Lewat surat kepada Presiden Perancis Emmanuel
Macron, Raja Arab Saudi disebut mengungkapkan kekhawatiran atas rencana
Qatar membangun sistem pertahanan udara. (REUTERS/Tomohiro Ohsumi)
Jakarta, CB -- Raja Arab Saudi, Salman
bin Abdulaziz Al Saud, disebutkan mengancam akan melakukan tindakan
militer jika Qatar bersikeras tetap memasang sistem pertahanan udara
dari Rusia.
Seperti dilansir Reuters, mengutip dari surat kabar Perancis, Le Monde, Salman telah mengirimkan surat kepada Presiden Perancis, Emmanuel Macron, soal hal tersebut.
"Kerajaan
akan siap melakukan segala hal yang diperlukan untuk memastikan
mengeliminasi sistem pertahanan ini, termasuk aksi militer," demikian
kutipan surat Raja Salman kepada Macron yang dilansir Le Monde.
Tak
ada kepastian spesifik apakah dalam surat tersebut, Salman pun meminta
Macron untuk membantu pencegahan penjualan rudal demi menjamin
kedamaianan di wilayah tersebut. Sementara itu, baik dari pemerintahan
Perancis maupun kerajaan Arab Saudi belum ada yang merespon soal kutipan
surat yang dimuat Le Monde tersebut.
Bukan hanya Arab
Saudi, akibat upaya Qatar ingin membangun sistem pertahanan udara itu
pun mendapatkan keberatan dari negara-negara di kawasan itu di antaranya
Mesir, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.
Upaya Qatar untuk membangun
sistem pertahanan udara itu sudah berlangsung sejak tahun lalu lewat
penandatanganan kesepakatan militer dan kerja sama teknik dengan Rusia.
Kemudian, pada awal tahun ini, Duta Besar Qatar di RUsia menyatakan
telah ada perbincangan untuk membeli sistem pertahanan udara, rudal
S-400 dari Negara Beruang Merah tersebut.
Sistem pertahanan udara, rudal S-400 dari Rusia. (UMNICK via WIkimedia Commons)
Kepala Delagasi Uni Eropa untuk Mesir, Ivan Surkos [National Erasmus+ Office - Egypt/Facebook]
CB, Jakarta - Eropa siap mengucurkan dana senilai US$ 12,9 miliar atau setara dengan Rp 180 triliun kepada Mesir. Menurut Uni Eropa, negeri piramida itu mitra dagang sangat penting di Mediterania Selatan.
Hal
itu disampaikan kepala delegasi Uni Eropa untuk Mesir, Ivan Surkos,
pada acara iftar, buka puasa bersama, di Kairo sebagaimana dilaporkan Daily News Egypt.
Uni Eropa Desak Mesir Akhiri Konfrontasi
"Kerja sama yang kuat antara Mesir dan Uni Eropa itu terlihat dari
jumlah bantuan yang diberikan mencapai US$ 351 juta atau sekitar Rp 5
triliun dalam bentuk hibah," katanya seperti dikutip Middle East Monitor.
Surkos
menjelaskan, Mesir dan Uni Eropa bersepakat melanjutkan kerja sama
dalam berbagai bidang, termasuk urusan politik, hak asasi manusia,
imigran dan pembangunan berkelanjutan sebagaimana disepakati tahun lalu
hingga 2020.
Mengenai masalah keamanan, Surkos menguraikan, Uni
Eropa mendukung langkah Mesir memberantas terorisme dan menekankan
pentingnya pendekatan komprehensif yang membahas akar penyebab
ekstrimisme.
Presiden
Mesir, Abdel Fattah al-Sisi berbicara dalam acara malam natal koptik
yang dipimpin paus Tawadros II di Gereja Ortodoks Koptik Alexandria dan
Patriarkh Tahta St. Mark Cathedral, Kairo, 6 Januari 2016. REUTERS/Amr
Abdallah Dalsh
Mesir saat ini sedang melakukan operasi militer besar ke kawasan Sinai untuk memberangus gerakan perlawanan bersenjata ISIS.
Sejak berkuasa lima tahun lalu, diawali dengan menggulingkan pemerintahan hasil pemilu demokratis, Presiden Mesir
Abdel Fattah al-Sisi memerintah dengan tangan besi. Negara membiarkan
pembunuhan tanpa melalui prosedur hukum, mengilangkan paksa orang dan
menutup media yang kritis terhadap pemerintahannya.
