Selasa, 27 September 2016

Rusia Kecam Pernyataan Inggris Soal Konflik Suriah


 
Rusia Kecam Pernyataan Inggris Soal Konflik Suriah
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova melemparkan serangan balik terhadap Menteri Luar Negeri Inggris, Borish Johnson. (Reuters)
 
MOSKOW -
Moskow mengaku geram dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Borish Johnson soal Suriah. Johnson mengatakan, Rusia adalah penyebab semakin kacaunya konflik yang terjadi di Suriah.

Menurut Johnson, kehadiran Rusia di Suriah membuat perang di negara tersebut semakin bertambah buruk, dan semakin lama berlangsung, yang membuat situasi di Suriah kian tidak menentu.

Johnson bahkan menyebut apa yang dilakukan Rusia di Suriah bisa masuk dalam kategori kejahatan perang. Sama halnya dengan Amerika Serikat (AS), Inggris juga percaya bahwa Rusia adalah pihak yang melakukan serangan terhadap warga sipil di Aleppo.

Menanggapi hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova melemparkan serangan balik terhadap Negeri Tiga Singa itu. Dia menyebut Inggris tidak berkaca pada apa yang mereka lakukan di Irak.

"Semua dalam pernyataan itu benar, kecuali dua kata, orang-orang harus menempatkan Inggris bukan Rusia, dan Irak bukan Suriah," kata Zakharova dalam pernyataan yang dia unggah di laman Facebooknya, seperti dilansir Russia Today pada Senin (26/9).

Bersama dengan AS, Inggris telah melakukan serangan besar-besaran terhadap Irak untuk menggulingkan Saddam Hussein. Ribuan warga sipil tewas dalam operasi yang kemudian diketahui dilakukan secara serampangan.

Pemerintah Inggris telah mengakui bahwa apa yang mereka lalukan di Irak adalah sebuah kesalahan. Dimana, berdasarkan hasil investigasi diketahui bahwa operasi itu tidak memiliki dasar hukum dan tidak direncanakan dengan matang.

Dalam Laporan hasil investigasi itu Inggris disebut telah bergabung dalam invasi tanpa mengedepankan pilihan damai, telah meremehkan konsekuensi dari invasi, dan perencanaan atas operasi itu sepenuhnya tidak memadai.



Credit  Sindonews