Kamis, 26 Februari 2015

Militer AS Berparade 300 Meter dari Perbatasan Rusia

RAIGO PAJULA / AFP 
Sebuah kendaraan lapis baja milik Angkatan Darat AS melintas di hadapan warga kota Narva, Estonia dalam parade militer memperingati hari kemerdekaan negeri itu. Namun, lokasi kota Narva yang tak jauh dari perbatasan dengan Rusia membuat parade ini diartikan sebagai unjuk kekuatan NATO terhadap Rusia.
 
 
TALLINN, CB - Kendaraan-kendaran tempur milik angkatan darat AS dan Inggris berparade di jalanan sebuah kota Estonia yang terletak kurang dari 300 meter dari perbatasan dengan Rusia, Selasa (24/2/2015), memamerkan sebuah persatuan Barat melawan ancaman Rusia.

Kendaraan-kendaraan tempur milik Resimen Kavaleri Kedua Angkatan Darat AS dan Inggris ikut ambil bagian dalam sebuah parade militer untuk merayakan hari kemerdekaan Estonai. Namun, pemilihan lokasi parade itu memiliki arti tersendiri.

Kota Narva terletak di wilayah paling timur Estonia, di mana negeri itu berbatasan langsung dengan Rusia. Sebagian besar dari 60.000 penduduk kota ini adalah etnis Rusia.

Kota ini digambarkan sebagai salah satu target potensial Kremlin jika negeri itu mengalihkan perhatiannya dari Ukraina ke negara-negara Baltik.

Parade militer yang dipimpin NATO itu digelar di saat pemberontak pro-Rusia melanjutkan pertempuran melawan pemerintah Kiev di wilayah timur Ukraina. Dikhawatirkan pasukan pemberontak akan melancarkan serangan ke kota pesisir Mariupol.

"Sejarah mengajarkan bahwa jika kita tak mempertahankan diri kita sendiri maka tak akan ada yang membela kita," kata panglima angkatan bersenjata Estonia, Jenderal Riho Teras.

"Situasi di Ukraina yang menjadi perhatian dunia, menunjukkan dengan jelas bahwa kita harus menjaga keamanan negara kita," tambah Jenderal Teras.

Sekitar 100 personel militer Belanda, Spanyol, Latvia dan Lithuania ikut berparade bersama sekitar 1.300 prajurit Estonia merayakan kemerdekaan negeri kecil itu dari Uni Soviet.

Estonia, bersama Latvia dan Lithuania bergabung dengan NATO pada 2004. Sebuah langkah yang mengecewakan Rusia. Khawatir Ukraina akan bergabung dengan NATO diduga menjadi salah satu penyebab Rusia terlibat dalam krisis Ukraina, termasuk aneksasi Semenanjung Crimea tahun lalu.


Credit   KOMPAS.com