Senin, 11 Februari 2019

Iran Dukung Amerika Menarik Pasukan dari Suriah


Seorang wanita Suriah memanen anggur yang akan difermentasikan menjadi arak, minuman keras tradisional Suriah, di Desa Ammik, Libanon, Sabtu, 8 September 2018. Arak memiliki rasa manis dan kandungan alkohol yang tinggi, sekitar 40 persen. AP.
Seorang wanita Suriah memanen anggur yang akan difermentasikan menjadi arak, minuman keras tradisional Suriah, di Desa Ammik, Libanon, Sabtu, 8 September 2018. Arak memiliki rasa manis dan kandungan alkohol yang tinggi, sekitar 40 persen. AP.

CB, Teheran – Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, menyambut keputusan pemerintah Amerika Serikat untuk menarik pasukan dari Suriah.


 
Zarif mengatakan keberadaan pasukan AS di Suriah sebagai ilegal sejak awal.
“Mereka sebaiknya segera menarik pasukan. Ini akan menguntungkan seluruh wilayah. Kehadiran pasukan AS bertentangan dengan kepentingan negara-negara (Timur Tengah),” kata Zarif kepada media RT Arabic dan dilansir media RT pada Jumat, 8 Februari 2019.


 
Zarif menanggapi pernyataan Presiden AS, Donald Trump, pada Desember 2018 untuk menarik pasukan dari Suriah dan Afganistan. Seperti dilansir Reuters Trump beralasan pasukan AS tidak lagi dibutuhkan di Suriah karena telah menang melawan ISIS.
Dia juga menilai perang berkelanjutan membebani anggaran negara. Saat ini ada sekitar 2000 pasukan AS yang bermarkas di Kota Manbij, yang terletak di Suriah bagian utara.

 
Trump sempat menghubungi pemerintah Turki untuk membantu mengalahkan sisa-sisa ISIS di Suriah setelah pasukan AS mundur. Presiden Recep Tayyip Erdogan menyanggupi permintaan itu dengan syarat mendapat dukungan logistik.

Menlu Iran Javad Zarif. Reuters
Beberapa hari sebelumnya, Zarif bertemu dengan Menteri Luar Negeri Suriah, Walid Muallem, di Teheran. Keduanya membicangkan soal kerja sama ekonomi dan upaya membangun kembali Suriah yang hancur sejak perang berlangsung pada 2011.

 
“Zarif mengatakan perusahaan Iran siap untuk bekerja sama secara ekonomi dengan Suriah pada masa rekonstruksi,” begitu dilansir media Times Now News. Iran dan Rusia menjadi pendukung Suriah dalam menghadapi pemberontak, yang didukung Turki. 





Credit  tempo.co