Senin, 25 Maret 2019

Selandia Baru Akan Gelar Peringatan Korban Teror Christchurch


Selandia Baru Akan Gelar Peringatan Korban Teror Christchurch
PM Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengatakan bahwa negaranya akan menggelar upacara peringatan nasional untuk mengenang 50 korban yang tewas dalam teror Christchurch. (New Zealand Prime Minister's Office/Handout via Reuters)




Jakarta, CB -- Selandia Baru akan menggelar upacara peringatan nasional untuk mengenang 50 korban yang tewas dalam teror penembakan di dua masjid di Christchurch pada 15 Maret lalu.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengatakan bahwa upacara itu akan digelar di Christchurch pada 29 Maret mendatang tepat pukul 10.00 waktu setempat.

"Upacara peringatan nasional ini memberikan kesempatan bagi penduduk Christchurch, warga Selandia Baru, dan semua orang di dunia untuk bersama-sama mengingat korban serangan teroris," kata Ardern melalui sebuah pernyataan, Minggu (24/3).

Ardern kemudian menyatakan bahwa upacara ini juga akan menjadi wadah untuk simpati masyarakat Venezuela yang begitu besar sejak teror penembakan itu terjadi.


"Dalam sepekan setelah serangan teror itu, terlihat dua dan cinta tiada henti di negara ini," kata Ardern sebagaimana dilansir AFP.

Masyarakat Venezuela memang menunjukkan simpatinya dengan berbagai cara, mulai dari menari haka, memakai kerudung, hingga mengawal umat Muslim yang sedang salat di depan masjid lokasi penembakan.

"Upacara ini akan memberikan kesempatan sekali lagi untuk menunjukkan bahwa warga Selandia Baru berbelas kasih, merangkul, dan beragam, dan bahwa kami akan melindungi nilai-nilai kami," tutur Ardern.

Semua dukungan ini memang dianggap sangat dibutuhkan oleh korban selamat yang kebanyakan mengalami trauma, termasuk seorang pengungsi Afghanistan, Abdul Aziz.

Aziz dianggap sebagai pahlawan karena mengadang pelaku penembakan di depan Masjid Linwood sehingga tak lebih banyak orang menjadi korban.

Ketika Masjid Linwood kembali dibuka, Aziz datang ke tempat ibadahnya tersebut. Namun, ia sempat tak tahan berada di sana.

"Ketika saya masuk, ada semacam tekanan di kepala saya. Ingatan saya kembali. Namun, saya harus melupakannya. Perlu waktu untuk pulih, tapi kami harus tetap kuat," katanya.




Credit  cnnindonesia.com