Rabu, 28 Februari 2018

Intelijen AS Imbau Warganya Tidak Pakai Ponsel Huawei dan ZTT



Pusat data Utah dibangun untuk mendukung Comprehensive National Cybersecurity Initiative (CNCI) pemerintah Amerika Serikat. Komplek ini membutuhkan pasokan listrik sebesar 65 megawatt, sama dengan kebutuhan listri 33 ribu rumah. George Frey/Getty Images
Pusat data Utah dibangun untuk mendukung Comprehensive National Cybersecurity Initiative (CNCI) pemerintah Amerika Serikat. Komplek ini membutuhkan pasokan listrik sebesar 65 megawatt, sama dengan kebutuhan listri 33 ribu rumah. George Frey/Getty Images

CB, Jakarta - Direktur dari 6 badan intelijen utama Amerika Serikat mengimbau warga AS untuk tidak menggunakan produk atau layanan ponsel pintar dari perusahaan Cina, Huawei dan ZTT. Imbauan ini menyusul dugaan ponsel pintar produk perusahaan teknologi Cina itu memiliki perangkat yang mampu mencuri informasi tanpa terdeteksi.
Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI) Christopher Wray, Direktur Intelijen Pusat (CIA) Mike Pompeo, Direktur Intelijen Nasional (DNI) Dan Coats, Direktur Intelijen Pertahanan Robert Ashley, Direktur National Security Agency (NSA) Michael Rogers, dan National Direktur Badan Intelijen Geospasial Robert Cardillo, memberikan penjelasan soal ponsel Cina itu dalam rapat dengan Komite Intelijen Senat tentang "Ancaman Sedunia" di Capitol Hill, Washington, AS, pada 13 Februari 2018.

Dan, baru-baru ini keenamnya kembali menegaskan saran tersebut bahwa baik produk Huawei maupun ZTT tidak boleh digunakan oleh pekerja sektor publik dan siapa pun yang bekerja untuk, atau atas nama, lembaga negara. Bahkan keenamnya menyatakan tidak akan merekomendasikan kepada warga AS yang bekerja di sektor swasta untuk menggunakan produk tersebut.
"Ini adalah tantangan yang saya pikir akan terus meningkat. Anda perlu keras pada perusahaan seperti ini, "kata Kepala NSA, Michael Rogers, seperti dilansir Asia Correspondent pada 26 Februari 2018.

Direktur FBI Chris Wray menambahkan: "Kami sangat prihatin dengan resiko mengizinkan setiap perusahaan atau entitas yang terikat pada pemerintah asing yang tidak memiliki nilai saham untuk mendapatkan posisi berkuasa di dalam jaringan telekomunikasi kami."
Wray menambahkan, baik Huawei dan ZTT menyediakan perangkat untuk memodifikasi atau mencuri informasi.
Menanggapi klaim tersebut, Huawei mengatakan pemerintah AS saat ini berusaha untuk menghambat bisnis Huawei di pasarnya.

"Huawei dipercaya oleh pemerintah dan pelanggan di 170 negara di seluruh dunia dan tidak memiliki resiko cybersecurity yang lebih besar daripada vendor ICT manapun," demikian pernyataan Huawei.
Seperti banyak perusahaan Cina, Huawei telah membidik pasar luar negeri termasuk AS. Salah satu ponsel andalan Huawei, seperti Mate 10 Pro baru-baru ini dirilis di Las Vegas. Produk ini dianggap akan menjadi saingan berat iPhone Apple dan Google Pixel, tapi dengan harga yang lebih murah. Huawei Mate 10 Pro memiliki layar 6 inci dan dikirimkan dengan chip kecerdasan buatan Huawei yang disebut Kirin 970.




Credit  TEMPO.CO