Kamis, 27 November 2014

BATAN: Nuklir Mampu Menangani Penyakit Kritis





 
Jakarta, CB - Dunia tengah mempromosikan pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Kini menurut para ahli, selain sebagai sumber energi alternatif utama, teknologi nuklir juga dikembangkan untuk kepentingan medis. Dunia kedokteran saat ini telah memanfaatkan nuklir untuk penanganan beberapa penyakit kritis seperti kanker dan gangguan ginjal.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Djarot Sulistio Wisnubroto menjelaskan, penyinaran radiasi telah digunakan untuk penanganan penyakit kanker. Adapun untuk gangguan ginjal, proses renografi telah membantu para dokter untuk mendiagnosis kondisi ginjal pasien.

“Sederhananya, kalau kita kena kanker, obat paling efektif, ya teknologi nuklir. Tapi kita tidak ingin kena kanker, bukan?” ujar Djarot dalam siaran pers, Selasa (25/11). Pemeriksaan renografi, misalnya, mengharuskan injeksi senyawa Iodine-131 hipuran ke dalam tubuh pasien.

Iodine-131 adalah senyawa radioaktif yang akan membantu memetakan fungsi ginjal, adapun hipuran adalah tracer atau senyawa pembawa yang akan membawa Iodine-131 menuju organ yang diperiksa. Dosis senyawa radioaktif yang dimasukkan ke dalam tubuh sangat kecil sehingga tidak mengganggu organ internal tubuh.

Untuk penyakit kanker, dunia kedokteran telah menemukan Positron Emission Tomography (PET) Scan guna mengetahui fase kanker. Tak jauh berbeda dengan Ranogram, saat melakukan PET-Scan, pasien akan disuntik dengan senyawa radioaktif, yang mana senyawa itu akan menuju ke organ target. Selanjutnya, pasien akan masuk ke dalam sebuah scanner berbentuk tabung. Scanner akan memindai, dan hasilnya akan terlihat di layar komputer.

Djarot menambahkan, BATAN sebenarnya telah memproduksi berbagai peralatan berbasis nuklir untuk kepentingan kesehatan namun tidak secara masif. “Kita sudah produksi, tapi itu prototype saja yang akan dijadikan rujukan untuk kepentingan penelitian berbagai rumah sakit,” tambahnya.

Data World Health Organization (WHO) menunjukkan, kematian akibat kanker di dunia mencapai 8,2 juta orang di tahun 2012. Dari total penderita kanker, 20 persen diantaranya disebabkan karena konsumsi rokok, dan 70 persen kematian disebabkan karena kanker paru-paru.

Global Nuklir untuk Kesehatan

Melihat pentingnya nuklir untuk kesehatan umat manusia, berbagai perusahaan nuklir di dunia terus mengembangkan riset nuklir untuk kesehatan, salah satunya adalah Rosatom, perusahaan nuklir asal Rusia. Saat ini Rosatom telah menyuplai produk-produk seperti isotop, radiofarmasi, instrumen radioisotop, dan senyawa kimia termasuk Iodine-131 ke lebih dari 30 negara.

Selain itu, Rosatom juga tengah memproduksi peralatan medis khusus Ephatom gamma CT scanner yang bisa mendiagnosis beragam kondisi medis. Produksi masal scanner ini akan dilakukan dalam waktu dekat. “Komitmen kami adalah untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan dami, termasuk nuklir untuk energi. Kami menyediakan beberapa item penting untuk mendukung perawatan bagi para pasien di dunia,” ujar Wakil Presiden Rosatom International Network, Ivan Dybov.

Rosatom tengah mengembangkan sebuah pusat penelitian, pengembangan, dan pelatihan nuklir untuk kesehatan yang direncanakan beroperasi pada 2015 di kota Dimitrovgrad. Rusia juga akan membangun pusat-pusat penelitian nuklir untuk kesehatan di kota-kota lain, seperti di Obninsk dan Tomsk.

Credit GATRAnews