Selasa, 27 September 2016

Mengenal Puing Roket Falcon 9 yang Jatuh di Sumenep


Upperstage Falcon 9 berbahan bakar minyak tanah.
Mengenal Puing Roket Falcon 9 yang Jatuh di Sumenep

Benda diduga bekas roket Falcon 9 (Facebook/Thomas Djamaluddin)
CB – Terjawab sudah benda misterius yang jatuh di Sumenep, Madura awal pekan ini. Analisa dan data dari astronom Indonesia menunjukkan, benda yang jatuh tersebut merupakan bagian dari roket Falcon 9 milik perusahaan antariksa swasta, SpaceX.
Astronom amatir Muh Ma'rufin Sudibyo mengatakan, dari data yang ia dapatkan, roket bekas tersebut punya katalog benda terbang buatan manusia North American Aerospace Defence Command (NORAD) bernomor 41730. Dari nomor tersebut, diketahui identitasnya merupakan tubuh roket Falcon 9. Sementara benda yang jatuh di Sumenep merupakan bagian atas atau tingkat kedua (upperstage) roket Falcon 9 Full Thrust. Ma’rufin menjelaskan informasi dan fungsi upperstage tersebut.
"Sebelum diterbangkan, upperstage tersebut punya bobot mati empat ton dan sanggup mengangkut 107,5 ton bahan bakar," tulis Ma'rufin dalam blognya dikutip, Selasa, 27 September 2016.
Dia menjelaskan, bahan bakar upperstage tersebut yaitu minyak tanah (kerosene) yang diolah khusus sebagai Rocket Propellant-1 (RP-1). Sementara pengoksidnya yaitu oksigen cair.
Sedangkan dari sisi desain, tabung bakar maupun pengoksid punya bentuk khas, yaitu silinder tabung dengan kedua ujungnya berupa setengah bola. Upperstage itu dibuat dari bahan komposit yang diselubungi lapisan antiapi. Tak heran SpaceX menamakannya dengan Composite Overwrapped Pressure Vessel (COPV).
"Tabung inilah yang ditemukan dalam peristiwa Sumenep," jelas Ma'rufin.
Dia mengatakan, yakin sekali upperstage yang masuk kembali ke atmosfer Bumi di atas Pulau Madura telah terkikis nyaris habis oleh tekanan sangat tinggi saat menembus atmosfer. Kondisi itu, kata dia, seperti yang dialami oleh meteoroid dari langit yang masuk ke area Bumi. Gesekan dengan atmosfer itu membuat objek yang akhirnya mendapat di Bumi hanya sebagian kecil dari yang ada sebelum masuk atmosfer Bumi.
"Seperti meteoroid, masuknya kembali roket bekas bernomor 41730 pun menghempaskan gelombang kejut dan dentuman sonik yang terdengar di paras Bumi sebagai suara menggelegar," kata dia.
Ma’rufin menjelaskan, jatuhnya upperstage Falcon 9 itu ke daratan terbilang tidak begitu berisiko dibanding masuknya sampah antariksa lain. Sebab, kata dia, dengan berbahan bakar kerosene maka roket bekas itu lebih ramah lingkungan dan tak bersifat racun, bila dibandingkan dengan Hydrazine, senyawa anorganik beracun, yang menjadi sumber tenaga utama upperstage roket-roket klasik.
Meski upperstage Falcon 9 aman, namun Ma'rufin menegaskan, peristiwa Sumenep itu menjadi peringatan serius persoalan sampah antariksa. Dia mencatat saat ini tak kurang dari 16 ribu buah sampah antariksa dengan diameter lebih dari 10 sentimeter melayang-layang di orbit.
"Total massa seluruhnya mencapai tak kurang dari 62 ribu ton. Dan hingga kini bagaimana solusi mengatasi persoalan ini belum kunjung dijumpai," jelas dia.
Bekas roket Falcon 9 yang jatuh di Sumenep, Madura






Credit  VIVA.co.id


Benda Misterius Jatuh di Sumenep Diduga Puing Roket Falcon 9

Roket Falcon 9 mengorbitkan satelit JCSAT 16 pada 14 Agustus 2016.
Benda Misterius Jatuh di Sumenep Diduga Puing Roket Falcon 9
Benda diduga bekas roket Falcon 9 (Facebook/Thomas Djamaluddin)
CB – Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, mengungkapkan benda misterius yang jatuh di wilayah Sumenep, Madura, Jawa Timur, kemarin. Objek benda jatuh dari langit itu, yang berwarna kehitaman seperti bekas terbakar, ramai dibahas oleh netizen dan media massa.
Melalui akun Facebook-nya, Thomas menceritakan dengan detail perihal jatuhnya objek benda jatuh dari langit itu, hingga mengungkapkan asal benda misterius tersebut.
"Saya kemudian memeriksa benda jatuh antariksa yang diprakirakan jatuh hari ini (Senin, 26 September). ada dua obyek yang diprakirakan jatuh kebetulan melintas (di) Madura," ucap Thomas.
Objek yang pertama berasal dari bekas roket Delta 2 PAM-D yang melintas pukul 06.27 WIB  dan objek yang kedua merupakan dari bekas roket Falcon 9 kepunyaan SpaceX, yang melintas pada pukul 09.21 WIB.
Mengacu pada laporan media, Thomas mengatakan, kejadian objek benda jatuh di Sumenep itu terjadi sekitar pukul 09.00-10.00 WIB. Melihat waktu yang bersamaan itu, Thomas menduga kuat benda yang jatuh di Sumenep itu berasal dari sisa puing roket Falcon 9.
"Maka dugaan kuat objek tersebut adalah sisa roket Falcon 9 tingkat 2. Roket Falcon 9 itu milik SpaceX, Amerika Serikat, yang telah digunakan mengorbitkan satelit JCSAT 16 pada 14 Agustus 2016," tutur profesor riset astronomi ini.
Thomas mengatakan, sampat saat ini, Lapan telah menerima dan menyimpan tiga objek sampah antariksa yang jatuh di Indonesia. Pertama, 1981 dari Gorontalo yang merupakan bekas tabung bahan bakar roket Rusia. Kedua, 1988 dari Lampung yang merupakan bekas bahan bakar roket Rusia juga. Dan, ketiga, pada 2003 pecahan roket RRT yang jatuh di Bengkulu.
Perkiraan lintasan roket Falcon 9
Sebelumnya benda mencurigakan jatuh di Kepulauan Giliraja, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, pada Senin 26 September 2016. Warga menduga benda itu adalah serpihan pesawat milik maskapai Lion Air.
Seorang warga, Muhammad mengatakan bahwa benda itu terjatuh di perairan Giliraja. Para nelayan yang curiga segera mengambil benda itu dari laut dan membawanya ke daratan.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat PT Lion Air, Andi M. Saladdin dan Kepada Badan SAR Nasional Surabaya, Arifin membantah informasi yang benda tersebut bagian dari pesawat Lion Air yang jatuh.