Setelah dilantik kembali menjadi presiden
Mesir, Abdel Fattah al-Sisi bersumpah untuk menumpas terorisme di
negaranya serta memperbaiki perekonomian. (REUTERS/The Egyptian
Presidency)
Jakarta, CB -- Abdel Fattah al-Sisi
bersumpah untuk menumpas kelompok teroris militan dan memperbaiki
perekonomian saat dilantik kembail menjadi Presiden Mesir, Sabtu (2/6).
Setelah
dilantik, sebelum memberikan sambutan publik untuk pertama kali, Sisi
memimpin mengheningkan cipta selama semenit bagi para rakyat Mesir yang
telah tewas demi negaranya. Itu ditujukan Sisi kepada para tentara,
polisi, dan warga sipil yang menjadi korban dari serangkaian serangan
mematikan militan dalam beberapa tahun terakhir, terutama di Semenanjung
Sinai.
"Bersama
kita melawan terorisme brutal yang merongrong kesatuan dari tanah air
kita," tegas Sisi saat melakuan pidato kenegaraan dalam upacara
pelantikan seperti dikutip dari AFP.
"Bersama kita menghadapi tantangan politik, sosial, dan
ekonomi, serta efek negatif mereka pada semua sendi-sendi kehidupan,"
ujar Sisi.
Sejak 9 Februari silam, militer Mesir telah melakukan
operasi 'pembersihan' teroris di negara tersebut. Operasi itu telah
menewaskan setidaknya sektiar 200 anggota kelompok militan dan 35
tentara.
Sisi yang sebelumnya menjabat sebagai panglima militer
sekaligus menteri pertahanan merangsek ke kursi kepemimpinan negara usai
menggulingkan presiden sipil, Mohamed Mursi pada Juli 2013 silam.
Setelah Mursi terguling, Mesir lalu menggelar pemilu presiden kembali
pada 2014.
Sisi pun mundur dari karier militernya guna mengikuti
pemilu tersebut, dan berhasil memenanginya dengan perolehan suara
mencapai 97 persen.
Kini,
Sisi kembali menjadi presiden Mesir untuk periode empat tahun
selanjutnya setelah memenangkan suara 97% dalam pemilu pada Maret lalu.
Upacara
pelantikan dirinya sebagai presiden diwarnai jet tempur yang terbang
membentuk formasi gambar bendera Mesir di langit Kairo, dan
helikopter-helikopter militer mengiringi perjalanan Sisi
Pemimpin baru Catalonia, Quim Tora, dilantik pada hari ini, Sabtu (2/6). (Reuters/Hannibal Hanschke)
Jakarta, CB -- Pemimpin baru Catalonia,
Quim Torra, dilantik pada hari ini, Sabtu (2/6). Ia langsung mendesak
untuk bertemu dengan Presiden Pedro Sanchez dan menyerukan kemerdekaan
dari Spanyol.
"Pemerintahan ini berkomitmen menuju negara
independen dan membentuk republik," ujar Torra disambut teriakan
pendukungnya, "Merdeka! Merdeka!"
Melanjutkan pernyataannya,
Torra berkata, "Presiden Pedro Sanchez, mari bicara. Mari jawab
pertanyaan ini, ambil risiko, Anda dan kami. Kita perlu duduk di meja
yang sama dan bernegosiasi, pemerintah ke pemerintah."
Sanchez
juga baru dilantik hanya beberapa jam sebelum Torra untuk menggantikan
Mariano Rajoy yang digulingkan karena skandal korupsi.
Presiden dari partai sosialis ini memang mengaku ingin
berbicara dengan pemerintah Catalonia, tapi menolak referendum
kemerdekaan.
Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa
banyak pengamat meragukan kekuatan pemerintahan Sanchez karena partainya
hanya memegang 84 dari 350 kursi anggota parlemen.
Sejumlah
analis pun mulai mempertimbangkan kekuatan separatis Catalonia yang
kian besar meski sudah dibungkam setelah referendum kemerdekaan tahun
lalu.
Sejak Catalonia mendeklarasikan kemerdekaan sepihak melalui
referendum pada Oktober lalu, pemerintah pusat Spanyol langsung
mencabut hak otonomi dan mengambil alih pemerintahan daerah tersebut.
