Kamis, 25 Januari 2018

Trump Bakal Diperiksa dalam Kasus Intervensi Rusia


Trump Bakal Diperiksa dalam Kasus Intervensi Rusia
Donald Trump dilaporkan bakal diperiksa dalam kasus dugaan intervensi Rusia dalam Pilpres AS. (REUTERS/Jonathan Ernst)


Jakarta, CB -- Jaksa Khusus Robert Mueller dilaporkan akan mengajukan permintaan untuk memeriksa Presiden Donald Trump terkait dugaan intervensi Rusia dalam pemilihan umum Amerika Serikat 2016.

Dua orang sumber yang dekat dengan penyelidikan kasus ini mengatakan Mueller ingin memeriksa Trump soal pemecatan mantan Direktur Biro Investigasi Federal (FBI) James Comey dan mantan penasihat keamanan nasional yang diduga berhubungan dengan Rusia, Michael Flynn.

Kedua sumber menyatakan kemungkinan Trump tidak akan menghadap Mueller dalam beberapa pekan ke depan, karena masih banyak hal yang perlu dinegosiasikan.


Salah seorang sumber itu menyebut bentuk pemeriksaan masih dalam tahap diskusi awal. Pengacara Trump menginginkan jawaban kliennya atas pemeriksaan itu hanya dalam bentuk tertulis.

Namun, berdasarkan sumber CNN itu, pihak Trump menyadari bahwa pemeriksaan mungkin lebih berbentuk kombinasi antara tanya jawab lisan dan tulisan, atau bahkan hanya berupa tatap muka.

"Mungkin Mueller semakin yakin soal penghalangan penegakan hukum (yang diduga dilakukan Trump), apakah itu tindak pidana, apakah pelanggaran yang bisa berujung pemakzulan, atau apakah tindakan itu tidak berarti apa-apa," kata Michael Zeldin, mantan anak buah Mueller di Kementerian Kehakiman, Selasa (23/1).

Permintaan Mueller untuk memeriksa Trump dan kabar bahwa timnya telah memeriksa Comey menyiratkan bahwa setidaknya salah satu aspek penyelidikan terkait intervensi Rusia untuk mendorong pengusaha properti itu ke kursi presiden kini telah mendekati tahap akhir.
Jaksa Khusus Robert Mueller disebut sudah yakin soal dugaan penghalangan penegakan hukum yang dilakukan Trump.
Jaksa Khusus Robert Mueller disebut sudah yakin soal dugaan penghalangan penegakan hukum yang dilakukan Trump. (Brendan Smialowski/AFP Photo)
Fakta bahwa tim Mueller telah berbicara dengan Comey dan kini berupaya untuk meminta keterangan langsung dari Presiden juga menunjukkan bahwa penyelidikan terkait dugaan penghalangan penegakan hukum yang dilakukan Trump sudah berkembang pesat.

Trump diduga menghalang-halangi penegakan hukum dengan meminta Comey untuk memberi kelonggaran terhadap Flynn. Sang Presiden kemudian memecatnya ketika dia menyatakan keberatan.

Mueller kini sudah mengantongi kesaksian Comey, Jaksa Agung Jeff Sessions dan Flynn sebagai saksi yang bekerja sama dalam penyelidikan ini. Ketiga orang ini bisa mengungkap informasi yang dibutuhkan terkait percakapan dengan Trump.

Jaksa khusus juga kemungkinan mempunyai banyak bukti dari sumber lain, termasuk hasil pemeriksaan, surat elektronik dan kesaksian pihak lain. Dia juga kemungkinan besar sudah tahu jawaban apa yang akan dilontarkan Trump, membuatnya tidak bisa berbohong.
James Comey dipecat Trump setelah menolak memberi kelonggaran kepada Michael Flynn.
James Comey dipecat Trump setelah menolak memberi kelonggaran kepada Michael Flynn. (Dok. Reuters)
Selain itu, Mueller juga mempunyai sejumlah memo yang ditulis Comey setelah pertemuan dengan Trump. Dalam catatan itu, mantan Direktur FBI menyebut Trump berupaya membangun hubungan yang tidak pantas dengannya.

Tahun lalu, Trump menyatakan "100 persen" mau bersaksi kepada Mueller di bawah sumpah. Namun, awal bulan ini, dia tampaknya berubah pikiran.

Juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, menyatakan pihaknya "sepenuhnya kooperatif" dengan Mueller, meski meyakini warga Amerika sudah siap melupakan masalah itu.

Walau demikian, jajak pendapat yang dilakukan CNN belum lama ini menunjukkan 8 dari 10 warga Amerika, termasuk 59 persen pendukung Partai Republik, menyatakan Trump mesti bersaksi jika diminta Mueller.


Credit  cnnindonesia.com