Senin, 14 Februari 2022

Helikopter Black Hawk Amerika Mampu Terbang Nirawak

Ilustrasi

CUPUMA, Washington - Badan Proyek Riset Teknologi Pertahanan Amerika Serikat (DARPA) mengumumkan telah dilakukannya penerbangan nirawak untuk pertama kalinya oleh helikopter Black Hawk. Penerbangan berlangsung selama 30 menit di atas Fort Campbell, Kentucky. Helikopter Black Hawk UH-60A itu dilengkapi dengan Aircrew Labor In-Cockpit Automation System, atau ALIAS.

DARPA dan Sikorsky membuat helikopter itu terbang otonom melalui sebuah medan yang disimulasikan dan didesain mirip seperti Kota New York. Jadi, selama setengah jam itu, helikopter terbang menembus pusat kota Manhattan, dengan seluruh pencakar langitnya. "Helikopter terbang menghindari gedung-gedung secara real-time. Jadi coba pikirkan kebutuhan untuk operasional itu," kata Igor Cherepinsky, Direktur Inovasi Sikorsky, pada Selasa 8 Februari 2022.

Kru unjuk terbang 10 menit dengan pilot di helikopter itu sebelum terbang nirawak sepenuhnya pada Minggu dan menyelesaikan penerbangan otonom tambahan pada Seninnya. Pada bulan berikutnya, ALIAS diplot akan digunakan dalam penerbangan pertama dari Black Hawk model M fly-by-wire di Fort Eustis, Virginia.

Stuart Young, manajer program di Kantor Teknologi Taktis DARPA, mengatakan kalau ALIAS memiliki tiga tujuan utama: meningkatkan keselamatan awak dalam lingkungan visual yang buruk dengan menyediakan perangkat automasi, meningkatkan efektivitas misi dari kru udara, dan fasilitasi efisiensi biaya lewat reduksi kebutuhan pelatihan dan potensi biaya perawatan.

Untuk efektivitas misi, DARPA dan Sikorsky melihat kemungkinan ALIAS untuk menyingkirkan beberapa fungsi yang tidak penting, "untuk memungkinkan para pilot tidak terbebani dan lebih menggunakan kemampuan kognitif mereka untuk kemampuan jenis komando dengan level misi yang jauh lebih tinggi di mana manusia memang lebih baik padanya," kata Young.

Cherepinsky menerangkan kalau ALIAS telah berkembang dari program kopilot menjadi sebuah pilot digital dengan operator di darat yang berperan sebagai komandan misinya. Tapi satu hal bahwa ALIAS bukanlah sistem kecerdasan buatan. Menurut Cherepinsky, belum ada kemampuan itu karena kreativitas manusia belum direplikasi di sana.

"Manusia masih yang memutuskan misinya," katanya, "Begitu Anda telah memutuskan misi apa yang akan dilakukan, ALIAS akan merencanakannya untuk Anda dan menunjukkan Anda sebuah cara untuk menjalankan misi itu dan akan melakukannya untuk Anda. Itulah bagian terhebatnya."

DARPA berencana membungkus program ALIAS pada September, ketika menyerahkannya kepada Angkatan Darat AS. Militer telah menggunakan program ALIAS di Proyek Konvergensi pada tahun lalu, di mana sebuah Black Hak UH-60 melakukan misi otonom tapi dengan pilot di kokpit. Saat itu, Young mengatakan, program itu bisa membantu upaya Angkatan Darat Amerika me-modernisasi armada Future Vertical Lift miliknya, dan lebih jauh tentang masa depan helikopter-helikopter itu.

Untuk pertama kalinya helikopter Black Hawk terbang tanpa pilot atau otonom selama 30 menit di Fort Campbell, Kentucky. Uji terbang ini dilakukan untuk mendemonstrasikan kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai lingkungan misi, dan sementara itu, simulasi sensor on-board menyediakan data hambatan real-time. 

"Mereka kini bisa menggunakannya sendiri untuk mengembangkan kebutuhan-kebutuhan otonom, lebih spesifiknya, bagaimana mereka akan menggunakan fungsi otonom di medan perang masa depan dan memampukan mereka untuk memiliki rasa percaya dan mengembangkannya dalam lingkungan-lingkungan yang relevan dengan operasi mereka," kata Young.

Angkatan Udara juga disebut tertarik dalam menggunakan ALIAS dengan armada pesawat tempur F-16 miliknya. Cherepinsky juga mengaku kalau DARPA dan Sikorsky juga telah berkomunikasi tentang program yang sama dengan negara lain seperti Jepang.