Carles Puigdemont selaku Presiden Catalonia dan pemimpin referendum kala itu lantas mengasingkan diri ke Jerman.
Madrid
kemudian menggelar pemilihan umum untuk membentuk parlemen baru
Catalonia. Dalam pemilu pada 21 Desember itu, partai separatis Catalonia
kembali mendapatkan suara mayoritas dengan 135 kursi di parlemen.
Spanyol
akhirnya mengakui kekuasaan Torra, tapi menolak meratifikasi anggota
dewan yang dipilih sang pemimpin karena empat di antaranya menghadapi
tuntutan di pengadilan terkait upaya makar.
Pada awal pekan ini,
Torra pun menyerahkan daftar nama jajaran pemerintahannya yang baru
tanpa menyertakan nama keempat pejabat itu. Akhirnya, Spanyol memberikan
lampu hijau dan menyepakati pelantikan pada hari ini.
Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto batal melakukan kunjungan ke Amerika Serikat [File: Jorge Nunez/EPA]
CB, Jakarta - Masalah pembangunan tembok perbatasan yang memisahkan Meksiko
dengan Amerika Serikat masih bergulir. Pada Rabu, 30 Mei 2018, Presiden
Meksiko, Enrique Pena Nieto, menyerang balik Presiden Amerika Serikat,
Donald Trump, dengan menyatakan pihaknya tidak sudi membayar sedikit pun
biaya membangun tembok perbatasan yang memisahkan kedua negara.
“Kepada
Presiden Donald Trump: Tidak, Meksiko tidak akan membayar untuk tembok
tersebut. Tidak sekarang dan tidak sampai kapanpun juga, hormat kami,
Meksiko,” kata Nieto melalui akun Twitter miliknya pada Rabu, 30 Mei
2018, waktu setempat.
Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto. AP Photo/Wally Santana,Pool
Respon
keras Nieto ini untuk merespond pernyataan Presiden Trump dalam sebuah
acara kampanye penggalangan dana di Nashville, Tennesse, Selasa, 29 Mei
2018. Saat itu, Trump mengatakan Meksiko wajib membayar pembangunan
tembok perbatasan yang memisahkan kedua negara yang saling bertetangga
ini.
“Mereka tidak melakukan apa-apa untuk mencegah para pendatang
atau imigran masuk melalui Meksiko, Honduras dan negara-negara lainnya.
Mereka tidak membantu kami sama sekali,” kata Trump, terkait isu
perbatasan dan pendatang atau imigran yang melibatkan dua negara
tersebut.
Aksi saling serang pernyataan antara Nieto dengan Trump
rupanya bukan pertama kalinya terjadi saat ini. Pada tahun 2016 Nieto
pernah melontarkan pernyataan yang sama mengenai isu perbatasan Amerika
Serikat dan Meksiko. Nieto juga pernah menunda pertemuan bilateral kedua
negara pada Februari 2018 setelah Trump mengancam akan memberlakukan
pajak impor kepada Meksiko agar mereka membiayai pembangunan tembok
perbatasan.
Trump semenjak masa kampanyenya sebagai Presiden
Amerika Serikat telah menjanjikan agar Meksiko membayar proyek
pembangunan tembok perbatasan kedua negara. Meski demikian, pemerintah
Meksiko selalu menolak ajakan Amerika Serikat tersebut.
Pada sisi
lainnya, pemerintahan Trump hingga kini belum juga mendapatkan pendanaan
yang diperlukan dalam proyek pembangunan tembok perbatasan dengan
Meksiko. Sebelumnya pada Maret 2018, Trump menyatakan bahwa mereka mampu
membangun tembok perbatasan sepanjang 100 mil serta mengganti
pagar-pagar lama perbatasan dengan yang baru.
Diperkirakan, total biaya yang disetujui untuk penggantian pagar-pagar baru perbatasan Meksiko-Amerika
Serikat tersebut mencapai US$ 1,6 Miliar atau setara Rp 22,4 Triliun.
Saat ini , pembangunan pagar perbatasan hingga sejauh 33 mil sudah
disetujui dengan payung hukum berupa Undang-Undang Keamanan Pagar
Perbatasan Amerika Serikat 2006.
CB, Jakarta - Presiden Brazil,
Michel Temer, membantah spekulasi adanya upaya kudeta serta intervensi
militer terhadap pemerintahannya dibalik aksi mogok dan demonstrasi
supir truk yang saat ini berlangsung di Brazil.
