Senin, 04 Juni 2018

Duterte Balas Kritik Pakar HAM PBB: Pergi Saja ke Neraka


Duterte Balas Kritik Pakar HAM PBB: Pergi Saja ke Neraka
Presiden Filipina Rodrigo Duterte membalas kritikan pakar PBB soal HAM karena menggertak hakim agung yang mengkritik kebijakan 'perang' anti-narkoba. (REUTERS/Erik De Castro)



Jakarta, CB-- Presiden Filipina Rodrigo Duterte membalas kritikan yang sempat diberikan oleh pakar hak asasi manusia PBB, Diego Garcia-Sayan. Kritikan itu dialamatkan ke Duterte karena sempat menggertak hakim agung negara tersebut.

Diego Garcia-Sayan yang merupakan pelapor khusus tentang independensi hakim dan pengacara sebelumnya mengatakan penyataan Presiden Filipina kepada mantan hakim agung Maria Lourdes dinilai sebagai "serangan ganas" di peradilan.

Rekan-rekan Sereno memutuskan untuk mengeluarkannya pada bulan lalu, tak lama usai Duterte secara terbuka menyebut wanita itu "musuh" dan menuntut pemecatannya dengan cepat.




"Beri tahu dia [Garcia-Sayan] jangan ikut campur atas urusan di negara saya. Dia pergi saja ke neraka," kata Duterte di hadapan awak media di Manila.

"Dia [Garcia-Sayan] bukan orang penting dan saya tidak kenal jabatan khusus yang ia sandang," lanjut Duterte.

Duterte juga bersikeras tidak memiliki keterkaitan dengan pemecatan Sereno.

Presiden 73 tahun tersebut telah menjalankan 'perang' secara terbuka terhadap para bandar narkoba di seluruh penjuru negeri itu sejak 2016.

Sejumlah penentang kebijakan Duterte pun telah dipecat, dihukum, atau diancam.



Polisi mengatakan pihaknya telah membunuh 4.279 pelaku pengedaran narkoba dalam kampanye anti-narkoba yang mereka jalankan.

Namun pihak aktivis hak asasi manusia menilai angka yang sesungguhnya terjadi adalah tiga kali lipat lebih besar dari yang dilaporkan pemerintah.

Sereno adalah salah satu hakim yang mendukung hak asasi manusia dan pengkritik terhadap kebijakan Duterte 'membantai' para pelaku yang terlibat narkoba. Kritikan tersebut membuat Duterte geram dan melontarkan 'ancaman'.

Pakar PBB soal HAM, Diego Garcia-Sayan mengatakan pada Jumat (1/6) lalu bahwa ancaman terbuka Presiden Rodrigo Duterte kepada Sereno menimbulkan 'dampak menakutkan' pada kolega hakim tersebut di peradilan.

"Penggunaan bahasa yang menghina seperti itu, mengirimkan pesan jelas kepada seluruh hakim di Filipina: dalam perang narkoba ini, pilihanmu adalah di sisi saya atau jadi musuh saya." kata Garcia-Sayan.




Credit  cnnindonesia.com