Senin, 24 Juli 2017

PNA serukan persatuan dengan HAMAS di tengah kemelut Jerusalem


PNA serukan persatuan dengan HAMAS di tengah kemelut Jerusalem
Kompleks Al Aqsa atau Haram Al Sharif, yang meliputi Masjid al-Aqsa dan Dome of the Rock atau Masjid Kubah Batu dengan kubah emasnya, di Yerusalem Timur terlihat dari Bukit Zaitun. (ANTARA News/Maryati)


Ramallah, Palestina (CB) - Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) pada Minggu (23/7) mengeluarkan seruan persatuan kepada HAMAS di Jalur Gaza, dalam menghadapi peningkatan pertikaian dengan Israel mengenai Masjid Al-Aqsha.

Juru Bicara PNA Tariq Rishmawi mengatakan di dalam satu pernyataan pers bahwa HAMAS, yang telah menguasai Jalur Gaza sejak 2007, mesti menanggapi gagasan Presiden Palestina Mahmoud Abbas bagi perujukan, dengan menyerahkan kendali semua lembaga pemerintah di Jalur Gaza kepada PNA.

"HAMAS harus selalu mengingat kepentingan rakyat Palestina untuk jadi prioritas sebelum mencari kepentingan kelompoknya," kata Rishmawi, sebagaimana dikutip Xinhua, Senin pagi.

Ia menambahkan, "Apa yang terjadi di Jerusalem dan pada tempat suci kita mesti membuat kita semua bersatu."

Upaya penengahan Palestina, Arab dan internasional sepanjang dasawarsa ini telah gagal mengakhiri pertikaian antara HAMAS dan Partai Fatah, pimpinan Abbas, yang menguasai Tepi Barat Sungai Jordan.

Pada Jumat (21/7), Abbas menyeru HAMAS agar menanggapi seruannya bagi persatuan dengan melucuti Komite Administratif Jalur Gaza, membiar PNA mengoperasikan lembaga pemerintahan, lalu menyetujui tanggal khusus bagi penyelenggaraan pemilihan umum.

Komite pimpinan HAMAS mengoperasikan urusan dan layanan setiap hari untuk lebih dari dua juta orang Palestina di Jalur Gaza.

Sementara itu, HAMAS mengatakan di dalam satu siaran pers bahwa organisasi tersebut mengulurkan tangan kepada Fatah dan Abbas agar bersatu dan mengakhiri perpecahan internal sejalan dengan pemahaman dan kesepakatan terdahulu.

"HAMAS menyerukan kesepakatan mengenai satu strategi mendesak nasional untuk mempertahankan Masjid Al-Aqsha dan menghadapi pendudukan (oleh Israel) serta mempertahankan hak sah rakyat Palestina sampai berakhirnya pendudukan dan mendirikan negara kita," katanya.

Ketegangan antara Israel dan Palestina telah meningkat sejak 14 Juli, ketika Israel mendirikan pos pemeriksaan dan memasang alat pendeteksi logam di pintu masuk Kompleks Masjid Al-Aqsha setelah tiga pria bersenjata menembak hingga tewas dua polisi Israel di dekat lokasi tersebut. Ketiga orang itu belakangan tewas oleh polisi Israel.

Sejak itu, bentrokan telah berkecamuk antara pasukan keamanan Israel dan pemrotes Palestina di gerbang Kompleks Masjid Al-Aqsha dan tempat lain di Tepi Barat.

Dalam bentrokan selama protes besar pada Jumat, pasukan keamanan Israel menewaskan tiga orang Palestina dan melukai ratusan orang lagi.



Credit  antaranews.com