Rabu, 28 Januari 2015

Filipina perlambat upaya perdamaian dengan MILF setelah polisi terbunuh dalam baku tembak

Baku tembak Filipina: Para penyelamat bersiap-siap untuk mengangkut seorang polisi khusus Filipina yang terluka dengan helikopter AS yang sedang menunggu menyusul bentrokan dengan pemberontak Muslim di kota Mamasapano pada tanggal 26 Januari. [AFP]
Baku tembak Filipina: Para penyelamat bersiap-siap untuk mengangkut seorang polisi khusus Filipina yang terluka dengan helikopter AS yang sedang menunggu menyusul bentrokan dengan pemberontak Muslim di kota Mamasapano pada tanggal 26 Januari. [AFP]


Para legislator utama menyerukan penangguhan pembahasan Undang-undang Dasar Bangsamoro setelah sedikitnya 43 polisi khusus tewas dalam baku tembak di Mindanao Tengah yang melibatkan pasukan Front Pembebasan Islam Moro [MILF], kata pihak berwenang.
Para anggota Pasukan Polisi Aksi Khusus [SAF] berada di Provinsi Maguindanao untuk melaksanakan surat perintah penahanan terhadap dua perakit bom Jemaah Islamiyah ketika pertempuran terjadi.
Komandan Polisi Nasional Filipina yang bertugas Wakil Direktur Jenderal Leonardo Espina mengatakan para anggota SAF kemungkinan membunuh warga negara Malaysia Zulkifli bin Hir, alias Marwan, pemimpin kelompok teror regional yang beroperasi di Filipina sejak Bom Bali 2002.
“Kemungkinan besar Marwan tewas terbunuh dalam operasi tersebut,” kata Espina.
Tetapi kematiannya harus dibayar dengan pengorbanan besar – sedikitnya 43 polisi khusus tewas dan berakibat pada seruan penangguhan tanpa batas waktu terhadap pembahasan tentang perjanjian perdamaian dengan MILF di Mindanao.
Angka kematian itu bisa jadi lebih tinggi, karena juru bicara polisi daerah Judith Ambong mengatakan kepada Agence France-Presse [AFP] bahwa telah ditemukan 49 jasad polisi.
MILF menandatangani perjanjian perdamaian dengan Pemerintah Filipina pada tahun 2013 yang menuntut pembentukan sebuah kawasan Yuridis Bangsamoro yang diusulkan MILF untuk menjalankan tugas pemerintahan di Mindanao melalui Undang-undang Dasar Bangsamoro [BBL].
“Suara hati saya mengatakan saya tidak bisa menangani BBL, itu harus ditangguhkan tanpa batas waktu,” kata Senator Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr., yang bereaksi atas kematian para polisi khusus ketika bertempur melawan MILF dan Pejuang Kemerdekaan Islam Bangsamoro [BIFF].
Operasi melawan Marwan
Personel SAF pergi ke Desa Tukalanipao di kota kecil Mamasapano, yang dikenal sebagai kubu pemberontak di Provinsi Maguindanao, pada tanggal 25 Januari guna menjalankan surat penahanan atas Marwan dan ahli bom lainnya, Bassit Usman.
Mereka sedang meninggalkan daerah itu ketika terlibat baku tembak dengan BIFF, dan kemudian dengan para anggota MILF, kata Espina.
Dia dan pejabat lainnya, termasuk Menteri Dalam Negeri & Pemerintahan Daerah Mar Roxas, terbang ke Maguindanao pada tanggal 26 Januari untuk mengawasi pembeberan kejadian itu.
Pemerintah Amerika Serikat, melalui program Hadiah untuk Keadilan, menawarkan hadiah sebesar USD 5 juta untuk penangkapan hidu atau mati Marwan.  Program yang sama juga menawarkan hadiah sebesar $1 juta untuk Usman.
Marwan kabur ke Filipina untuk menghindari perburuan internasional setelah peristiwa Bom Bali 2002.  Di sana, dia melatih kelompok teroris setempat Abu Sayyaf dan lainnya dalam merakit bom dan melatih kegiatan teror mereka, menurut purnawirawan Letjen Marinir Juancho Sabban.
