Selasa, 27 September 2016

Setelah Setahun Lebih, Dolar AS Akhirnya Lengser dari Rp 13.000


Setelah Setahun Lebih, Dolar AS Akhirnya Lengser dari Rp 13.000


Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) bertahan cukup lama di kisaran Rp 13.000 sepanjang tahun ini. Bahkan sempat mendaki ke titik tertingginya di 13.960 tahun ini.

Bayangkan, dari titik tertingginya itu di awal 2016, kini mata uang Paman Sam jatuh ke kisaran Rp 12.945. Rentang yang cukup dalam.

Seperti dikutip dari data perdagangan Reuters, Selasa (27/9/2016), butuh waktu lebih dari satu tahun untuk The Greenback kembali bergerak di bawah Rp 13.000. Pertama kali dolar AS tembus Rp 13.000 pada 6 Mei 2015.

Sejak saat itu, dolar AS pernah mencapai posisi paling tinggi di Rp 14.705 pada 28 September 2015. Penguatan dolar AS ini sejalan dengan naiknya suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada waktu itu.

Setelah naik tinggi dalam satu tahun terakhir ini, dolar AS akhirnya lengser juga dari Rp 13.000. Penguatan rupiah terjadi berkat program pengampunan pajak alias tax amnesty yang dicanangkan pemerintah.

Berkat program ini, dana-dana WNI yang disimpan di luar negeri bisa pulang kampung sehingga membuat Indonesia banjir likuiditas.


Credit  detikFinance
 

Tax Amnesty Bikin Dolar AS Keok ke Rp 12.936

 


Jakarta - Dolar Amerika Serikat (AS) lengser dari posisi Rp 13.000. Mata uang Paman Sam tersebut siang ini bertengger di level Rp 12.936. Program pengampunan pajak atau tax amnesty rupanya sukses membuat mata uang Garuda menguat terhadap dolar AS.

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) David Sumual mengungkapkan, tingginya dana repatriasi tax amnesty yang masuk ke dalam negeri cukup membuat rupiah perkasa.

Menurut data statistik tax amnesty di http://pajak.go.id/statistik-amnesti hingga pukul 22.30, Senin (26/9/2016), deklarasi harta mendekati Rp 2.000 triliun, tepatnya Rp 1.939 triliun. Dari total deklarasi harta yang masuk, sebanyak Rp 98,7 triliun direpatriasi alias dibawa kembali ke Indonesia.

"Ini kan memang karena ada repatriasi Rp 100 triliun, ini membuat rupiah positif. Apalagi deadline periode pertama kan September jadi masih akan banyak yang masuk," ujarnya kepada detikFinance, Selasa (27/9/2016).

David menjelaskan, selain dari program tax amnesty, penguatan rupiah juga didorong oleh kuatnya fundamental ekonomi Indonesia, di mana angka inflasi tetap terjaga di level yang baik.

"Fundamental ekonomi kita juga baik, inflasi rendah, yield turun jadi banyak yang masuk ke aset rupiah," ucap dia.

Sementara dari sisi global, David menjelaskan, penundaan kenaikan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) cukup ampuh menekan dolar AS.

"Data-data AS nggak begitu baik, penundaan suku bunga Fed membuat dolar AS turun, semalam rilis data penjualan perumahan AS turun, bursanya turun, nanti malam juga akan ada rilis PDB AS, kalau jelek, dolar turun lagi, perkiraan kita sih PDB AS masih stagnan," pungkasnya.





Credit  detikFinance

Dolar AS September Tahun Lalu Rp 14.700, Sekarang Rp 12.900



Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) hari ini lengser dari kisaran Rp 13.000. Setahun lebih mata uang Paman Sam bertengger di level tersebut.

Seperti dikutip dari data perdagangan Reuters, Selasa (27/9/2016), dolar AS pagi tadi sudah melemah ke Rp 13.025 dibandingkan posisi sore kemarin di Rp 13.033.

Perlahan tapi pasti, The Greenback terus bergerak turun dan meninggalkan level Rp 13.000 dan menembus level terendahnya hari ini di Rp 12.936.

Pada September tahun lalu, dolar AS berada di posisi puncak dengan nilai tukar Rp 14.730, tepatnya pada 29 September 2015. Penguatan dolar AS ini sejalan dengan naiknya suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada waktu itu.

Jika membandingkan posisi tertinggi tahun lalu pada periode 29 September 2015 ke 27 September 2016 maka dolar AS sudah turun 12,2% dalam waktu satu tahun.




Credit  detikFinance