Rabu, 10 April 2019

Israel Gelar Pemilu, Tepi Barat Ditutup


Israel Gelar Pemilu, Tepi Barat Ditutup
Ilustrasi reklame kampanye Benjamin Netanyahu di Tel Aviv, Israel. (Reuters/Nir Elias)


Jakarta, CB -- Israel hari ini menggelar pemilihan umum parlemen. Atas alasan itu, mereka memutuskan menutup wilayah Tepi Barat, Palestina, yang diduduki.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (9/4), militer Israel menutup seluruh kawasan Tepi Barat sejak pagi hari waktu setempat. Mereka baru membuka kembali blokade pada Rabu (10/4) tengah malam besok setelah penghitungan suara selesai.

Penutupan Tepi Barat membuat warga Palestina tidak boleh melintas. Namun, larangan itu tidak berlaku untuk urusan medis dan kemanusiaan.


Dalam pemilihan umum kali ini, Benjamin Netanyahu akan maju kembali sebagai calon petahana. Pesaing terkuatnya adalah mantan Panglima Angkatan Bersenjata Israel, Benny Gantz.

Gantz menjanjikan akan memberikan jalan baru kepada Israel jika terpilih.

"Saya senang bisa melayani Israel. Saya senang untuk memimpin warga Israel ke arah baru. Kita harus menghormati demokrasi dan meminta seluruh pihak menghormatinya," kata Gantz, seperti dilansir AFP.

Tempat pemungutan suara dibuka sejak pukul 07.00 sampai 22.00 waktu setempat. Setelah itu langsung dilakukan penghitungan suara dilakukan

Pemilu kali ini menjadi pertaruhan bagi Netanyahu. Jika tumbang, maka kemungkinan dia bakal diseret ke pengadilan atas sejumlah kasus dugaan korupsi.

Tuduhan korupsi telah menjerat Netanyahu sejak awal 2017 lalu. Dia diduga terlibat dalam tiga kasus korupsi yang berbeda.

Pertama, Case 1000. Dalam perkara ini Netanyahu dan keluarganya dituduh menerima gratifikasi berupa sampanye, cerutu, dan sejumlah perhiasan dari produser Hollywood yang merupakan warga Israel, Arnon Milchan, dan pebisnis asal Australia, James Packer, dalam kurun waktu 2007 sampai 2016.

Gratifikasi itu disebut diberikan kepada Netanyahu sebagai imbalan karena telah memberikan "bantuan politik." Hingga kini, penyelidikan polisi masih berkutat untuk mengungkap bantuan politik seperti apa yang diberikan oleh Netanyahu.

Kasus kedua disebut Case 2000. Netanyahu dituduh melobi Arnon Mozes, seorang pemilik surat kabar ternama Israel, Yedioth Ahronoth, terkait permintaan pemberitaan positif. Sebagai gantinya, Netanyahu yang berkuasa sejak 2009 bersekongkol dengan menerbitkan aturan pemerintah dan sejumlah cara lain untuk menekan pertumbuhan surat kabar pesaing Yediot, Israel Hayom.

Dalam perkara kedua, Netanyahu bersama Mozes disangka terlibat suap, rekayasa, dan penyalahgunaan wewenang.

Perdana Menteri Israel kesembilan itu juga terjerat skandal korupsi Case 4000. Dalam kasus ini, Netanyahu dituding memberikan kelonggaran regulasi bagi perusahaan telekomunikasi Israel, Bezeq Telecom.

Sebagai imbalan, Netanyahu dan sang istri, Sara, mendapat pemberitaan positif dari sebuah portal berita Walla yang terkait dengan Bezeq Telecom.




Credit  cnnindonesia.com