Selasa, 27 September 2016

Sosok Falcon 9, Roket yang Puingnya Diduga Jatuh di Sumenep

 
 
SpaceX Falcon 9
 
  CB - Falcon 9, roket yang salah satu bagiannya diduga jatuh di Sumenep pada Senin (26/9/2016), bukan roket biasa. Peluncur tersebut merupakan salah satu yang paling diperhitungkan saat ini dan berhasil mencetak sejumlah rekor. Seperti apa sebenarnya Falcon 9?

Roket itu dikembangkan oleh SpaceX, perusaan teknologi antariksa yang didirikan oleh Elon Musk. Sang pendiri sendiri merupakan seorang visioner yang menaruh perhatian pada pemanasan global dan keberlanjutan energi. Ia juga ada di balik Tesla Motor dan SolarCity.

Sejauh ini, telah ada tiga versi dari Falcon 9. Versi pertama (Falcon 9 v 1.0) dan versi kedua (Falcon 9 v1.1) kini telah pensiun. Versi yang sekarang dipakai adalah Falcon 9 Full Thrust.

Dari situs SpaceX, terungkap bahwa Falcon 9 telah meluncurkan satelit atau muatan sejak tahun 2010. Falcon 9 mencetak sejarah ketika meluncurkan kargo Dragon ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada tahun 2012. Saat itu, Falcon 9 menjadi satu-satunya roket buatan perusahaan komersial yang mencapai ISS.

Falcon 9 juga istimewa sebagai roket dua tingkat. Tingkat pertamanya akan meluncurkan muatan hingga ketinggian 150 - 300 kilometer, bisa mendarat kembali di bumi, dan digunakan untuk peluncuran berikutnya. Dengan demikian, Falcon 9 bersifat reusable.

Falcon telah berhasil mendarat beberapa kali. Falcon 9 Full Thrust berhasil mendarat pertama kali di landasan pendaratan di Florida pada 21 Desember 2015 usai peluncuran satelit OG-2. SpaceX mengajukan aplikasi ke Federal Aviation Administration (FAA) untuk melakukan percobaan pendaratan dan berhasil mendarat.

Dikutip dari Space Flight Now, pada 8 April 2016, Falcon 9 berhasil mendarat pada kapal tanpa awak. Ujicoba tersebut dilakukan untuk menguji kemampuan mendarat di benda yang mengapung. Pada 6 Mei 2016, Falcon 9 untuk pertama kalinya bisa mendarat dari misi mengirim satelit JCSAT-14 milik Jepang ke orbit geostasioner.

Versi terbaru Falcon 9 punya ukuran tinggi 70 meter dan diameter 3,66 meter. Falcon Full Thrust mampu mengirim muatan seberat 22.800 kilogram ke orbit rendah bumi, dan 8.300 kilometer ke orbit geostasioner. Sementara, bila manusia merancang misi ke Mars, Falcon 9 bisa mendukung pelunciuran muatan seberat hingga 4.020 kilogram.

Versi Full Thrust memiliki daya 30 persen lebih besar. Di samping itu, bahan bakarnya berupa oksigen cair bersuhu minus 207 derajat Celsius dan minyak tanah untuk rocket propellant (RP-1) yang didinginkan hingga suhu minus 7 derajat Celsius. Suhu dingin memungkinan tangki memuat bahan bakar lebih banyak.

Mencetak rekor, Falcon 9 bukan berarti pernah gagal. Saat meluncurkan satelit komunikasi Israel Amos-6 pada 1 September 2016 lalu, Falcon 9 meledak. saat ini, SpaceX masih menyelidiki sebab ledakan tetapi diduga dipicu helium.

Apakah pecahan yang jatuh di Madura berasal dari misi Falcon 9 yang gagal itu? Menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, kepada Kompas.com, Senin (26/9/2016), mengatakan obyek yang jatuh adalah obyek 41730, tingkat kedua Falcon 9 yang membantu peluncuran satelit JCSAT-16 pada 14 agustus 2015 lalu.

Bagaimana bisa jatuh? Lain dengan tingkat pertama, tingkat kedua Falcon 9 dibiarkan tetap melayan di orbit Bumi dan jatuh dengan sendirinya. Saat melayang, ketinggian orbit makin rendah hingga pada akhirnya jatuh ke permukaan bumi.

