasi perempuan mengenakan hijab. (Ilustrasi/Getty Images/Zurijeta)
 
London, CB -- Pasca tragedi teror Paris yang menewaskan setidaknya 130 orang, serangan terhadap umat Muslim di Inggris meningkat 300 persen menjadi 115 kasus dalam sepekan.

Satu kelompok kerja bentukan pemerintah Inggris melaporkan, mayoritas korban merupakan gadis dan perempuan Muslim berusia 14-45 tahun yang mengenakan pakaian Islami. Disebutkan bahwa pelaku serangan biasanya adalah seorang pria kulit putih dengan jenjang usia 15-35 tahun.

"Banyak korban menyatakan tak ada yang membantu mereka, berarti mereka merasa menjadi korban, dipermalukan, sendirian, dan marah terhadap apa yang terjadi pada mereka. Enam belas korban bahkan menyebutkan, mereka takut pergi ke luar dan pengalaman mereka memengaruhi rasa percaya diri mereka," demikian kutipan laporan tersebut seperti dikutip harian The Independent.


Laporan itu juga menunjukkan bahwa kebanyakan serangan terjadi di tempat-tempat publik, termasuk bus dan kereta.

Dalam salah satu insiden, seorang gadis London yang mengenakan hijab dianiaya secara verbal oleh penumpang laki-laki di kereta.

Pria itu mendekati sang gadis dan mengatakan bahwa kerudungnya terlihat seperti kain lap di atas kepala, teroris, pengecut, dan menuding 'kaumnya' adalah pembunuh korban dalam serangan Paris.

Dalam kasus lain, seorang ibu mengeluarkan anaknya dari sebuah sekolah di Edinburgh karena serangan anti-Muslim semakin intensif pasca serangan Paris.

"Mereka memanggil putri saya dengan kata kasar dan meledeknya karena menjadi seorang Muslim. Pelecehan itu semakin parah setelah serangan Paris. Tak ada orang yang pantas diperlakukan seperti itu," kata seorang ibu korban yang tak diungkap identitasnya.

Di akhir laporan, kelompok kerja ini meminta agar pemerintah segera mengatasi masalah ini.

Menurut juru bicara bidang keamanan dan kontra-terorisme dari Dewan Muslim Inggris, Miqdaad Versi, pemotongan anggaran untuk pengawasan serangan terhadap umat Islam di Inggris merupakan salah satu penyebab insiden terus terjadi.

Versi mengatakan, pengurangan angggaran ini otomatis membuat personel polisi pemantau serangan terhadap kaum Muslim di Inggris berkurang. Dengan demikian, komunitas Muslim sulit membangun hubungan dengan polisi,

"Membentuk aturan yang lebih efektif dalam memerangi terorisme dalam masyarakat adalah kunci bagi polisi untuk terlibat, berkonsultas, dan membangun kepercayaan dengan komunitas sebagai rekan," kata Versi.

Credit  CNN Indonesia