Rabu, 27 Februari 2019

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un Tunggu Trump di Vietnam



Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un Tunggu Trump di Vietnam
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un Tunggu Trump di Vietnam

HANOI - Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un telah tiba di Vietnam kemarin untuk konferensi tingkat tinggi (KTT) dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kedua pemimpin akan berupaya mencapai kesepakatan tentang cara penerapan janji Korut untuk menyerahkan senjata nuklirnya. Trump diperkirakan tiba di Hanoi pada pukul 9 malam waktu setempat.

“Mereka akan bertemu untuk percakapan langsung pada Rabu (27/2) malam, diikuti dengan makan malam, yang masing-masing ditemani oleh dua orang dan penerjemah,” ungkap juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders kepada para jurnalis di atas pesawat Air Force One yang terbang menuju Hanoi kemarin.

Sanders menambahkan, “Kim dan Trump akan bertemu lagi pada Kamis (28/2)” KTT kedua itu digelar delapan bulan setelah pertemuan pertama di Singapura. Adatekanan kepada kedua pihak untuk melangkah lebih nyata, tak hanya komitmen seperti yang dibuat di Singapura untuk sepenuhnya melakukan denuklirisasi semenanjung Korea.

Para pengkritik memperingatkan Trump agar tidak membuat kesepakatan yang banyak menghalangi ambisi nuklir Korut. Mereka meminta Trump mengambil langkah lebih jelas untuk tindakan Korut meninggalkan senjata nuklir yang mengancam AS. Sebagai imbalan, Kim diperkirakan mengharapkan konsesi besar dari AS seperti pemulihan dari sanksi dan deklarasi bahwa Perang Korea 1950-1953 telah resmi berakhir.

Kim yang melakukan perjalanan dari Pyongyang dengan kereta, tiba di stasiun di Kota Dong Dang, Vietnam, setelah melintasi perbatasan China. Para pejabat Vietnam menyambutnya di stasiun dengan karpet merah, termasuk pasukan kehor matan dan kibaran bendera Korut dan Vietnam. Adik Kim, Kim Yo-jong, yang muncul sebagai ajudan penting mendampingi kakaknya.

Puluhan pengawal berlari di samping mobil Kim saat dia melakukan perjalanan dua jam menuju ibu kota Vietnam, Hanoi. Jalanan ditutup oleh pasukan keamanan Vietnam yang dilengkapi personel bersenjata lengkap untuk menjaga jalanan yang dilalui Kim menuju Hotel Mulia, tempat Kim menginap.

Beberapa jam kemudian, Kim untuk pertama kali muncul, mengunjungi kedutaan besar (kedubes) Korut di Hanoi. Kim dan Trump juga akan menggelar pertemuan terpisah dengan para pemimpin Vietnam. Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Mike Pompeo juga tiba di Hanoi kemarin.

Dia menjadi utusan penting Trump dalam upayanya memperbaiki hubungan dengan Korut dan telah melakukan beberapa perjalanan ke Pyongyang untuk negosiasi mengakhiri program nuklir Korut. Trump menjelaskan, dirinya dan Kim akan memiliki pertemuan tingkat tinggi yang sangat hebat.

Dalam tweet, Trump menekankan keuntungan bagi Korut jika mereka menyerahkan senjata nuklirnya. “Dengan denuklirisasi penuh, Korut akan cepat menjadi kekuatan ekonomi. Tanpa itu, hanya akan sama. Chairman Kim akan membuat keputusan bijaksana!” tweet Trump. Saat pidatonya akhir pekan lalu, Trump berupaya meredam harapan tentang terobosan besar di Hanoi dengan menyatakan dia akan bahagia selama Korut tetap menghentikan tes senjata.

“Saya tidak terburu-buru. Saya hanya tidak ingin tes. Selama tidak ada tes, kita senang,” ujar Trump. Korut menggelar tes nuklir terakhir pada September 2017 dan tes rudal balistik antar benua pada November 2017. Para pengamat menyatakan, kedua pemimpin harus mengambil langkah lebih nyata.

“Tugas paling penting adalah membagi pemahaman bahwa denuklirisasi sangat diperlukan,” kata Gi-Wook Shin, direktur Pusat Riset Asia Pasifik Stanford kepada Reuters. “Ambiguitas tentang istilah denuklirisasi hanya akan menambah skeptisme tentang komitmen AS dan Korut pada denuklirisasi,” kata Gi-Wook Shin. Saat AS meminta Korut menyerahkan seluruh program nuklir dan rudalnya, Korut ingin melihat pencabutan payung nuklir AS untuk Korea Selatan (Korsel).

Juru bicara kepresidenan Korsel menjelaskan, kedua pihak mungkin menyepakati berakhirnya Perang Korea. Langkah ini sangat diinginkan oleh Korut. Kedua pihak juga telah membahas kemungkinan deklarasi politik bahwa perang telah berakhir.



Credit  sindonews.com