Kamis, 21 Maret 2019

Selandia Baru Minta Erdogan Klarifikasi Komentar Soal Teror


Selandia Baru Minta Erdogan Klarifikasi Komentar Soal Teror
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardens. (Reuters/Ross Setford)




Jakarta, CB -- Wakil Perdana Menteri Selandia Baru, Winston Peters, akan bertolak ke Turki untuk meminta klarifikasi kepada Presiden Recep Tayyip Erdogan, atas pernyataan kontroversialnya terkait teror penembakan di dua masjid Kota Christchurch pekan lalu.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardens, menuturkan mengutus wakilnya yang juga merangkap sebagai menteri luar negeri itu ke Turki untuk meminta penjelasan segera kepada Erdogan.

"Wakil PM kami akan menghadapi komentar-komentar (Erdogan) itu di Turki. Dia (Peters) akan meluruskan hal ini secara langsung dalam tatap muka," ucap Jacinda kepada wartawan di Christchurch seperti dikutip Reuters, Rabu (20/3).


Langkah itu dilakukan Selandia Baru sebagai tanggapan atas komentar Erdogan yang mendesak Selandia Baru menerapkan hukuman mati kepada Brenton Tarrant, warga Australia yang menjadi pelaku penembakan Christchurch.


Di hadapan ribuan warganya saat kampanye, Erdogan mengatakan Turki akan menghukum Tarrant jika Selandia Baru enggan melakukannya.

Dalam kampanye itu, Erdogan juga memperingatkan setiap warga Selandia Baru dan Australia yang anti-Muslim di negaranya akan "dipulangkan dalam peti" oleh Turki seperti yang terjadi dengan pendahulu mereka di Gallipoli.

Gallipoli merupakan salah satu pertempuran yang terjadi semasa Perang Dunia I, di mana lebih dari 8.000 pasukan Australia tewas saat menghadapi angkatan bersenjata Kekhalifahan Ottoman, yang saat ini menjadi Turki.

Erdogan juga disebut menggunakan rekaman teror penembakan Christchurch selama kampanyenya, sebagai pengingat akan propaganda anti-Islam.

Sementara itu, di Jakarta, Peters kembali mengecam pernyataan Erdogan tersebut.

Peters menganggap Erdogan tidak cukup memahami situasi sebenarnya yang terjadi di Selandia Baru.

"Saya bisa melihat (reaksi) Presiden Turki ketika berita (terkait pernyataannya) itu keluar. Saya sejujurnya merasa dia tidak tahu terkait masalah ini," kata Peters dalam pernyataan bersamanya dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla usai melakukan pertemuan bilateral di sela-sela High Level Dialogue on Indo-Pacific Cooperation di Hotel Fairmont.

Peters enggan mengomentari lebih banyak lagi pernyataan Erdogan tersebut. Dia mengatakan pemerintahnya sedang berfokus menangani penanggulangan pasca-teror.

Aksi teror yang dilakukan seorang warga Australia, Brenton Tarrant, terjadi di dua masjid di Kota Christchurch pada 15 Maret 2019. Yakni Masjid Al Noor dan Masjid Linwood.

Insiden terjadi ketika umat Islam setempat sedang bersiap untuk melaksanakan salat Jumat. Jumlah korban meninggal akibat peristiwa itu mencapai 50 orang.

Korban luka dalam kejadian itu juga mencapai 50 orang. WNI yang menjadi korban luka adalah Zulfirmansyah dan anaknya, dan yang meninggal dalam insiden itu adalah Lilik Abdul Hamid.

Setelah peristiwa itu terjadi, kepolisian Selandia Baru menangkap empat orang, terdiri dari tiga lelaki dan seorang perempuan. Namun, baru Tarrant yang dijerat dengan dakwaan pembunuhan dan disidangkan.





Credit  cnnindonesia.com