Senin, 04 September 2017

Rohingya: Terjadi Genosida di Rakhine


Rohingya: Terjadi Genosida di Rakhine Tentara Myanmar disebut melakukan genosida terhadap etnis Rohingya di Rakhine. (Reuters/Soe Zeya Tun) 

 

Jakarta, CB -- Ribuan orang tampak berbondong-bondong melewati bukit dan sungai, rawa dan sawah, menuju perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh. Para pengungsi Rohingya itu berharap bisa menghindari pembunuhan massal terhadap etnisnya yang merupakan minoritas Muslim di Myanmar.

Pengakuan para pengungsi di kamp pengungsi penuh sesak di seberang perbatasan sangatlah menyedihkan. "Mereka memukuli, menembaki dan membacoki kami," kata Hamida Begum, salah satu pengungsi yang telah meninggalkan semua barang berharga demi nyawanya.

"Banyak orang dibunuh. Banyak perempuan diperkosa dan dibunuh. Kami sangat miskin. Suami saya bekerja sebagai buruh harian," ujarnya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan hampir 50 ribu warga Rohingya telah mengungsi untuk menghindari kekerasan yang kembali meningkat sejak akhir pekan lalu.

Para pengungsi mengatakan tentara Myanmar menyerang mereka, sementara pemerintah menyalahkan "teroris Rohingya" yang memicu kekerasan.

Sekitar 27 ribu pengungsi telah melintasi perbatasan Bangladesh sejak Jumat, sementara 20 ribu lainnya terjebak di daerah tak bertuan yang memisahkan kedua negara tersebut.

Pada Kamis, 20 jenazah warga Rohingya ditemukan di sungai Naf yang terbentang di antara Myanmar dan Bangladesh. Sebanyak 12 orang yang tewas masih anak-anak.
Rohingya: Terjadi Genosida di Rakhine
Peta kekerasan di Rakhine. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi)
"Kami biasanya bisa makan sehat dalam dua kali dalam sehari. Tapi kami kini kehilangan semuanya setelah perang dimulai," ujar Begum, merujuk pada kekerasan yang pecah pada Jumat pekan lalu, ketika kelompok bersenjata Rohingya melancarkan serangan terhadap sejumlah pos polisi dan sebuah pangkalan militer pemerintah.

Sebagai balasan, tentara meningkatkan "operasi pembersihan" yang memaksa ribuan orang mengungsi dari tempat tinggalnya.

Pemerintah menyatakan setidaknya 400 orang tewas dalam bentrokan sejak saat itu. Di antaranya, kata pemerintah, adalah 370 "teroris." Namun, sejumlah pegiat hak asasi manusia menyebut militer juga membunuhi perempuan, anak-anak dan orang tak bersalah.
 
Kedua pihak juga saling menyalahkan soal siapa yang membakari rumah-rumah di pedesaan. Pemerintah menyebut kelompok bersenjata telah membakar lebih dari 2.300 rumah, sementara para Rohingya menuding militer yang menyerang tempat tinggal mereka.

Begum menduga keluarganya disiksa oleh anggota militer beserta kaki tangannya, dan orang-orang yang dibunuh adalah mereka yang tidak membayar tebusan kepada para tentara.

Mereka menculik orang-orang dari rumah dan meminta tebusan. Kebanyakan dari mereka ditembak mati."Hamida Begum, pengungsi
"Kami harus melarikan diri menyelamatkan nyawa kami. Mereka tidak membiarkan kami bergerak bebas. Kami kekurangan segala hal ... Mereka menculik orang-orang dari rumah dan meminta tebusan. Kebanyakan dari mereka ditembak mati."

CNN tidak bisa memverifikasi pengakuan tersebut secara independen dan pemerintah Myanmar tidak menjawab ketika dimintai komentar.
 
Kelompok bantuan kemanusiaan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengecam Myanmar atas perlakuannya terhadap para minoritas Muslim.

"Pelanggaran HAM terus-menerus dan sistematis yang telah berlangsung selama beberapa dekade, termasuk respons keamanan yang disertai kekerasan menyusul serangan Oktober 2016, hampir pasti berkontribusi pada perkembangan ekstremisme dengan kekerasan, dan semua orang pada akhirnya akan merugi," kata Zeid Raad Hussein, Komisioner Tinggi PBB untuk HAM.

Hanya Rohingya yang Dibenci

Ada banyak kelompok etnis di Myanmar "tapi hanya Rohingya yang dibenci pemerintah," kata Mohammad Harun, seorang pengungsi lainnya.

Rohingya adalah bagian dari populasi minoritas Muslim di Myanmar, tapi mereka tidak diakui sebagai warga negara meski sudah tinggal di sana selama beberapa generasi.

Seorang pengungsi lain mengatakan pasukan militer memerintahkan mereka untuk tinggal di rumah masing-masing.

"Jika kami tinggal di dalam rumah, maka mereka akan menembaki kami atau membantai kami," kata Nobin Shuna. "Umat Muslim tidak mempunyai hak."

Untuk menghindari itu, mereka kemudian menempuh perjalanan yang berat ke Bangladesh.

"Kami menempuh perjalanan panjang. Kami harus melintasi bukit, rawa dan sawah untuk berjalan menuju ke perbatasan Bangladesh," kata Rabeya Khatun dari kamp tak terdaftar di sisi Bangladesh, Kutupalong.

"Saya meninggalkan rumah delapan hari yang lalu. Baru sampai di sini hari ini."

Saat ini mereka sudah aman dari persekusi militer tapi masih harus menjalani kehidupan yang penuh risiko.
 
"Kami tidak punya makanan dan pakaian. Kami tidak punya rumah," kata Mohammad Harun.

Dia mengatakan dirinya tidak bisa kembali lagi karena militer sudah menghancurkan pasokan makanan dan meruntuhkan tempat tinggal keluarganya.

"Semuanya, dihancurkan oleh militer. Sekarang kami tidak punya makanan atau selimut.

"Terjadi genosida di Rakhine."




Credit  cnnindonesia.com