Pada bulan September, Boeing memperkenalkan senjata High Energy Laser Mobile Demonstrator berdaya sepuluh kilowatt yang mampu melumpuhkan berbagai sasaran, mulai dari pesawat tanpa awak hingga rudal musuh. Dua bulan kemudian, Komandan Armada V Angkatan Laut AS, Wakil Laksamana John Miller, mengonfirmasi bahwa AL AS telah menerima laser tempur pertama mereka dan memasang senjata tersebut pada kapal serbu amfibi USS Ponce.


Tiongkok juga mengumumkan pengembangan laser yang dapat menembak jatuh sasaran udara berukuran kecil. Sementara, meski belum banyak hal yang terungkap pada publik, Rusia juga tengah mengembangkan program lasernya.
Dalam tahap pengembangan saat ini, teknologi roket masih jauh lebih unggul dibanding senjata laser. Tapi dari segi biaya, senjata laser terbilang lebih efisien dibanding rudal. Peluncuran misil memakan biaya yang sangat mahal. Jika digunakan untuk jarak jauh, senjata rudal membutuhkan sistem navigasi tambahan, cadangan bahan bakar dalam jumlah besar, serta perlengkapan lain yang membuat biaya peluncuran sebuah tembakan kian meroket.
Sementara, peluncuran sebuah tembakan laser hanya membutuhkan biaya yang setara dengan penyediaan daya untuk tembakan tersebut. Hal itulah yang membuat Uni Soviet tertarik mengembakan senjata laser. Pada tahun 1960an, Uni Soviet memulai program pengembangan senjata laser di Pusat Produksi dan Riset Ilmiah Astrophysics yang rahasia.
Stiletto
SLK 1K11 “Stiletto”. Foto: Asosiasi Ilmiah Astrophysics
Kala itu, teknologi yang ada belum mampu mengakomodasi pembuatan senjata laser yang cukup kuat untuk menghancurkan sasaran bergerak. Maka, para peneliti di Astrophysics berupaya menciptakan senjata yang dapat ‘membutakan’ tank, senapan otomatis, dan helikopter yang terbang rendah, dengan mengincar fotosensor pada sistem pengelihatan optikal sasaran tersebut. Setelah ternetralisir, kendaraan tersebut akan menjadi sasaran empuk yang mudah dihancurkan.
Senjata yang diberi nama Stiletto itu memiliki pasokan daya portabel dan dipasang pada sasis kendaraan beroda rantai penebar ranjau. Pada 1982, Stiletto masuk dalam perbendaharaan senjata Tentara Merah, namun masih digolongkan sebagai senjata percobaan. Uni Soviet hanya memproduksi dua buah senjata tersebut, dan hingga saat ini Stiletto masih digunakan oleh Tentara Rusia.
Sanguin
“Sanguin” mampu menembakan laser secara vertikal. Foto: Asosiasi Ilmiah Astrophysics
Setelah Stiletto selesai, peneliti Astrophysics beralih mengerjakan senjata laser yang lebih canggih untuk pertahanan udara. Senjata yang kemudian diberi nama Sanguin tersebut setara dengan senjata laser milik sistem antipesawat otomatis Shilka.

Berbeda dengan Stiletto, Sanguin merupakan senjata yang lebih modern. Senjata ini mampu menembakan laser secara vertikal. Sebagai perbandingan, sebuah meriam laser yang terpasang pada Shilka dapat melumpuhkan sistem optikal helikopter pada jarak sepuluh kilometer dan dapat melumpuhkan fungsi keseluruhan sebuah helikopter dari jarak delapan kilometer.
Ketika itu, belum ada kendaraan udara tanpa awak yang telah diproduksi. Maka, para perancang senjata menciptakan sistem Aquilon yang menjadi ‘rumah’ untuk Sanguin.
Sistem Aquilon. Foto: Asosiasi Ilmiah Astrophysics
Sanguin pun digunakan kemudian digunakan oleh Angkatan Laut dan bertugas merusak sistem elektro-optikal yang digunakan oleh unit penjaga pantai.
Kompresi
Senjata laser mahakarya ilmuwan Soviet ialah Kompresi dari proyek 1K17. Senjata ini mulai gunakan pada 1992. Kompresi mirip dengan roket tembak salvo Pinokio, namun alih-alih mewadahi 12 selongsong roket, Kompresi berisi laser multi-lini. Tiap lini memiliki rentang frekuensi tersendiri dan sistem pemanduan internal yang tak dapat diganggu oleh sistem filter musuh.
Hingga saat ini, sistem senjata Kompresi masih dirahasiakan dan belum ada informasi mengenai karakteristik senjata seperti jangkauan tembak, kekuatan tembakan, maupun jumlah target yang dapat dihancurkan.

Jangkauan tembak Kompresi diduga lebih pendek dibanding Sanguin, namun dua kali lipat dibanding jangkauan tank modern. Namun, di luar semua keunggulan tersebut, Kompresi masih mengidap penyakit senjata laser, yakni hanya bisa menghancurkan target yang tak terhalang apapun.


Peluncuran tembakan jarak dekat saat pertempuran juga terhambat oleh relief daratan, sehingga dengan kata lain, sistem laser masih terbilang kurang praktis.
Namun bagaimanapun, seperti yang telah ditunjukan oleh AS dan Tiongkok, penggunaan laser dapat menjadi alternatif untuk menghancurkan misil, helikopter, dan pesawat drone di masa mendatang.