“Tidak ada
peluang bagi keterlibatan militer, yang saya lihat justru penolakan dari
Kementerian Pertahanan serta militer terhadap segala bentuk upaya
intervensi militer kepada pemerintah,” kata Temer, di sela-sela acara
forum investasi di Sao Paolo, Brazil, Selasa, 29 Mei 2018 waktu
setempat.
Petugas
kepolisian berusaha membubarkan pendukung Dilma Rouseff saat melakukan
protes terhadap presiden baru Michel Temer di Sao Paulo, Brasil, 1
September 2016. AP/Andre Penner
Aksi
mogok massal para supir truk sudah berlangsung selama sembilan hari dan
terjadi di seluruh Brazil. Aksi para supir truk ini dipicu oleh
kenaikan harga Bahan Bakar Minyak atau BBM yang dianggap memberatkan
mereka. Akibat aksi tersebut, kota-kota besar di Brazil mengalami
kelangkaan stok makanan, cadangan bahan bakar serta suplai obat-obatan.
Pernyataan
sebagian buruh supir truk yang menyerukan upaya kudeta telah menjadi
topik hangat yang diperbincangkan banyak orang di Brazil melalui media
sosial. Muncul pula dugaan keinginan kelompok tertentu agar militer ikut
berperan dalam banyak demonstrasi anti pemerintah.
Presiden
Temer sebetulnya telah berupaya meredam eskalasi demonstrasi dan mogok
massal para supir truk dengan mengeluarkan dekrit menurunkan harga BBM
pada akhir pekan lalu. Meski demikian, hingga Selasa, 29 Mei 2018,
demonstrasi dan blokade jalan masih terjadi di 20 negara bagian di
Brazil. Sebanyak 10 pelabuhan udara juga dilaporkan kekurangan suplai
bahan bakar sehingga berakibat banyaknya pembatalan jadwal penerbangan.
Dalam
jajak pendapat terkini di Brazil, Temer menjadi Presiden Brazil yang
kurang populer atau disukai masyarakat dengan kebijakannya sejak negeri
ini lepas dari kekuasaan rezim junta militer yang berkuasa dalam kurun
1964 hingga 1985. Temer sampai sekarang juga masih dalam menjalani
pemeriksaan pihak berwenang sehubungan dengan tuduhan korupsi.
Pada
tahun lalu, Temer harus menghadapi dua tuduhan hukum terkait dengan
kasus korupsi namun masih bisa bertahan. Menjelang pemilihan umum yang
akan berlangsung pada Oktober serta jajak pendapat masyarakat dengan
tingkat ketidakpuasan publik yang tinggi, Temer dinilai sebagian pihak
akan sulit mendapatkan dukungan dari Parlemen Brazil untuk bertahan dari tuntutan hukum yang dibebankan kepadanya.
Bendera Cina di luar gedung Parliament House (parlemen) di Canberra, Australia.
Foto: ABC
Partai Komunis Cina berusaha memengaruhi partai politik utama di Australia
CB,
CANBERRA -- Laporan hasil penyelidikan Pemerintah Australia yang
diketagorikan "sangat rahasia" telah memicu kekhawatiran. Pasalnya
diketahui adanya upaya Pemerintah Cina memengaruhi partai politik di
Australia selama dekade terakhir.
Satu sumber intelijen menjelaskan kepada ABC, infiltrasi yang
dilakukan Cina terjadi di setiap tingkatan Pemerintahan Australia, mulai
federal hingga pemerintahan daerah. Penyelidikan mengenai campur tangan
asing di Australia ini diminta oleh Perdana Menteri Malcolm Turnbull
pada 2016.
Tahun lalu dia telah mengindikasikan temuan
laporan tersebut. "Sistem kita secara keseluruhan belum bisa memahami
bagaimana sifat dan besarnya ancaman itu," katanya.
Tapi PM
Turnbull kepada Parlemen mengatakan tidak bisa memberikan rincian luas
mengenai isi laporan itu. "Temuan-temuan dalam laporan itu perlu
dirahasiakan," ujarnya.
Beberapa detail isi laporan
sekarang muncul. Stasiun TV Nine News misalnya melaporkan dokumen
tersebut mencantumkan Cina sebagai negara yang paling dikhawatirkan.
