Selasa, 01 November 2016

Izinkan Pengerahan 330 Marinir AS, Norwegia Target Nuklir Rusia

 
Izinkan Pengerahan 330 Marinir AS, Norwegia Target Nuklir Rusia
Para marinir AS bergabung dengan marinir Norwegia, Inggris dan Belanda dalam latihan militer di dekat dekat Trondheim. Foto/US Departement of Defence
 
MOSKOW - Norwegia telah diperingatkan keras oleh politisi senior Rusia bahwa negara itu bisa jadi target serangan nuklir Rusia setelah mengizinkan pengerahan 330 marinir Amerika Serikat (AS) di wilayahnya. Pengerahan ratusan marinir AS itu dianggap sebagai ancaman militer langsung terhadap Rusia.

Peringatan itu disampaikan Frants Klintsevich, Wakil Ketua Komite Pertahanan dan Keamanan Parlemen Rusia, dalam wawancaranya dengan channel  Rusia, TV2.

Norwegia bergabung dengan NATO pada tahun 1949 dengan jaminan tidak akan mengizinkan pasukan asing ditempatkan di sana. “Ini sangat berbahaya untuk Norwegia dan Norwegia,” ujarnya mengacu pada izin penyebaran 330 marinir AS di Norwegia.

”Bagaimana kiami harus bereaksi terhadap ini? Kami sebelumnya tidak pernah memasang Norwegia pada daftar target untuk senjata strategis kami. Tetapi jika ini berkembang, penduduk Norwegia akan menderita,” ujarnya.

”Karena kami perlu bereaksi terhadap ancaman militer definitif. Dan kami memiliki hal-hal untuk bereaksi terhadap itu, saya mungkin juga mengatakan seperti itu,” lanjut dia, yang dikutip semalam (31/10/2016).

Namun, Menteri Pertahanan Norwegia, Ine Eriksen Soreide, telah menolak kritik Rusia. Dia mengatakan bahwa penyebaran 330 marinir AS di dekat Trondheim—sekitar 700 mil dari perbatasan Rusia—hanya uji coba yang akan dipertimbangkan kembali pada tahun depan.

“Tidak ada alasan objektif bagi Rusia untuk bereaksi terhadap ini. Tetapi Rusia bereaksi pada saat dengan cara yang sama terhadap hampir semua negara-negara NATO,” katanya.

Komandan Korps Marinir AS untuk Eropa dan Afrika, Mayor Jenderal Niel Nelson, mengatakan bahwa penyebaran ratusan marinir itu akan memberikan kesempatan bagi korps untuk berlatih langsung dengan pasukan Norwegia.

”Setelah merotasi kehadiran (militer) di Norwegia akan meningkatkan kemampuan kolektif dari dua kekuatan kami untuk bekerja sama” ujarnya.



Credit  Sindonews