Senin, 23 Februari 2015

Lima Senjata Tempur Radio Elektronik Terbaik Rusia: Butakan Radar, Taklukan Musuh


Lima Senjata Tempur Radio Elektronik Terbaik Rusia: Butakan Radar, Taklukan Musuh
Tugas utama Krasukha adalah melindungi pertahanan udara, fasilitas darat, serta pasukan yang tengah bergerak. PTRC Iskander dan kompleks serupa lain tergolong tak berdaya saat sedang bergerak. Sumber: press photo

CB -  Senjata radio elektronik dapat dengan mudah mengecoh musuh, membutakan radar, bahkan memandu tembakan misil ke target yang salah. Teknologi dan pengembangan senjata elektronik Rusia merupakan salah satu pengembangan terbaik dan terhebat di dunia, dan tentu paling rahasia.

Semakin hari, konflik militer semakin sedikit melibatkan kontak langsung antar-tentara. Perang di era modern secara bertahap bergeser menjadi realita virtual, dan angkatan bersenjata kini bukan bersaing dalam pengembangan senjata api, melainkan dalam penggunaan senjata radio elektronik yang efektif. Kali ini, RBTH akan membahas lima senjata elektronik (electronic warfare) terbaik Rusia yang dapat membutakan dan melumpuhkan musuh.

Khibiny, Sang Teror Penghancur

Senjata berukuran relatif kecil berbentuk torpedo yang terpasang pada ujung sayap pesawat ini bertugas melindungi pesawat dari segala jenis serangan musuh. Setelah kru pesawat tempur menerima peringatan serangan misil, Khibiny langsung beraksi dengan mengaktifkan ‘perlindungan radio elektronik’ yang akan mencegah misil mencapai target dan membuat misil tersebut terbang menyimpang dari seharusnya.

Setelah kru pesawat tempur menerima peringatan serangan misil, Khibiny langsung beraksi dengan mengaktifkan ‘perlindungan radio elektronik’. Sumber: Press Photo
Khibiny dapat meningkatkan masa penggunaan pesawat hingga 25-30 kali lipat.


Berdasarkan keterangan Wakil Direktur Jenderal KRET (perancang dan produsen sistem Khibiny) Vladimir Mikheev, semua pesawat tempur Rusia yang hancur di Georgia merupakan pesawat ‘telanjang’ yang tidak dilengkapi dengan sistem senjata elektronik. “Rusia butuh sistem persenjataan elektronik supaya tidak terus kehilangan senjata militer,” kata Mikheev.

Kini, Khibiny sudah dipasang di pesawat Su-30, Su-34, dan Su-35. Namun, kabar bahwa pesawat AS Donald Cook diserang oleh jet pembom Su-24 yang telah dilengkapi Khibiny pada April lalu jelas merupakan kebohongan. Sistem Khibiny belum dipasang di Su-24, jadi ‘serangan’ di Laut Hitam tersebut tidak melibatkan senjata radio elektronik mutakhir ini.

Moskva-1, Sang Pengintai Pasif

Kompleks radar modern yang akan segera didapatkan oleh pasukan Rusia ini dapat ‘melihat’ semua target yang terbang di angkasa pada jarak empat ratus kilometer. Sebelumnya, radar Avtobaza yang dimiliki Rusia hanya dapat melacak objek pada jarak maksimal 150 kilometer.

Moskva-1 dapat ‘melihat’ semua target yang terbang di angkasa pada jarak empat ratus kilometer. Sumber: Press Photo

Moskva-1 beroperasi dengan prinsip radar pasif. Artinya, radar ini tidak mengirimkan sinyal apapun, melainkan hanya menerima dan menganalisis kondisi yang dipantau. Tidak seperti radar konvensional lain, radar ini tak dapat terdeteksi oleh musuh. Saat memindai ruang udara, Moskva-1 dapat mengelompokan objek serta mengklasifikasikan misil dan pesawat tempur dengan tepat. Stasiun radar akan segera mentransmisikan informasi berharga itu ke pos komando dan operator harus memutuskan akan menghancurkan objek tersebut atau tidak. Moskva-1 juga akan membimbing sistem pertahanan udara ke target yang diincar, sehingga sistem tersebut dapat mematikan radar, namun tetap tak terlihat oleh musuh.

Krasukha-2, Pelindung Iskander

Meski namanya terdengar lucu, kompleks senjata elektronik darat ini merupakan teror yang sesungguhnya bagi pesawat AWACS (Airborne Warning and Control System/Sistem Kontrol dan Peringatan Udara).

Tugas utama Krasukha adalah melindungi pertahanan udara, fasilitas darat, serta pasukan yang tengah bergerak. PTRC Iskander dan kompleks serupa lain tergolong tak berdaya saat sedang bergerak. Krasukha membuat mereka dapat dengan mudah mencapai tujuan yang telah ditentukan. Ketika Krasukha menyadari kehadiran musuh AWACS, ia akan mengganggu radar pesawat dengan mengirim radiasi dari radius 250 kilometer. Tekanan dari senjata radio elektronik membuat senjata tersebut tak mungkin bisa dibimbing untuk mencapai target dengan akurat.

Fitur lain Krasukha adalah memengaruhi ‘otak’ misil yang telah ditembakan dan mengubah arah terbangnya. Intervensi Krasukha membuat misil akan ‘melihat’ target yang salah dan mengenainya tapa merusak target yang sebenarnya.

Rtut'-BM, Pembunuh Frekuensi

Sistem ini merupakan salah satu senjata elektronik tercanggih saat ini. Rtut’ (Raksa) dirancang untuk melindungi tentara dan peralatan militer dari serangan artileri yang dilengkapi dengan proximity fuses.
Rtut’ (Raksa) dirancang untuk melindungi tentara dan peralatan militer dari serangan artileri yang dilengkapi dengan proximity fuses. Sumber: Press Photo

Untuk dapat menciptakan kerusakan fatal, proximity fuses harus meledak pada ketinggian tiga sampai lima meter. Rtut’ mempengaruhi amunisi proximity-fused dan membuatnya meledak pada ketinggian yang aman, sehingga pasukan tak akan terkena dampak ledakan tersebut.

 Namun, bukan hanya fitur tersebut yang dapat dinetralkan oleh kompleks Rtut’-BM. Senjata ini juga dapat digunakan untuk membunuh frekuensi radio yang digunakan oleh musuh untuk berkomunikasi.
Sebuah kompleks yang terlihat seperti kendaraan militer berantena ini dapat melindungi area seluas 50 hektar.

Menurut perancang senjata, Rtut’-BM memiliki potensi ekspor yang tinggi dan dapat dijual ke pasar senjata di Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.

President-S, Penggangu Pemandu Misil


President-S merupakan kompleks supresi optikal elektronik yang dapat melindungi pesawat dari tembakan misil MANPADS. Sistem ini dilengkapi dengan alat pengukur panas, yakni elemen yang bereaksi terhadap panas yang diproduksi oleh mesin pesawat atau helikopter.

Pada saat uji coba, misil ditembakan dari Igla (Needle/Jarum) pada helikopter Mi-8 yang terpasang di rig khusus. Misil ditembakan dari jarak seribu meter, namun tak satupun berhasil mencapai target. Semua misil terbang menyimpang dari helikopter. Sistem pemandu misil kehilangan target akibat gangguan elektronik yang diciptakan oleh kompleks tersebut.



Credit  RBTH Indonesia