Disebutkan pula bahwa Partai Komunis Cina berusaha mempengaruhi partai
politik utama di Australia selama dekade terakhir.
Salah
satu pembuat laporan bernama John Garnaut, mantan penasehat PM Turnbull,
tidak bersedia berkomentar mengenai rincian penyelidikan. Namun
sebelumnya dia memperingatkan pengaruh Cina di Australia.
"Di
bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping yang tanpa kompromi, aktivitas
Cina begitu terang-terangan dan agresif sehingga kita tidak lagi bisa
mengabaikannya," katanya di depan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS pada
Maret lalu.
Laporan sangat rahasia ini menjadi pendorong
utama diajukannya UU Interferensi Asing yang ke Parlemen tahun lalu.
Seorang yang terlibat dalam proses ini menggambarkannya sebagai "saling
mengejar" namun menambahkan bahwa Australia berada terdepan dan
mengharapkan agar negara lain mengikutinya.
Pada pekan lalu
Duncan Lewis, Direktur Jenderal ASIO (badan intelijen Australia)
kembali menggambarkan skala aktivitas intelijen asing di negara ini
sebagai "belum pernah terjadi sebelumnya". "Para aktor asing secara
terselubung berusaha mempengaruhi dan membentuk pandangan warga
masyarakat Australia, media Australia, pejabat pemerintahan Australia,"
katanya.
John Garnaut dan Bob Carr menjadi sorotan
Pengaruh
Beijing dalam politik di Australia kembali memicu kritikan karena
pertanyaan yang diajukan tentang riwayat kerja John Garnaut. ABC
mendapatkan informasi bahwa mantan Menteri Luar Bob Carr, meminta
Senator Kristina Keneally dari Partai Buruh, untuk mengajukan pertanyaan
tentang Garnaut dalam rapat di Senat.
Sebuah sumber
mengatakan Bob Carr, yang kini memimpin Australia China Relations
Institute, memiliki "kebiasaan menulis pertanyaan" dan terkenal
melakukan hal itu. Dikatakan bahwa Carr menyarankan Senator Keneally
bertanya tentang status pekerjaan Garnaut saat ini. Namun justru Senator
Kimberly Kitching dari Partai Buruh yang membacakan pertanyaan itu
pekan lalu.
Kepada ABC Carr dengan tegas membantah telah
menyusun pertanyaan yang akan ditanyakan "salah satu dari dua senator
Partai Buruh". ABC mengetahui bahwa Senator Kitching agak kecewa karena
dia tidak diberitahu asal-usul pertanyaan itu.
"Apakah
kantor Perdana Menteri mengontrak Garnaut sebagai konsultan, penasihat
atau penulis pidato sejak Juni 2017?" tanyanya kepada para pejabat
pemerintah dalam rapat di Senat.
"Kami tentu saja memiliki
kontrak dengan John Garnaut. Kontrak dengan departemen sebagai penulis
pidato," jelas Stephanie Foster dari Departemen Kantor Perdana Menteri
dan Kabinet.
Carr, yang sebelumnya menuduh Pemerintah
anti-Cina, menanggapi hal ini dengan menyebutkan bahwa jawaban tersebut
menunjukkan kurangnya transparansi dalam pengaturan staf Perdana
Menteri. "Garnaut berhak terlibat aktif dalam perdebatan tentang Cina di
Australia. Namun seharusnya dia tidak melakukan kampanyenya di saat
menerima gaji dari Perdana Menteri," kata pernyataan itu.
Para pasukan Amerika Serikat yang dikerahkan di Afghanistan. Foto/REUTERS/Omar Sabhani
KABUL
- Militer Amerika Serikat (AS) mengklaim 50 lebih komandan senior
Taliban Afghanistan terbunuh dalam serangan roket. Puluhan pentolan
Taliban itu diserang saat sedang melakukan pertemuan di wilayah Helmand,
24 Mei lalu.
Juru bicara militer AS di Afghanistan Letnan
Kolonel Martin O'Donnell pada hari Rabu (30/5/2018), mengatakan
pertemuan kelompok Taliban itu melibatkan para komandan dari sejumlah
provinsi di Afghanistan termasuk Provinsi Farah.
"Kami pikir
pertemuan itu untuk merencanakan langkah selanjutnya," kata O`Donnell.
Menurutnya, serangan oleh sistem roket artileri akan mengganggu operasi
Taliban untuk sementara.
