Kamis, 09 Mei 2019

India Berencana Beli Bom Penghancur Bunker Buatan Israel


India Berencana Beli Bom Penghancur Bunker Buatan Israel
Angkatan Udara India berencana untuk membeli bom penghancur bunker buatan Israel. Foto/Ilustrasi/Istimewa

NEW DELHI - Angkatan Udara India (IAF) berencana untuk membeli bom penghancur bunker Israel, Bunker Buster, versi Spice-2000 bombs. Bom penghancur bunker tersebut produksi dari Rafael Advanced Defence Systems Israel.

Bom canggih itu dapat sepenuhnya menghancurkan bangunan dan bunker dibandingkan dengan yang digunakan dalam serangan Balakot, versi penetrator, yang membuat lubang di atap beton bangunan menggunakan beratnya tanpa menyebabkang banyak kerusakan pada struktur itu sendiri. Sebaliknya, mereka meledak di dalam, membunuh orang-rang dengan kombinasi 70-80 kg bahan peledak dan pecahan peluru.

"IAF sekarang berencana untuk mengakuisisi bunker buster atau versi perusak bangunan dengan hulu ledak Mark 84 yang dapat memusnahkan bangunan yang ditargetkan," lapor kantor berita India, ANI, mengutip sumber-sumber pemerintah seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (9/5/2019).

Laporan itu mengutip seorang pejabat pemerintah yang mengatakan bahwa pengadaan akan dilakukan di bawah kekuasaan darurat yang telah diberikan kepada militer untuk memperoleh peralatan pilihan mereka senilai hingga USD45 juta untuk mempersiapkan diri dalam pertempuran.

Sebelumnya, dilaporkan juga bahwa IAF akan melengkapi pesawat tempur Su-30MKI dengan bom Spice. Dalam dokumen yang diserahkan kepada pemerintah, IAF telah mengklaim bahwa telah terbukti bahwa selama operasi Balakot, 80% dari bom mereka mencapai target.

Bom SPICE (Smart, Precise Impact, Cost-Effective) adalah alat panduan EO/GPS untuk mengubah bom yang dijatuhkan dari udara yang tidak terarah menjadi bom yang dipandu dengan presisi. Spice-2000 mengkonversi bom 2000lb seperti MK-84, BLU-109, RAP-2000, dan lainnya menjadi bom stand-off.

IAF mengakuisisi sejumlah bom panduan presisi Spice-2000 yang tidak diungkapkan dengan peningkatan akurasi dan penetrasi untuk digunakan terhadap pusat-pusat komando yang dibentengi dan di bawah tanah. 




Credit  sindonews.com