Ilustrasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (REUTERS/Carlo Allegri)
Jakarta, CB -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mempertimbangkan mengakui pemimpin Majelis Nasional Venezuela,
Juan Guaido, sebagai presiden de facto negara di Amerika Selatan itu.
Menurut tiga sumber, langkah yang diambil Trump sebagai bentuk tekanan
supaya Presiden Nicolas Maduro mundur, menyusul krisis politik dan ekonomi di negara itu yang semakin parah.
Guiado
merupakan oposisi Maduro. Dia merupakan Presiden Majelis Nasional
Venezuela yang baru dilantik untuk periode keduanya pada pekan lalu.
Dikutip CNN,
Rabu (16/1), juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Garret Marquis
menolak membenarkan Trump tengah mempertimbangkan langkah tersebut.
Namun, ia mengatakan AS telah menyatakan dukungannya terhadap Juan
Guiado.
Dua sumber lainnya menyatakan pemerintahan Trump juga tengah
mempertimbangkan menjatuhkan sanksi paling keras bagi industri minyak
Venezuela. Termasuk rencana menerapkan embargo minyak secara menyeluruh
terhadap negara tersebut.
Sebelumnya, AS telah memberlakukan
embargo minyak terhadap Venezuela. Namun, Trump menolak mengambil
langkah lebih lanjut setelah analisis memprediksi manuver itu bisa
memicu kenaikan harga gas AS.
Analisis sejumlah pejabat senior AS
memaparkan embargo penuh minyak terhadap Venezuela bisa menyebabkan
kenaikan harga gas alam di AS sebesar 15 persen per galon dalam enam
bulan.
"AS saat ini mempertimbangkan seluruh instrumen
diplomatik, politik, ekonomi, dan senjata lainnya sebagai tanggapan atas
perebutan kekuasaan yang dilakukan rezim Maduro yang tidak sah," ucap
Marquis saat ditanya soal rencana embargo minyak kepada Venezuela.
Pemerintahan Trump saat ini masih terus mempersiapkan argumen untuk mengakui Guaido sebagai pemimpin sah Venezuela.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton, juga telah menyatakan pernyataan serupa.
"AS mendukung keputusan berani dari Presiden Majelis Nasional Juan
Guaido untuk memohon perlindungan di bawah konstitusi Venezuela dan
menyatakan bahwa Maduro tidak secara sah memegang kepemimpinan negara,"
ucap Bolton pada Jumat pekan lalu.
Tak lama setelah Guaido
sempat ditahan oleh pemerintah Venezuela pada akhir pekan lalu, Pence
mengecam Maduro dan menganggapnya sebagai diktaktor tanpa klaim sah
kepemimpinan, dan menegaskan kembali dukungan AS terhadap Guaido.
Oposisi
Venezuela, AS, dan sejumlah negara lainnya menyatakan kepemimpinan
Maduro, seorang sosialis yang telah menjabat presiden sejak 2013 lalu,
adalah tidak sah.
Pada pekan lalu, Organisasi Negara Amerika
Selatan beranggotakan 33 negara memutuskan tak mengakui rezim Maduro
sebagai pemerintahan sah dengan suara 19-6 dan delapan abstain.
Paraguay,
sebagai salah satu negara anggota, mengumumkan pemerintahannya telah
memutus hubungan diplomatik dengan Venezuela. Paraguay juga telah
menutup kedutaan besarnya di Caracas.
Sementara itu, berdasarkan konstitusi Venezuela, kekosongan jabatan
presiden bisa diisi oleh Presiden Majelis Nasional negara itu.
Credit
cnnindonesia.com