Selasa, 25 November 2014

Dark Sword, Drone Supersonik Pertama Di Dunia Milik China

 Pengembang masih merahasiakannya.
 Dark Sword drone China dengan kecepatan supersonik

CB - Unit tempur China yang misterius, Dark Sword atau Anjian dalam bahasa China, mungkin akan menjadi pesawat nirawak atau drone supersonik pertama di dunia. Demikian disebut lembaga penyiaran China, CCTV.

Laman wantchinatimes, Senin 24 November, Dark Sword sudah mulai mencuat sejak 2006, saat konsep pesawat dengan bentuk segitiga yang tidak biasa itu diperkenalkan dalam pameran Zhuhai Airshow, di Provinsi Guangdong.

Model drone milik China itu juga dipamerkan pada Paris Air Show, namun menghilang pada pameran-pameran udara selanjutnya. Tidak ada pernyataan resmi tentang pengembangan drone itu, dan sejumlah pihak menyebut proyek dihentikan karena kekurangan dana.

Pakar penerbangan China, Fu Qianshao, mengatakan pada CCTV bahwa dia tidak mengetahui status proyek Dark Sword. Namun dia menyebut tidak akan terkejut, jika proyek itu masih dikembangkan secara rahasia, dan telah menjalani penelitian lanjutan serta uji terbang.

Dia menambahkan, tidak adanya transparansi bukan hal baru dalam industri penerbangan, dan kerahasiaan selalu dilakukan Amerika Serikat. Fu yakin model konsep sebuah pesawat, dapat mengungkap sesuatu tentang kemampuan teknologi sebuah negara.

Juga kualitas penelitian dan pengembangan teknologi negara itu. Dia menambahkan, model Dark Sword yang ditampilkan di Zhuhai Airshow, dapat menjadi rujukan bagi para ahli, untuk mengukur industri penerbangan China, dan mengungkap data lebih dari yang dibuka oleh pihak pengembang.

Laman Daily Mail, Senin 24 November, menyebut pengembang Dark Sword, mengatakan fokus utama pengembangan drone itu adalah kemampuan supersoniknya. Kecepatan tinggi, disebut untuk memenuhi tuntutan unit tempur yang sulit dideteksi, dan kemampuan manuver.

Dark Sword diyakini akan bersaing dengan sistem milik Inggris, Taranis, dalam perlombaan drone berkecepatan supersonik. Drone milik Inggris itu telah diuji coba, awal 2014, dan disebut telah melampaui semua harapan sebelumnya.

Taranis, yang merujuk pada nama dewa petir, didesain untuk terbang lebih cepat dari suara, dan meloloskan diri dari radar musuh dengan desain sayap tunggal. Pada uji coba, Taranis dapat terbang dengan konfigurasi siluman secara penuh, membuat drone itu tidak dapat terdeteksi radar.

Pengembangan Taranis menghabiskan £185 juta atau sekitar Rp 3,5 triliun. Taranis telah menjalani beberapa penerbangan sepanjang 2013, dengan berbagai ketinggian dan kecepatan hingga sekitar satu jam.


Credit VivaNews