Rabu, 10 April 2019

Buka Masjid Votanikos, Athena Tidak Lagi Jadi Ibu Kota Eropa Tanpa Masjid



Buka Masjid Votanikos, Athena Tidak Lagi Jadi Ibu Kota Eropa Tanpa Masjid
Konstruksi Masjid Votanikos Athena, Yunani. Foto/Istimewa


ATHENA - Masjid Votanikos di Athena akan dibuka untuk umum dalam beberapa minggu mendatang. Ini terjadi setelah bertahun-tahun mendapat reaksi dari Gereja Ortodoks dan protes dari penduduk setempat.

Wakil Menteri Luar Negeri Yunani, Marcos Bolaris, mengkonfirmasi jika masjid yang dibiayai oleh negara dengan nilai hampir USD1 juta itu akan membuka pintunya dalam beberapa minggu mendatang. Berbagai aplikasi untuk membangun masjid telah diperdebatkan dan dihentikan sejak tahun 2000, dan konstruksi bangunan saat ini akhirnya dimulai pada akhir 2016, meskipun setelah polisi membersihkan para pengunjuk rasa dari situs tersebut seperti dikutip dari Russia Today, Rabu (10/4/2019).

Sampai sekarang, Athena tetap menjadi satu-satunya ibu kota di Eropa tanpa masjid. Sementara beberapa masjid era Ottoman masih berdiri di kota, mereka berfungsi sebagai monumen arkeologis, bukan rumah ibadah. Setelah hampir 400 tahun pendudukan Ottoman yang brutal, pemerintah Yunani belum menyetujui pembangunan satu masjid baru sejak Yunani mengamankan kemerdekaannya pada tahun 1830.

Perkiraan populasi Muslim Athena berkisar antara kurang dari 100 ribu hingga 500 ribu, ketika imigran ilegal dan pengungsi turut dihitung. Sampai sekarang, para Muslim ini dipaksa untuk berdoa di ruang keluarga yang dikonversi dan ruang bawah tanah yang tersebar di sekitar kota.

Oposisi terhadap masjid itu sangat kaku. Nikolaos Michaloliakos, pemimpin partai sayap kanan Golden Dawn, menggagalkan proposal di parlemen pada 2016. Menyebut masjid sebagai "tempat suci untuk perbudakan," Michaloliakos bertanya, "Apakah kita kembali ke pendudukan Turki?"

Sementara Golden Dawn menduduki posisi politik kanan terjauh di Yunani, banyak orang Yunani biasa masih mengaitkan Islam dengan penaklukan dan pendudukan. Sebuah survei 2017 menemukan bahwa hanya sepertiga dari populasi negara itu yang melihat istilah 'Muslim' secara positif. 28 persen memandang istilah 'Turki' secara positif, menunjukkan bahwa bagi banyak orang, Islam adalah sebuah konsep yang tidak dapat dipisahkan dari masa-masa kelam Kekaisaran Ottoman.

Gereja Ortodoks di negara itu, yang dianut 98 persen penduduknya, juga menentang masjid itu. Uskup Agung Ieronymos II dari Athena, pemimpin gereja di Yunani, memperingatkan bahwa pembangunan masjid adalah bagian dari rencana untuk menghilangkan kekuatan Hellenisasi dan meng-Kristenkan bangsa itu. Ia juga menyebut masjid sebagai tempat berkembang biaknya radikalisasi.

“Apakah orang-orang ini akan sholat di sana atau akankah masjid menjadi sekolah untuk jihadisme dan fundamentalisme? Siapa yang akan memonitor ini?” Tanyanya di TV Yunani pada tahun 2016.

Dengan masjid yang akhirnya dibuka, beberapa Muslim Yunani mengeluh bahwa bangunan yang sudah selesai terlalu kecil.

"Apakah ini masjid yang telah mereka ceritakan kepada kita selama bertahun-tahun?" Naim Elghandour, presiden Asosiasi Muslim Yunani, bertanya pada radio Thema 104.6 bulan lalu.

Ia mengeluh bahwa bangunan itu hanya akan menampung 300 pria dan 50 wanita ketika di buka.

Elghandour mengklaim bahwa Masjid Votanikos, yang tidak memiliki menara atau pengeras suara, hampir tidak lebih besar dari masjid-masjid sementara yang didatangi Muslim di kota itu. 





Credit  sindonews.com