Jakarta, CB -- Jutaan orang pedemo disebut
turun ke jalanan kota London pada Sabtu (24/3) menuntut referendum
ulang soal keanggotaan Inggris di Uni Eropa setelah blok tersebut
menyetujui penundaan Brexit.
Sejumlah
penggagas demonstrasi mengklaim sedikitnya satu juta orang ikut serta
dalam protes bertajuk "Put it to the People" itu.
Sebagian besar pemrotes turun ke jalanan ibu kota dari Hyde Park hingga
depan gedung parlemen di Westminster sambil mengacungkan spanduk-spanduk
dan poster anti-Brexit. Beberapa dari mereka juga ikut mengibarkan
bendera Uni Eropa.
"Ini sangat buruk. Kita perlu membatalkan
Pasal 50 (dalam Traktat Uni Eropa yang berisikan tata cara anggota
keluar dari blok tersebut) dan jika kita tidak bisa melakukannya, itu
berarti kita butuh suara rakyat," tutur Emma Sword, salah satu pemrotes,
Minggu (24/3), kepada AFP.
Di depan gedung parlemen, sejumlah
pejabat pemerintah seperti Menteri Pertama Skotlandia, Nicola Sturgeon,
Wali Kota London Sadiq Khan, pemimpin oposisi dari Partai Buruh, Tom
Watson, hingga politikus Anna Soubry ikut serta dalam pawai tersebut.
Tuntutan massa demonstrasi pro-Brexit. (Reuters)
|
"Kami telah melihat bagaimana pemerintah mengabaikan peringatan kami
berkali-kali. Sudah waktunya untuk mengatakan dengan keras dan jelas,
cukup sudah," kata Khan.
Sebagian anggota parlemen menolak menggelar referendum baru dalam rapat pada awal Maret ini.
Namun,
demonstrasi besar-besaran ini dianggap mengungkap harapan mayoritas
warga Inggris yang ingin memaksakan jajak pendapat baru tetap digelar.
"Pesannya jelas, hentikan Brexit," kata pemimpin Partai Demokrat Liberal Vince Cable yang ikut berdemo.
"Kami sekarang adalah negara yang memilih untuk tetap [sebagai anggota
Uni Eropa]. Hampir 90 persen pemilih muda yang tidak diizinkan memilih
dalam referendum Brexit 2016 lalu akan memilih untuk tetap berada di Uni
Eropa," katanya menambahkan.
Sementara itu, penundaan Brexit
memberi harapan baru bagi Perdana Menteri Inggris, Theresa May, untuk
kembali mengajukan usulan soal persyaratan Brexit kepada parlemen supaya
mereka tidak hengkang dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.
Penundaan itu disetujui petinggi Uni Eropa ketika bertemu dengan May di Brussels, Belgia, pada Kamis (21/3) kemarin.
PM Inggris Theresa May. (REUTERS/Clodagh Kilcoyne)
|
Perundingan kedua belah pihak dikabarkan sempat tegang karena May gagal
meyakinkan Uni Eropa bahwa Inggris bisa meloloskan usulan rancangan
undang-undang Brexit pada pekan depan guna menghindari keluar tanpa
kesepakatan pada 29 Maret.
Uni Eropa juga menolak proposal Brexit
yang diajukan May dan memilih menerapkan persyaratan yang mereka susun.
Dalam persyaratan itu, jika Dewan Rakyat Inggris meloloskan proposal
Brexit, maka negara itu akan meninggalkan Uni Eropa pada 22 Mei.
Akan
tetapi, jika May gagal lagi meloloskan proposal Brexit, maka Inggris
akan diberi penundaan Brexit tanpa syarat hingga 12 April untuk
mengajukan proposal baru.