Rabu, 28 September 2016

Bangun PLTU di Bawah 100 MW Wajib Pakai Komponen Lokal


Bangun PLTU di Bawah 100 MW Wajib Pakai Komponen Lokal
Ilustrasi (Foto: Agung Pambudhy)

Jakarta - Pemerintah bersama PT PLN persero mencanangkan program PLTU Nasional untuk meningkatkan pemanfaatan tingkat kandungan dalam negeri di atas 50%. PLTU Nasional akan menggunakan bahan bakar kalori rendah dan dibangun menggunakan produk buatan industri dalam negeri.

Pencanangan dilakukan langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) saat menghadiri Hari Listrik Nasional di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (28/9/2016). JK didampingi oleh Menteri BUMN Rini Soemarno dan Direktur Utama PLN Sofyan Basir.

Dirjen Ketenagalistrikan Jarman menjelaskan bahwa program ini ditujukan untuk kapasitas di bawah 100 mega watt (MW). Sehingga bisa mendorong peningkatan pertumbuhan industri di dalam negeri.

"Artinya, untuk 100 mw ke bawah kita pakai komponen lokal. Jadi kalau ada perusahaan mau bangun untuk produksi 100 mw bisa," ujarnya pada kesempatan yang sama.

Jarman tidak menjelaskan target secara spesifik. Akan tetapi memang diharapkan sebanyak mungkin penggunaan komponen lokal dalam pembangunan pembangkit listrik.

"Ya kalau bisa makin banyak makin banyak. Kita harapkan banyak yg pakau komponen lokal makin baik. Parameter ada di Kemenperin. Kalau bisa lebih dari itu," terangnya.

Saat ini terdapat 201 unit PLTU skala kecil dan menengah yang terdiri dari 30 unit PLTU 100 MW, 37 Unit PLTU 50 MW, 37 Unit PLTU 25 MW dan 72 Unit PLTU di bawah 25 MW dengan kapasitas total 6.550 MW. Pembangunan PLTU skala kecil dan menengah ini membutuhkan dana investasi lebih dari Rp 150 Trilyun.

Berdasarkan data yang dimiliki PLN yang mengacu pada kementerian perindustrian terkait kemampuan pabrikan dan kontraktor dalam negeri, hampir seluruh komponen pembangkit tersebut dapat dibuat dalam negeri, hanya beberapa komponen yang masih harus di impor yaitu generator dan turbin.

Bila 50% dari pembangkit skala menengah dan kecil tersebut dibuat di dalam negeri, secara langsung akan menghidupkan lebih dari 14 perusahaan BUMN Strategis yang sebelumnya memiliki utilitas rendah dan lebih dari 190 perusahaan swasta.

"Bayangkan, jika 50% saja pembangkit skala menengah dan kecil menggunakan tingkat kandungan dalam negeri sudah bisa menghidupkan lebih dari 200 perusahaan BUMN dan Swasta, berapa besar pertumbuhan ekonomi secara langsung yang dihasilkan dari program PLTU Nasional ini," kata Direktur pengadaan PLN Supangkat Iwan Santoso pada kesempatan yang sama.

Rencananya PLTU Nasional pertama yang akan dibangun, adalah PLTU Madura dan PLTU Tarahan masing-masing kapasitas 2 x 100 MW serta PLTU Boroko berkapasitas 2 x 50 MW di Sulawesi Utara.

"PLN berharap dengan pemakaian TKDN yang tinggi pada PLTU Nasional akan berdampak langsung bagi perekonomian sejak pertama pembangunannya," tukasnya.




Credit  detikFinance