Pada bulan Februari 2012, pihak militer Filipina mengklaim telah membunuh Marwan dalam serangan bom ke provinsi kepulauan Sulu, juga di Mindanao, bersama dengan para pemimpin teras Abu Sayyaf lainnya.  Beberapa bulan kemudian, pihak berwenang menyadari bahwa pemimpin JI itu selamat dari serangan.
Usman berlatih di bawah JI dalam merakit bom, terutama dari Marwan, dan pihak militer mengklaim bahwa dia memimpin Kelompok Operasi Khusus [SOG], unit teror MILF.
Kepemimpinan MILF telah menyangkal klaim tersebut, dan bahkan keberadaan SOG, meski kemudian mengakui bahwa Usman dulu anggota MILF tetapi dikeluarkan karena kegiatan ilegalnya.  Usman kemudian bergabung dengan Abu Sayyaf.
Espina tidak mengatakan apakah Usman tewas dalam baku tembak itu.
Personel militer AS membantu dalam evakuasi jasad dan personel yang terluka.
Polisi klaim disergap
Polisi mengklaim baku tembak terjadi ketika mereka disergap oleh sedikitnya 300 anggota MILF.
Unit parukan khusus polisi yang mendekati satu kompi datang dari luar Maguindanao untuk melaksanakan surat perintah penahanan.  Karena tidak ada koordinasi sebelumnya dengan MILF, kepala perunding Mohagher Iqbal menyalahkan kepolisian atas pelanggaran perjanjian gencatan senjata itu.
Komando Markas 105 MILF berbasis di kota kecil Mamasapano.  Komando Markas 105 dipimpin oleh salah satu komandan paling senior MILF, Ameril Umbra Kato, yang melepaskan diri dari kelompok itu dan mendirikan BIFF setelah MILF merundingkan perdamaian dengan pemerintah.
Marcos mengatakan pembunuhan itu adalah hal yang tidak dapat diterima.  Dia mengatakan pemerintah tidak perlu berkoordinasi dengan MILF, terutama jika sedang mengejar teroris.  Dia menunjukkan bahwa upaya serupa juga gagal ketika pemerintah berkoordinasi dengan MILF.
Sebagai ketua dari Komite Senat untuk Pemerintahan Daerah, Marcos mengatakan suara hati memerintahkan sidang komitenya tentang BBL harus ditangguhkan tanpa batas waktu, karena kematian para anggota polisi itu dan pelanggaran gencatan senjata.
Komite Marcos adalah salah satu dari tiga komite yang membahas BBL.  Komite lainnya adalah Amendemen Konstitusi dan Revisi Kitab Hukum & Undang-Undang yang dikepalai oleh Senator Miriam Defensor-Santiago dan Komite Perdamaian & Pemersatuan yang dikepalai oleh Senator Teofisto Guingona III.
Purnawirawan jenderal polisi minta dukungan untuk supremasi hukum
Leopoldo Bataoil, seorang purnawirawan jenderal polisi yang pernah bertempur di Mindanao dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat [DPR], merekomendasikan agar Senat dan DPR menangguhkan pembahasan BBL.
“Bersama-sama kolega saya di Kongres yang merupakan mantan perwira polisi dan militer, kami mendesak agar para wakil rakyat yang lain memberikan dukungan terhadap supremasi hukum dan bergabung bersama kami mengutuk sekeras-kerasnya,” katanya.  “Kami mendesak agar pembahasan BBL ditangguhkan segera demi menghormati korban-korban dari pembantaian ini.”
Miriam Coronel-Ferrer, kepala panel perdamaian pemerintah dengan MILF, mengeluarkan pernyataan tentang kematian tersebut.
“Kami sangat sedih atas nyawa-nyawa yang hilang dalam pertemuan tragis di Mamasapano, Maguindanao, kemarin, tanggal 25 Januari, yang melibatkan Pasukan Aksi Khusus dari Polisi Nasional Filipina dengan berbagai kelompok bersenjata,” kata Coronel-Ferrer.
Menteri Pertahanan Voltaire Gazmin mengatakan pihak militer akan mengejar mereka yang terlibat dalam penyerangan itu.
“Kami akan mengejar mereka.  BIFF juga terlibat, maka kami harus memburu mereka,” katanya.


Credit APDForum