Dia mengatakan serangan di salah satu
jantung dari pemberontakan Taliban merupakan pukulan penting bagi para
pemberontak tersebut. "Ini pasti serangan yang penting," ujarnya, yang
dikutip dari Reuters, Kamis (31/5/2018).
O'Donnell
menambahkan, selain puluhan komandan senior, operasi militer dalam 10
hari terakhir di bulan ini juga menewaskan para komandan Taliban lain
dengan level yang lebih rendah.
Sementara itu, kelompok Taliban
menepis laporan dari militer Amerika tersebut. Menurut kelompok
tersebut, klaim militer AS hanya propaganda.
Versi kelompok
tersebut, serangan roket menghantam dua rumah warga sipil di Musa Qala.
Serangan itu menewaskan lima warga sipil dan melukai tiga lainnya. "Ini
adalah daerah pemukiman sipil, yang tidak ada hubungannya dengan
Taliban," kata juru bicara Taliban, Qari Yousaf Ahmadi, dalam sebuah
pernyataan.
Di provinsi utara Takhar, kelompok milisi bersenjata
itu bertempur dengan pasukan polisi di Distrik Dasht-e Qala. Juru bicara
polisi setempat, Khalil Aseer, pertempuran sengit terus berlangsung.
Di
Loghar, Taliban mengklaim serangan terhadap sebuah kantor polisi di ibu
kota provinsi, Pul-e Alam, menewaskan tiga polisi dan melukai 12 orang,
di antaranya empat polisi dan delapan warga sipil.
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompe dan mantan kepala intelijen Korut Kim Yong-chol di New York. Foto/Istimewa
NEW YORK
- Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo akan
bertemu dengan tangan kanan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un,
Kim Yong-chol di New York. Pertemuan ini untuk membicarakan persiapan
konferensi tingkat tinggi (KTT) antara Presiden Donald Trump dan Kim
Jong-un.
Dialog antara kedua belah pihak dimulai dengan pertemuan
makan malam yang diadakan di sebuah gedung apartemen dekat markas besar
PBB pada pukul 07.00 malam waktu setempat, menjelang pembicaraan lebih
lanjut untuk menyelesaikan perencanaan pertemuan puncak 12 Juni yang
dirancang untuk mengakhiri kebuntuan nuklir yang dulu mengancam akan
menjatuhkan semenanjung Korea kembali peperangan.
Mike Pompeo,
yang tiba di tempat pertama, didampingi oleh Andrew Kim, kepala bidang
Korea di CIA. Kim Yong-chol tiba beberapa menit kemudian dan juga
ditemani oleh seorang pembantu.
Tidak ada pihak yang berbicara
kepada pers jelang jamuan makan malam itu. Namun sebuah tweet Pompeo
sebelum pertemuan tersebut secara khusus menggambarkan pertemuan
Trump-Kim sebagai "potensi pertemuan puncak".
"Menantikan
pertemuan dengan Kim Yong Chol di New York untuk mendiskusikan potensi
KTT @Potus dengan Pemimpin Kim. Kami berkomitmen terhadap denuklirisasi
menyeluruh Semenanjung Korea yang lengkap, dapat diverifikasi, dan dapat
dibalikkan," tulis Pompeo seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis
(31/5/2018).
Utusan AS dan Korut juga telah bertemu di Panmunjom
di zona demiliterisasi antara Korut dan Korea Selatan (Korsel). Selain
itu tim pendahuluan AS telah berada di Singapura untuk membuat
pengaturan logistik untuk pertemuan yang direncanakan dengan cepat.
"Sejauh
ini pembacaan dari pertemuan ini positif dan kami akan terus bergerak
maju dengan mereka," kata juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders,
membenarkan rencana itu masih menunggu para pemimpin untuk bertemu di
Singapura pada 12 Juni.
Tetapi dengan 13 hari tersisa,
pembicaraan antara Jenderal Kim dan Pompeo, mantan kepala CIA yang
memelopori putaran pertemuan tatap muka terbaru, tampaknya menegaskan
bahwa proses mendapatkan dua pemimpin yang tak terduga ke meja sekarang
berada di jalurnya.
"Seperti yang dikatakan presiden, jika itu terjadi, kita pasti akan siap," kata Sanders.
