Senin, 22 Desember 2014

Apa Yang Sebenarnya Terjadi Dalam Tsunami 2004?


 Bildergalerie 10 Jahre Tsunami Indonesien



CB - Ahli geologi menyebut tsunami 2004 sebagai "gempa monster". Guncangan gempa berlangsung lebih lama dari biasanya. Disusul gunungan ombak yang menerjang pantai dengan kecepatan sangat tinggi.
Gelombang Tsunami Desember 2004 dicatat sebagai bencana alam terparah selama sejarah modern. "Sebuah peristiwa dengan dimensi tak terbayangkan, ditinjau dari aspek jumlah korban, maupun dari aspek geologis", tulis National Science Foundation (NSF), salah satu lembaga ilmiah paling bergengsi di Amerika Serikat.
Apa yang terjadi?
Gelombang raksasa terjadi setelah gempa bumi di bawah laut, sekitar 100 kilometer sebelah barat pantai Sumatra, pukul 07.59 waktu setempat. Pusat gempa ada pada kedalaman sekitar 30 kilometer di bawah dasar laut. Ada dua lempeng kontinental yang bertumbukan. Tekanan-tekanan hebat kemudian menyebabkan salah satu lempeng bergeser ke bawah lempeng yang lain. Itu yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, pada garis sepanjang 1000 kilometer. Ini peristiwa yang sangat jarang terjadi. Gempa bumi yang diakibatkan berlangsung sampai 10 menit. Biasanya, gempa semacam ini hanya berlangsung beberapa detik saja. Menurut berbagai perhitungan, kekuatan gempa saat itu mencapai 9,1 sampai 9,3 pada skala Richter, dan merupakan gempa terbesar kedua dalam 100 tahun terakhir. Tahun 1960, sebuah gempa bumi di Chile tercatat berkekuatan 9,5 skala Richter.
Mengapa muncul gelombang raksasa tsunami?
Salah satu lempeng kontinental bergeser naik sampai 15 meter, jadi bergerak vertikal. Itu merngakibatkan dasar laut di beberapa tempat bergerak naik sampai 10 meter. Hal itulah yang membuat permukaan laut di lokasi naik secara tiba-tiba. Air yang terdorong kemudian membentuk gelombang besar, yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi, secepat pesawat jet, dan bergerak ke arah pantai. Di daerah laut dalam, air yang bergerak cepat ini tidak terlalu terasa di permukaan. Tetapi menuju daerah pantai yang makin landai, gelombang akan bergulung makin tinggi. Di daerah pantai Sumatra, tinggi gelombang sudah mencapai sekitar 30 meter.
Bagaimana korban jiwa dan kerusakan akibat tsunami?
Di Samudra Hindia, dari Sumatra sampai Kepulauan Andaman, Thailand, India Selatan, Sri Lanka dan sebagian Afrika, ada sekitar 230.000 orang yang tewas di 14 negara. Kerusakan terparah terjadi di Sumatra, dengan sekitar 170.000 korban tewas. Semua bangunan di daerah pantai hancur, di beberapa tempat sampai jarak lima kilometer di darat. Jutaan orang kehilangan tempat tinggal.
Siapa saja yang punya kemungkinan selamat?
Turis yang sedang menyelam di tengah laut, merasakan arus air yang lebih kencang, tetapi mereka tidak mengalami apa-apa. Juga para nelayan yang sedang melaut, tidak merasakan akan ada gelombang raksasa. Penduduk yang bereaksi dengan cepat dan bisa melarikan diri ke tempat yang tinggi juga selamat. Orang-orang yang tingal di rumah tingkat, yang cukup tinggi dan cukup kuat menahan terjangan air serta barang-barang yang terseret bersama air, bisa selamat.
Apakah ada peringatan bagi penduduk?
Tidak ada pihak di kawasan bencana yang saat itu punya rencana darurat tsunami. Pusat peringatan tsunami Amerika Serikat yang ada di Hawaii ketika itu langsung menyadari, bahwa ada gempa bumi hebat dan ancaman munculnya gelombang raksasa yang dahsyat. Tapi mereka tidak tahu pihak-pihak mana yang harus dihubungi di kawasan bencana. Jadi mereka mengeluarkan peringatan secara umum.
Apa yang sudah dilakukan sejak bencana besar itu?
Sekarang sudah dibangun sistem peringatan dini tsunami di sepanjang perairan antara Indonesia dan Thailand. Setiap perubahan tinggi permukaan air diawasi selama 24 jam, dan ada peringatan otomatis jika terjadi perubahan mendadak. Pusat peringatan dini di Jakarta siap mengirimkan peringatan ke daerah-daerah di seluruh Indonesia. Dengan bantuan para ahli Jerman dari Pusat Penelitian Geologi di Potsdam, sistem peringatan dini tsunami berhasil difungsikan. Peringatan akan dikirim juga lewat SMS ke daerah-derah. Banyak hotel di kawasan pantai yang sekarang punya papan peringatan dan denah evakuasi jika ada ancaman tsunami.
Berapa besar resiko terjadinya tsunami di masa depan?
Tsunami tidak bisa diprediksi. Ketegangan antar lempeng yang bertumbukan selalu terjadi. Lempeng-lempeng kontinental di sebelah barat Sumatra sampai sekarang berada di bawah tekanan. Bulan April 2012, terjadi lagi gempa di bawah laut di kawasan ini yang berkekuatan 8,6 skala Richter. Tapi tidak terjadi gelombang tsunami yang besar dan luas. Mengapa? Karena lempengnya waktu itu bergerak secara horisontal.


Credit DW.de