Jakarta, CB -- Kementerian Pertahanan Amerika Serikat mengajukan anggaran pertahanan senilai $686 miliar atau sekitar Rp9.400 triliun kepada Kongres untuk menghadapi ancaman China dan Rusia. Jika disetujui, anggaran tahun ini bisa jadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah AS.
Di
saat yang sama, pemerintahan Donald Trump juga berencana memangkas
pengeluaran untuk dipomasi internasional dan bantuan luar negeri dalam
anggarannya.
Mengungkapkan rencana tersebut pada Senin (12/2),
Presiden Trump menyatakan militer Amerika akan jadi yang paling kuat
sepanjang masa, dengan "benar-benar menambah setiap persediaan senjata
yang ada."
Anggaran $686 miliar yang diajukan Pentagon lebih tinggi $80 miliar
dari 2017 lalu. Kementerian tersebut menyatakan peningkatan ini terutama
dibutuhkan untuk menangkal ancaman Rusia dan China.
"Kompetisi
kekuatan hebat, bukan terorisme, telah menjelma jadi tantangan utama
bagi keamanan dan kesejahteraan AS," kata Wakil Menteri Pertahanan
Defens David L Norquist kepada wartawan, menyusul penungkapan rencana
anggaran.
"Semakin jelas bahwa China dan Rusia ingin membentuk dunia konsisten
dengan model otoriternya-memperoleh kewenangan veto terhadap keputusan
ekonomi, diplomatik dan keamanan negara-negara lain," bunyi dokumen
rencana anggaran tersebut, dikutip
CNN.
Beijing
"menggunakan perekonomian buas untuk mengintimidasi para tetangganya
sembari memiliterisasi fitur-fitur di Laut China Selatan."
China
"berupaya membentuk hegemoni regional Indo-Pasifik di jangka pendek,"
kata dokumen tersebut. Sementara untuk jangka panjang, negara itu
disebut berupaya untuk "mencapai keunggulan global" atas AS.
Dokumen
itu mengikuti laporan terkonfirmasi soal pembangunan pulau yang
dilakukan China di Laut China Selatan, lengkap dengan sejumlah fasilitas
yang tengah dibangun di kepulauan Spratly dan Paracel serta di
Dangkalan Scarborough.
Pekan lalu, situs resmi Angkatan Bersenjata Pembebasan Rakyat China
mengunggah artikel soal patroli jet tempur Sukhoi SU-35 di atas daerah
tersebut.
Patroli pesawat jarak jauh bermesin ganda itu
menunjukkan "tekad Angkatan Udara China untuk mengimplementasikan
misi-misi di era baru dan dengan tegas mempertahankan kedaulatan
nasional dan kepentingan dan keamanan maritim," bunyi artikel tersebut
mengutip Wang Mingzhi, profesor di Akademi Komando Angkatan Udara China.
Jet tempur siluman China, J-20, dinyatakan siap tempur. (China Daily/via REUTERS)
|
Perkembangan angkatan udara China konsisten dengan upaya untuk
meningkatkan kapabilitas militernya. Pada Jumat, Beijing menyatakan jet
tempur siluman barunya yang dinilai sebagai pesaing F-22 dan F-35 milik
AS, J-20, sudah siap tempur.
Pada tahun lalu, China menambahkan
kapal perang canggih pada armada angkatan lautnya dan secara resmi
membuka pangkalan militer luar negeri pertama di Djibouti.
Soal Rusia, dokumen anggaran AS menyebut negara itu "telah melanggar
perbatasan negara-negara sekitar dan berupaya mendapatkan kekuatan veto
seputar keputusan ekonomi, diplomatik dan keamanan negara-negara
tetangga."
Moskow juga disebut berupaya "memecahkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO)."
Pesawat
militer Rusia beberapa kali terlibat dalam insiden yang nyaris berujung
pada tabrakan dengan jet Amerika Serikat di Laut Hitam dan Suriah,
dalam bulan-bulan terakhir.
Tahun lalu, Presiden Rusia Vladimir
Putin Vladimir Putin memerintahkan langkah yang disebut para analis
sebagai aksi pamer kekuatan militer, lewat parade angkatan laut dari
Vladivostok ke timur St Petersburg dan pertunjukan pasukan di Suriah dan
Crimea.
Rencana anggaran AS menekankan pengadaan pertahanan peluru kendali,
dengan penambahan pada sistem yang diidentifikasi sebagai faktor kunci
penangkal ancaman program nuklir Korea Utara.
Pentagon meminta
pengadaan 37 rudal Standard Block 1B untuk kapal pertahanan rudal Aegis
milik Angkatan Laut dan situs-situs di pesisir.
AS berencana menambah jumlah sistem pertahanan rudal THAAD. (USFK/Yonhap via REUTERS)
|
Di Pasifik, sistem Aegis dikerahkan pada belasan kapal penghancur rudal
dan kapal penjelajah yang secara teori bisa menembak jatuh rudal Korut.
Selain
itu, rencana anggaran juga termasuk pengadaan 82 sistem pencegat rudal
THAAD. Sistem tersebut memicu kontroversi ketika dikerahkan di Korea
Selatan, tahun lalu, termasuk mengundang penentangan dari China yang
menganggap radar senjata itu bisa memantau jauh ke wilayahnya.
Ada pula rencana pengadaan 20 rudal tambahan pada sistem pertahanan Midcourse yang bisa mencegat rudal di luar angkasa.
"Sejujurnya
kita perlu melakukan itu karena negara lain juga melakukannya," kata
Trump. "Jika mereka berhenti, kita berhenti, tapi mereka tidak berhenti.
Jadi jika mereka tidak akan berhenti, kita akan jauh lebih maju dalam
persoalan nuklir."
Secara luas, Trump ingin mengadakan 10 kapal
perang di tahun anggaran yang akan datang, menambah puluhan jet tempur
siluman F-35 dan jet tempur kapal induk F/A-18.
Anggaran itu juga
melanjutkan pengembangan pengebom B-21 yang dipandang bakal jadi
pengganti B-2, pesawat kunci pembawa nuklir AS. Selain itu, AS juga
berencana melanjutkan pengembangan kapal selam untuk memperbarui
kemampuan nuklirnya di lautan.
Credit
cnnindonesia.com