Rabu, 25 Februari 2015

Putin: Tak Akan Ada Perang Rusia-Ukraina




Putin: Tak Akan Ada Perang Rusia-Ukraina
Seorang tentara berdiri di dekat kendaraan tempur milik kelompok separatis Republik Rakyat Donetsk, kemarin. Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan, konflik yang terjadi di Ukraina tidak akan berujung pada peperangan, meski saat ini gencatan senjata yan
MOSCOW (CB) - Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, perang antara Rusia dan Ukraina tidak mungkin terjadi. Dia memastikan situasi konflik yang terjadi saat ini tidak akan berujung peperangan.

Putin juga menilai pertemuan dengan menteri luar negeri Prancis dan Jerman soal konflik di Timur Ukraina tak perlu dilakukan lagi. Pernyataan Putin tersebut disampaikan ketika wawancara dengan stasiun televisi swasta Rusia. Putin menerangkan tidak akan ada skenario perang jika kesepakatan Minsk yang berisi persetujuan gencatan senjata dipatuhi.

Putin menilai jika kedua belah pihak melakukan gencatan dengan benar, secara bertahap situasi akan kembali normal. Menanggapi gagalnya gencatan senjata yang disepakati pada 12 Februari lalu, Putin percaya sampai saat ini belum ada ancaman perang yang nyata. “Tak seorang pun menginginkan konflik di tepi Eropa, terutama konflik bersenjata.

Saya berpikir skenario perang sepertinya tidak mungkin terjadi, dan saya harap hal itu tidak akan pernah terjadi,” kata Putin dikutip BBC. Pernyataan ini muncul setelah pemberontak pro-Rusia menguasai Pelabuhan Mariupol dan terus menyerang posisi pasukan pemerintah Ukraina. Kondisi ini memicu kekhawatiran Eropa tentang nasib gencatan senjata Rusia-Ukraina yang didukung PBB. Permusuhan terus berlanjut karena kedua belah pihak belum bersedia menanggalkan senjatanya.

Pihak Ukraina mengaku masih akan melakukan serangan dan belum berencana menarik senjata. Namun, jumlah serangan sudah diturunkan. Komandan Militer Ukraina Kolonel Valentyn Fedichev menerangkan, jumlah serangan di zona konflik umumnya menurun. Dia juga mengaku pasukan pemerintah Ukraina masih ditembaki sebanyak 27 kali terhitung sejak Minggu, yang menewaskan dua tentara dan melukai 10 warga Ukraina.

Para pejabat lain mengatakan bahwa para pemberontak pro-Rusia juga menembakkan mortir ke Kota Shyrokine yang berdekatan dengan Mariupol. Serangan ini dipercaya merupakan bentuk provokasi pasukan pro-Rusia agar gencatan senjata dilanggar Ukraina. “Pejuang pro-Rusia tidak menghentikan upayanya untuk menyerang posisi kami di Kota Shyrokine dan daerah Mariupol,” terang Fedichev.

Kiev juga menuduh Rusia mengirimkan 20 tank menuju Mariupol dan melakukan dua serangan tank pada Minggu (22/2) ke kota yang berisi setengah juta penduduk tersebut. Selain di Mariupol, ketegangan juga terjadi di Kota Kharkiv. Kota di sebelah timur Ukraina ini berkecamuk setelah mengalami ledakan bom yang menewaskan tiga warga sipil. Konflik bersenjata ini pun mengundang keprihatinan.

Barat mengancam akan memperberat sanksi terhadap Rusia jika gencatan senjata gagal terlaksana, terutama setelah pemberontakpro- Rusia merebutkota strategis Debaltseve pekan lalu. Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE) yang bertugas mengawasi gencatan senjata akan memastikan gencatan senjata berjalan lancar, terutama di kota-kota penting seperti Mariupol dan Debaltseve.

Untuk memuluskan rencana ini, pertemuan akan kembali dilakukan dengan melibatkan para menteri luar negeri Ukraina, Rusia, Jerman, dan Prancis yang dijadwalkan berlangsung Selasa (24/2) waktu setempat. Pertemuan tersebut akan fokus membahas pelaksanaan gencatan senjata. Namun, beberapa sumber dari Ukraina meragukan adanya kesepakatan mengingat situasi sudah banyak berubah.

Awal Februari lalu, Jerman dan Prancis menjadi penengah dalam perjanjian gencatan senjata di Minsk, Belarusia, yang disahkan Dewan Keamanan PBB. Sayangnya, kesepakatan gencatan senjata tersebut belum mampu menghentikan serangan bersenjata. Sampai saat ini, kedua belah pihak yang bertikai hanya mematuhi satu poin perjanjian, yakni pertukaran tawanan.

Pada akhir pekan lalu, ada pertukaran sekitar 200 pejuang. “Serangan di Mariupol jelas merupakan sebuah pelanggaran perjanjian. Ini membuat kami khawatir bahwa masih belum ada gerakan komprehensif dalam gencatan senjata,” jelas juru bicara pemerintah Jerman Steffen Seibert.




Credit  SINDOnews