Credit  VIVA.co.id


Penyebab Puing Roket Falcon 9 Jatuh ke Sumenep

Puing tersebut merupakan bagian atas dari roket Falcon 9.
Penyebab Puing Roket Falcon 9 Jatuh ke Sumenep

Benda mencurigakan jatuh di Kepulauan Giliraja, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, pada Senin 26 September 2016. (IST)
CB – Benda asing yang jatuh di Sumenep, Madura, Jawa Timur, Senin 26 September 2016, diduga kuat merupakan bagian dari roket Falcon 9. Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin mengatakan dari perkiraan waktu jatuhnya benda tersebut, berbarengan dengan bekas roket Falcon 9 yang melintasi Sumenep.
Thomas menuliskan, roket bekas Falcon 9 melintas pada pukul 09.21 WIB, sedangkan benda yang jatuh di Sumenep terjadi kemarin pada pukul 09.00-10.00 WIB.
Sementara analisis dari astronom amatir, Muh Ma'rufin Sudibyo mengungkapkan dari data yang didapatkan, pada Senin 26 September 2016 pukul 09.21 WIB, roket bekas itu melintas di atas Pulau Madura, yang memiliki katalog NORAD (North American Aerospace Defence Command) bernomor 41730.
"Identitasnya adalah Falcon 9 R/B (rocket body), yakni upperstage (tingkat kedua) roket Falcon 9 Full Thrust milik perusahaan inovatif SpaceX yang ditujukan untuk mengorbitkan satelit komunikasi JCSAT-16 (Jepang)" tulis Ma'rufin dalam blognya dikutip Selasa, 27 September 2016.
Tingkat kedua roket Falcon 9 itu memang telah sukses mengantarkan Satelit JCSAT-16 ke orbit geostasioner. Ma'rufin menjelaskan, usai menjalankan tugasnya, tingkat kedua Falcon 9 itu menjadi sampah antariksa dengan nomor 41730.
Dia mengatakan, sebenarnya roket bekas bernomor 41730 telah diprediksi akan jatuh kembali ke Bumi pada akhir bulan ini. Sejak selesai menempatkan satelit Jepang itu, roket bekas itu kecepatannya melambat akibat bergesekan dengan atmosfer Bumi.
Gesekan tersebut mengakibatkan orbit lonjong roket bekas itu berubah dinamis, yaitu titik terdekat ke paras Bumi (perigee) dan titik terjauh ke paras Bumi (apogee) roket bekas tersebut kian berkurang.
Ma’rufin mengatakan berdasarkan perhitungan dari astronom amatir, Josep Remis, menyebutkan roket bekas ini bakal jatuh pada 26 September 2016 pukul 09.10 WIB dengan catatan plus minus 4 jam.
Ma'rufin menuliskan, dari analisa dinamika orbit roket bekas tersebut, menunjukkan benda itu mengalami perubahan orbit cukup radikal sepanjang lima hari terakhir sebelum jatuh ke Bumi.
Dia menuliskan, pada 17 Agustus 2016, roket bekas tersebut punya orbit lonjong dengan perigee 184 kilometer dan apogee 35.912 kilometer, maka pada 20 September 2016, orbitnya berubah dramatis dari 96 kilometer (perigee) x 6448 kilometer (apogee).
"Dan lima hari kemudian orbitnya kembali berubah dramatis menjadi 105 kilometer (perigee) x 1145 kilometer (apogee)" tulis Ma'rufin.
Dinamika orbit tersebut membuat periode orbital roket bekas 41730 menjadi berkurang, dari 163 menit pada 20 September 3026 menjadi 97 menit lima hari kemudian. Dinamika itu, tulis Ma'rufin, menandakan roket bekas Falcon 9 akan segera jatuh ke Bumi.
"Dengan semua informasi tersebut, hampir dapat dipastikan bahwa peristiwa Sumenep merupakan akibat dari jatuhnya, atau tepatnya, kembali masuknya (re-entry) roket bekas bernomor 41730 yang adalah upperstage Falcon 9 Full Thrust penerbangan 28," kata dia.


Credit  VIVA.co.id