Jumat, 30 September 2016

Kebocoran Radiasi Nuklir Skala Besar di Jepang

 Setelah krisis nuklir Fukushima, opini penolakan penggunaan energi nuklir di Jepang kian berkembang
Setelah krisis nuklir Fukushima, opini penolakan penggunaan energi nuklir di Jepang kian berkembang
 
CB-- Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Tokaimura, Jepang mengalami kebocoran radiasi nuklir dosis besar pada 30 September 1999. Insiden ini merupakan salah satu kecelakaan nuklir terburuk di Jepang yang disebabkan karena kesalahan teknis.

Dilansir dari History, PLTN Tokaimura terletak 87 mil dari Tokyo, berfungsi memberikan pasokan listrik ke banyak wilayah di sekitarnya. Saat kecelakaan terjadi, petugas PLTN membuat kesalahan ketika sedang mencampurkan uranium.

Alih-alih menuangkan 2,2 Kg uranium bubuk ke dalam asam nitrat, petugas justru menuangkan 15,8 Kg uranium, tujuh kali lebih banyak dari seharusnya. Reaksi berantai yang disebabkan oleh sinar gamma dan neutron langsung membanjiri ruang pemurnian.

Tim darurat PLTN terpaksa mencari bantuan dari luar, karena mereka tidak bisa mengatasi kebocoran reaksi itu sendiri. Sebagai tindakan pencegahan, kereta api dan akses menuju dan dari Tokaimura diblokir.

Lebih parahnya, para pekerja pabrik lupa mematikan sistem ventilasi sehingga radiasi secara tidak sengaja bocor ke udara dan mencapai kota-kota terdekat. Tokyo Electric Power Company kemudian membawa 900 pon natrium borat untuk menyerap radiasi.

Akan tetapi mereka kesulitan menemukan cara aman mendekati sumber radiasi. Akhirnya, beberapa jam kemudian, mereka menyemprotkan natrium borat dengan menggunakan selang ke sumber radiasi.

Hisashi Ouchi, seorang petugas pabrik, meninggal dunia setelah menghabiskan dua pekan di rumah sakit dalam keadaan koma. Sebanyak 49 orang lainnya terkena radiasi yang cukup banyak yang membuat mereka sakit parah.

Selain itu, 33 ribu orang yang tinggal di dekat pabrik itu harus diungsikan selama beberapa hari.




Credit  REPUBLIKA.CO.ID