Falcon Heavy, versi yang tengah dikembangkan SpaceX, nantinya akan menjadi roket paling maju. Roket itu bisa meluncurkan muatan setara dengan Boeing 747 jetliner berikut penumpang, bahan bakar, dan barang-barangnya, dengan harga lebih murah. Falcon 9 menjadi harapan bagi misi antariksa yang lebih efisein.



Credit  KOMPAS.com


Astronom Ungkap Alasan di Balik Dugaan Jatuhnya Puing Roket Falcon 9 di Sumenep

 
Thomas Djamaluddin Lintasan Falcon 9 pada Senin (26/9/2016)
 
CB — Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyatakan bahwa benda misterius yang jatuh di Sumenep, Madura, pada Senin (26/9/2016), mungkin merupakan sampah antariksa.
Diduga kuat, obyek yang jatuh itu adalah puing roket Falcon 9 yang bertugas mengantar satelit JCSAT-16 ke antariksa pada 14 Agustus 2016.

Analisis lebih lanjut oleh Lapan dan astronom amatir Ma'rufin Sudibyo mengungkap sejumlah faktor yang semakin menguatkan dugaan tersebut.
Thomas mengatakan, obyek yang jatuh dalam katalog sampah antariksa yang dikembangkan North American Aerospace Defence Command (Norad) mempunyai nomor 41730. Obyek dengan nomor tersebut melintasi wilayah sekitar Madura, Senin sekitar pukul 09.21 WIB.
Sementara itu, Marufin menyebut bahwa berdasarkan perhitungan Joseph Remis, puing Falcon 9 akan jatuh pada 26 September 2016 pukul 09.10 WIB plus minus 4 jam.
Melihat waktu jatuhnya obyek misterius di Sumenep, fakta bahwa obyek 41730 melintas sekitar Madura, serta prediksi jatuh yang berdekatan, maka besar kemungkinan benda yang jatuh memang sampah dari Falcon 9.
Ma'rufin menambahkan, faktor ketinggian orbit obyek 41730 yang semakin lama semakin rendah.
Pada 17 Agustus 2016, orbitnya 184 km x 35.912 km (baca: orbit lonjong dengan titik terdekat 184 km dan titik terjauh 35.912 km). Sementara itu, pada 20 September 2016 TU lalu orbitnya sudah berubah dramatis menjadi 96 km x 6.448 km.
"Lima hari kemudian orbitnya berubah dramatis kembali menjadi 105 km x 1.145 km. Semua ini merupakan pertanda bahwa roket bekas itu akan segera jatuh kembali ke Bumi," kata Ma'rufin dalam tulisan yang diunggah di blognya, Selasa (27/9/2016) dini hari.
Lantas, bagian Falcon 9 manakah yang mungkin jatuh di Sumenep? Menurut Thomas, benda misterius yang jatuh diduga tingkat dua Falcon 9.
Falcon 9 merupakan roket dua tingkat. Saat membantu sebuah peluncuran satelit, tingkat pertama roket akan mendorong muatan ke ketinggian 150 - 300 kilometer dari permukaan bumi. Pada roket kontemporer, tingkat pertama ini akan kembali lagi mendarat di bumi dan bisa digunakan untuk peluncuran satelit lainnya.

Sementara itu, tingkat dua roket atau upperstage akan mengantarkan muatan ke ketinggian orbit, sekitar 35.000 kilometer dari permukaan bumi. Bagian roket itu tidak akan mendarat kembali ke bumi, tetapi tertinggal sebagai sampah antariksa.
Tingkat dua roket terdiri dari bahan bakar cair berupa minyak tanah yang diolah khusus sebagai Rocket Propellant-1 (RP-1). "Jadi yang jatuh di Sumenep diduga tangki bahan bakar dari roket," katanya.

Sebagian tangki bahan bakar mungkin telah terbakar saat memasuki atmosfer. Bagian yang jatuh mungkin terbuat dari material komposit sehingga lebih tahan saat bergesekan dengan atmosfer. "Mungkin komposit yang lebih kuat, hanya sejenis dengan komposit karbon," kata Thomas.

Dari foto, benda misterius yang jatuh di Sumenep sangat mirip dengan tangki bahan bakar Falcon 9. Namun, Thomas mengatakan, pihaknya masih perlu menganalisis untuk memastikan. Saat ini, pemeriksa dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) ditugaskan untuk mengamankan benda tersebut untuk dianalisis.




Credit  KOMPAS.com