Jumat, 08 Juni 2018

Bill Clinton Mengaku Menyesal Gagal Akhiri Program Rudal Korut


Bill Clinton Mengaku Menyesal Gagal Akhiri Program Rudal Korut
Mantan Presiden AS Bill Clinton mengaku menyesal karena gagal mengakhiri program nuklir Korut. Foto/Istimewa


WASHINGTON - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton mengatakan ia memiliki kesempatan untuk mengakhiri program rudal Korea Utara (Korut) jelang akhir masa jabatan keduanya. Namun ia dibujuk untuk tidak melakukan perjalanan yang diperlukan ke negara totaliter itu oleh mantan pemimpin Palestina, Yasser Arafat.

"Saya memiliki kesempatan di akhir masa kepresidenan saya - saya agak menyesali ini sekarang, tetapi saya akan melakukan hal yang sama lagi (jika) menghadapinya - untuk mengakhiri program rudal mereka, tetapi saya harus pergi ke Korea Utara," tutur Clinton kepada NBC Today dalam sebuah wawancara yang disiarkan awal pekan ini.

"Tapi saya tidak bisa melakukan itu dan menyelesaikan perdamaian Timur Tengah," lanjut Clinton.

"Dan Arafat memohon padaku untuk tidak pergi dan kemudian mengingkari janjinya," tukasnya seperti dikutip dari Fox News, Jumat (8/6/2018).

Ketika ditanya apakah ia menyesal tidak pergi ke Korut, Clinton mengatakan: "Saya membuat keputusan yang tepat. Artinya, jika kita memiliki perdamaian antara Palestina dan Israel, terutama saat itu, itu akan menjadi lebih baik, tetapi saya menyesal bahwa saya tidak mengakhiri program rudal mereka (Korut)."

Clinton tidak menjelaskan mengapa Arafat memintanya untuk tidak melakukan perjalanan. Rezim Korut diketahui sejak lama telah memberikan senjata dan dukungan lain kepada militan Palestina dan Arafat beberapa kali melakukan perjalanan ke Pyongyang sebelum kematiannya pada 2004.

Trump dan anggota pemerintahannya telah mengkritik presiden masa lalu, termasuk Clinton, karena terlalu toleran terhadap ambisi nuklir Korut. Dalam wawancara dengan NBC, Clinton menunjukkan: "Kami memiliki delapan tahun ketika saya menjadi presiden di mana, karena kesepakatan yang saya buat awal (pada tahun 1994), tidak ada bahan fisil yang dihasilkan."

Ketika ditanya tentang pertemuan puncak Singapura mendatang antara Presiden Trump dan pemimpin Korut Kim Jong-un, Clinton mengatakan: "Kita harus menginginkan ini berhasil."

"Kita seharusnya tidak terlalu cepat untuk mengatakannya gagal jika tidak melewati setiap ‘T’ dan setiap titik 'I’," tambah mantan presiden itu.

"Dalam kesepakatan ini, Anda harus membuat kompromi, dan jadi tes yang harus dimiliki oleh Amerika saat berakhir adalah: Jika kedua belah pihak melakukan apa yang mereka janjikan, apakah kita akan lebih baik? Jika pihak lain tidak, bisakah kita keluar dari ini tanpa lebih banyak bahaya?" tuturnya.

"Jika jawaban untuk kedua pertanyaan itu adalah ya, maka kita harus mengatakan KTT itu sukses dan layak dilakukan," kata Clinton mengakhiri.  







Credit  sindonews.com