Selasa, 27 Februari 2018

Jerman dan Perancis Tingkatkan Tekanan Terhadap Rusia atas Suriah


Jerman dan Perancis Tingkatkan Tekanan Terhadap Rusia atas Suriah
Jerman dan Perancis Tingkatkan Tekanan Terhadap Rusia atas Suriah. Reuters/B. Khabieh


Pemimpin Jerman dan Perancis mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin agar memberikan "tekanan maksimal" kepada Suriah, setelah ada laporan bahwa pemboman terus berlangsung di Ghouta sekalipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB untuk melakukan gencatan senjata segera.

"Sangat penting bahwa resolusi [DK PBB] diterapkan dengan cepat dan komprehensif," kata kantor Merkel hari Minggu (25/2).

Kantor kekanseliran di Berlin menerangkan, kedua pemimpin "meminta Rusia dalam konteks ini untuk memaksimalkan tekanan pada rezim Suriah agar segera menghentikan serangan udara dan pertempuran... terutama untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan dan evakuasi ke luar dari zona perang."

Merkel dan Macron berbicara langsung dengan Putin

Emmanuel Macron menambahkan, Perancis akan "mengawasi dengan teliti sampai resolusi yang disepakati DK PBB tidak dilupakan dan bahwa ada kemajuan nyata dan cepat menanggapi kebutuhan (kemanusiaan) untuk mengurangi penderitaan warga sipil."

Setelah Putin dihubungi langsung oleh Kanselir Jerman dan Presiden Perancis, Pemerintah Rusia mengeluarkan pernyataan dan menerangkan, bahwa ketiga pemerintahan sepakat untuk mempercepat "pertukaran informasi" tentang Suriah.

Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Rusia pada hari Jumat (23/2) turut mendukung gencatan senjata 30 hari untuk mengizinkan makanan dan bantuan medis yang sangat dibutuhkan masuk ke Ghouta timur, yang mengalami serangan hebat.

Serangan bom berlanjut meski ada gencatan senjata

Menurut kelompok Observasi Suriah untuk Hak Asasi Manusia, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang berbasis di Inggris, pesawat tempur militer Suriah yang didukung Rusia terus menyerang Ghouta timur setelah kesepakatan di DK PBB.

Kawasan Ghouta timur yang terletak di pinggiran Damaskus dikepung dan dibom selama beberapa pekan terakhir. Sedikitnya 520 warga sipil terbunuh dalam satu minggu terakhir dalam serangan beruntun itu.

SOHR telah mengatakan, 41 warga sipil tewas dalam serangan udara hari Sabtu (24/2), termasuk delapan anak. Tujuh orang lainnya meninggal pada hari Minggu (25/2).

Rusia membantah ikut ambil bagian dalam serangan dan pengeboman ke Ghouta timur akhir pekan ini.




Credit  sindonews.com