Selasa, 01 Maret 2016

Mantan Tahanan Ungkap Kanibalisme Khmer Merah di Kamboja


Mantan Tahanan Ungkap Kanibalisme Khmer Merah di Kamboja  
Ilustrasi (Reuters/Alejandro Acosta)
 
Jakarta, CB -- Seorang warga Muslim dari etnis minoritas Kamboja mengungkap kanibalisme oleh tentara Khmer Merah di tahanan. Mantan narapidana di masa kepemimpinan Pol Pot itu melihat sendiri anggota Khmer Merah mengeluarkan dan memakan organ tubuh seorang wanita.

Seperti dikutip dari AFP, Senin (29/2), hal ini disampaikan oleh Meu Peou, warga Muslim Cham, dalam pengadilan dengar kasus genosida dengan terdakwa Nion Chea, 89, atau yang dikenal dengan "Kakak Kedua" dan mantan kepala negara Khieu Samphan, 84.

Nuon Chea dan Khieu Samphan telah divonis penjara seumur hidup dalam pengadilan sebelumnya atas kasus pengusiran warga Phnom Penh ke kamp kerja paksa dan pembunuhan banyak orang. Pengadilan kali ini fokus pada genosida terhadap warga etnis Vietnam dan minoritas Muslim, termasuk dari etnis Cham.

Meu Peou menangis saat mengisahkan pengalamannya di penjara Khmer Merah, padahal saat itu dia masih anak-anak. Dia ditahan di Provinsi Pursat karena dituduh mengkhianati kader komunis dengan mencuri beras.

Di penjara, Meu melihat seorang wanita dibunuh dengan cara sadis. Hatinya dikeluarkan dari tubuhnya dan dimasak untuk kemudian dimakan oleh para penjaga.

"Wanita itu diminta membuka pakaiannya dan tubuhnya dibelah. Darah dimana-mana. Hatinya dikeluarkan dan dimasak untuk makanan," kata Meu.

Lebih dari dua juta warga Kamboja dibunuh dalam kepemimpinan Khmer Merah tahun 1975-1979, termasuk di antaranya 100 ribu hingga 500 ribu Muslim Cham dan 20 ribu warga Vietnam yang merupakan etnis minoritas.

Dalam pengadilan sebelumnya, nasib dua etnis minoritas Kamboja itu jarang dibicarakan.

Meu Peou mengatakan rezim Khmer Merah membunuh 17 kerabatnya, termasuk ayahnya yang memilih mati kelaparan dari pada memakan daging babi.

"Saya terpaksa makan babi untuk bertahan hidup," kata Meu Peou yang mengaku warga Muslim Kamboja saat itu banyak yang dimusnahkan dari desa mereka.

Praktik kanibalisme oleh tentara Khmer Merah sebelumnya juga diungkapkan oleh banyak saksi mata di pengadilan. Salah satunya mengaku melihat anggota Khmer Merah memakan empedu korban eksekusi setelah sebelumnya dijemur di bawah matahari.

Sejarawan memberikan beberapa pendapat soal kanibalisme ini, mulai dari didorong oleh iklim kekerasan dan sadisme yang luar biasa di era Pol Pot, takhayul soal menyerap energi korban dengan cara memakan organ tubuh mereka, hingga keputusasaan dan kelaparan di antara para tentara Khmer.

Khmer Merah melucuti kehidupan modern di Kamboja untuk mencapai utopia negara agraris versi Marxist. Kebanyakan pemimpin kelompok ini telah meninggal dunia sebelum diadili, termasuk "Kakak Pertama" Pol Pot yang mangkat pada 1998.


Credit  CNN Indonesia