Awal
bulan ini, Trump tiba-tiba tetapi hanya secara singkat, mengumumkan
pembatalan KTT setelah Korut mengeluarkan teguran tajam dari apa yang
dianggap sebagai bahasa yang mengancam bagi pihak AS. Pihak AS pun
memperingatkan pembicaraan dapat ditunda jika Kim tidak serius tentang
perlucutan senjata.
Namun KTT itu tampaknya semakin bergerak ke arah menjadi nyata, di tengah hiruk-pikuk kegiatan diplomatik internasional. Pada
hari Minggu, negosiator AS, yang dipimpin oleh duta besar Washington
untuk Filipina Sung Kim mulai bertemu dengan rekan Korut mereka di desa
gencatan senjata Panmunjom yang membagi dua Korea.
"Mereka berencana untuk mengadakan pertemuan tambahan minggu ini," kata Sanders.
Kim
Yong-chol adalah pejabat senior Korut yang menginjakkan kakinya di
tanah AS sejak Wakil Marsekal Jo Myong-rok bertemu dengan presiden Bill
Clinton pada tahun 2000.
Jenderal tersebut telah memainkan peran penting dalam putaran diplomasi
baru-baru ini yang bertujuan untuk mengakhiri kebuntuan nuklir di
semenanjung Korea.
Ia duduk di sebelah putri Trump, Ivanka, yang
juga pembantu Gedung Putih, selama upacara penutupan Olimpiade Musim
Dingin di Korsel pada Februari lalu, peristiwa yang dilihat sebagai
titik balik dalam krisis nuklir.
Ia juga menemani Kim Jong-un
pada dua perjalanannya ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping, dan
mengadakan pembicaraan dengan Pompeo ketika dia melakukan perjalanan ke
Pyongyang.
Laporan CIA menyebut Korut akan menolak melakukan denuklirisasi dalam waktu dekat. Foto/Istimewa
WASHINGTON
- Sebuah penilaian dari badan intelijen Amerika Serikat (AS), CIA,
menyimpulkan bahwa Korea Utara (Korut) tidak berniat menyerahkan senjata
nuklirnya dalam waktu dekat. Temuan ini bertentang dengan pernyataan
terbaru Presiden Donald Trump bahwa Pyongyang bermaksud untuk
melakukannya di masa depan.
"Semua orang tahu mereka tidak akan
melakukan denuklirisasi," kata seorang pejabat intelijen yang membaca
laporan itu, yang diedarkan awal bulan ini, beberapa hari sebelum Trump
membatalkan pertemuan yang semula dijadwalkan seperti dikutip dari NBC News, Rabu (30/5/2018).
Laporan
ini mencakup pertimbangan kemungkinan konsesi yang mungkin ditawarkan
Korut untuk menunjukkan niat baik. Satu opsi yang dilaporkan bakal
ditawarkan Kim adalah membuka waralaba hamburger di Pyongyang sebagai
isyarat niat baik.
Trump selama ini dikenal sebagai seorang
pecinta makanan cepat saji. Ia bahkan pernah berucap, selama kampanye
presiden, ingin berbicara tentang burger dengan pemimpin Korut sambil
membahas tentang nuklir.
Sementara terkait nuklir, analisis
menunjukkan bahwa tujuan langsung yang lebih realistis bagi Kim adalah
melihat kembali kemajuan yang dicapai oleh program senjata nuklir negara
itu baru-baru ini, kata para pejabat.
"Jika Korea Utara tidak
setuju dalam pernyataan bersama yang menjabarkan denuklirisasi - yaitu,
menyingkirkan senjata nuklir mereka, setelah mereka dikendalikan oleh
elemen internasional - maka saya tidak berpikir kita akan pergi sangat
jauh," kata Chris Hill, mantan duta besar untuk Korea Selatan (Korsel).
Laporan
ini muncul setelah seorang ahli nuklir terkemuka berpendapat bahwa
proses perlucutan senjata milik Korut akan memakan waktu selama 15
tahun. Hal itu disebabkan karena sifat meluas program nuklir.
Laporan
CIA juga menjabarkan serangkaian insentif yang dapat ditawarkan AS dan
Korsel kepada Korut untuk melucuti senjata, termasuk infrastruktur dan
bantuan pertanian.
"Ini pada dasarnya adalah beberapa analis yang
sangat cerdas yang menawarkan tebakan terbaik mereka," kata seorang
pejabat intelijen.
