Senin, 26 Januari 2015

AL Rusia Hentikan Pembuatan Kapal Selam Warshavyanka


AL Rusia Hentikan Pembuatan Kapal Selam Warshavyanka
Model kapal selam diesel-elektrik Novorossisk. Foto: Alexei Danichev/RIA Novosti


Setelah pembuatan enam unit kapal selam disel-elektrik yang sudah disempurnakan dari proyek 636.3 Warshavyanka, kapal Warshavyanka—salah satu kapal selam terbaik Rusia—tak akan diproduksi lagi. Apa yang membuat Armada Laut Rusia hendak menghentikan proyek kapal selam terbaik dalam sejarah militer Rusia tersebut?

Menurut Ketua Soyuz Voyennyikh Moryakov (Perkumpulan Pelaut Militer), Purnawirawan Kapten Angkatan Laut Anatoliy Kresik, pembuatan Warshavyanka menghadapi jalan buntu karena konflik yang terjadi di Ukraina dan kebijakan subtitusi impor sehubungan krisis tersebut.


“Sekitar 70 persen komponen kapal selam itu berasal dari Ukraina. Kini, komponen tersebut tak ada lagi. Barat juga telah berhenti memasok beberapa peralatan untuk Rusia. Saya pikir keputusan itu diambil karena Angkatan Laut Rusia mempertimbangkan untung-rugi pembuatan kapal tersebut, dan ternyata tidak ada keuntungannya untuk membuat kapal tersebut. Kita tak bisa mempertahankan Warshavyanka lebih jauh,” papar Kresik pada wartawan Natsionalnaya Sluzhba Novostey.
Direktur Kegiatan Ekonomi Luar Negeri Biro Konstruksi Rubin Andrey Baranov menjelaskan, awalnya kapal selam seri Warshavyanka dibuat karena proyek 677 Lada tengah dibekukan. “Tentu saja sekarang kita dapat melakukan modernisasi proyek 636, namun bagi AL Rusia, mungkin ini adalah pemesanan terakhir kapal selam non-nuklir proyek tersebut. Setelah ini, mereka akan beralih pada pembuatan kapal selam generasi selanjutnya, yakni proyek 677 Lada yang tertunda,” terang Baranov pada RIA Novosti.
Angkatan Laut Rusia melabuhkan pilihannya pada kapal selam non-nuklir baru dengan mesin anaerobik. Pada 2016-2017 mendatang, Rusia akan membuat mesin tersebut, yang dapat menghasilkan energi tanpa bantuan udara. Keberadaan mesin penggerak bebas udara membuat kapal selam bisa semakin tak terlihat dan meningkatkan durasi kapal berada di bawah air tanpa perlu keluar ke permukaan untuk mengisi ulang baterai dengan udara.

Saat ini, kapal selam yang menjadi proyek utama Lada adalah kapal Saint Petersburg, yang tengah menjalani tahap uji coba. Panglima Angkatan Laut Rusia Laksamana Viktor Chirkov menjelaskan, hingga akhir 2020 mendatang AL Rusia akan memiliki tambahan empat kapal selam non-nuklir dari proyek baru dengan mesin penghasil tenaga bebas udara.
Berdasarkan pernyataan pengembangnya, tingkat kebisingan Lada telah diturunkan beberapa kali lipat dibanding kapal selam Warshavyanka, sehingga dengan tambahan kompleks hidroakustik generasi terbaru, kapal selam ini dapat menemukan kapal musuh jarak jauh dari berbagai kelas secara lebih efektif.
Warshavyanka menjadi salah satu proyek tersukses dalam pembuatan kapal selam di Rusia. Kapal selam ini memiliki tingkat kebisingan rendah, konstruksi badan kapal yang baik, proses pengendalian otomatis kapal yang efektif, sistem persenjataan yang tangguh termasuk roket, torpedo dan ranjau, akomodasi yang mumpuni bagi para awak, serta perawatan dan penggunaan yang sederhana. Sejauh ini, lebih dari 20 kapal selam tipe Warshavyanka sudah selesai diproduksi.
Warshavyanka sudah diekspor ke Tiongkok, Vietnam dan Algeria, namun saat ini pembeli potensial lebih memilih kapal selam dengan mesin penghasil tenaga bebas udara. Persaingan antarprodusen kapal selam non-nuklir pun telah meningkat tajam. Para produsen kapal selam non-nuklir Rusia terpaksa berjuang mendapatkan pembeli dengan menawarkan solusi-solusi teknis di bidang pembuatan kapal selam.


Kurangnya pendanaan pada akhir 1990-an dan awal 2000-an membuat Rusia tertinggal dalam teknologi pengembangan mesin penghasil tenaga bebas udara. Kini, kapal-kapal Rusia perlu mengejar ketertinggalan mereka dari pesaing-pesaing luar negerinya. Itu adalah salah satu alasan mengapa AL Rusia mengucapkan selamat tinggal pada Warshavyanka.


Credit RBTH Indonesia