Laporan tersebut juga menilai Kim Jong-un
mungkin akan menawarkan investasi terbatas kepada AS di Korut, khususnya
di bidang infrastruktur.
"AS dan Korsel kemungkinan akan fokus
pada pengiriman makanan - mungkin melalui PBB - dan pembangunan
pertanian lainnya," kata laporan itu.
AS juga dapat menawarkan insentif ekonomi, termasuk bantuan sanksi.
Laporan
itu mengatakan para pejabat Korut dalam pembicaraan awal tidak akan
menuntut AS menarik semua pasukannya dari Korsel, dan mereka tidak
diharapkan untuk melakukannya dalam KTT awal.
Laporan itu juga mengatakan bahwa Presiden Korsel Moon Jae-in merasa
yakin dia menikmati hubungan yang kuat dengan Kim Jong-un. Korsel pun
sedang mempertimbangkan deklarasi resmi untuk mengakhiri perang antara
kedua negara.
Terkait laporan itu, CIA dan Gedung Putih menolak untuk berkomentar.
Seorang
mantan pejabat senior yang telah diberi pengarahan tentang pendekatan
AS ke Korut mengakui bahwa badan-badan intelijen AS tidak percaya Kim
akan pernah membuang semua senjata nuklirnya.
"Aku selalu bertanya-tanya: Bagaimana cara pemerintah menata lingkaran itu?" kata mantan pejabat itu.
Pertanyaan
besar yang masuk ke negosiasi, kata pejabat itu, adalah bagaimana
Gedung Putih akan menghadapi keengganan Korut untuk denuklirisasi sambil
mempertahankan garis publik Trump yang membutuhkan langkah seperti itu.
Trump
tampaknya mengakui dilema itu dalam sambutannya pekan lalu di mana dia
mengatakan Korut mungkin tidak harus segera denuklirisasi dan bahwa
program nuklirnya dapat dihapus selama jangka waktu tertentu.
AS
juga telah memutuskan untuk menjatuhkan tuntutan hak asasi manusia
sebagai bagian dari perundingan, menurut seorang pejabat dan mantan
pejabat. Ini adalah langkah yang sangat signifikan ketika berurusan
dengan negara yang AS percaya menahan antara 80.000 dan 120.000 tahanan
di kamp-kamp kotor.
Mantan pejabat itu mengatakan bahwa
pendekatan AS terhadap Korut dipecah menjadi beberapa fase, yang
masing-masing akan membawa gerakan bantuan dan sanksi yang sesuai.
Pertama,
pemerintahan Trump ingin Korut mendeklarasikan semua rincian program
nuklirnya, membuang bahan fisil dan menutup beberapa situs.
AS
akan menekan untuk inspeksi internasional dan penghapusan senjata nuklir
secara bertahap. Pihak AS ingin semua tetapi menghilangkan bahan fisil
di Korea Utara.
Pertanyaan terbuka, kata mantan pejabat, adalah
bagaimana dan apakah akan menekan Kim untuk mempertanggungjawabkan dan
melepaskan senjata kimia dan biologisnya. Setelah Trump mengkritik
kesepakatan nuklir Iran karena gagal memperhitungkan program rudal Iran,
akan sulit baginya untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Korut yang
mengabaikan senjata pemusnah massal lainnya.
Komando Pasifik AS berubah nama menjadi Komando Indo Pasifik AS. Foto/Istimewa
HAWAII
- Amerika Serikat (AS) mengumumkan akan mengubah nama komando yang
bertanggung jawab atas operasi militer di Asia. Tindakan ini dilakukan
di tengah ketegangan yang meningkat dengan China terkait militerisasi
Laut China Selatan.
Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan
Komando Pasifik AS mulai sekarang akan disebut Indo Pasifik AS. Hal itu
diungkapkannya pada upacara pergantian komando di Hawaii, markas
komando berada.
"Sebagai pengakuan atas meningkatnya konektivitas
dari Samudera Hindia dan Pasifik hari ini kami mengganti nama Komando
Pasifik AS menjadi Komando Indo-Pasifik AS," kata Mattis.
"Ini
adalah komando tempur utama kami, yang berjaga-jaga dan secara intim
terlibat dengan lebih dari setengah permukaan bumi dan populasi yang
beragam, dari Hollywood, ke Bollywood, dari beruang kutub ke penguin,"
tutur Mattis tentang komando seperti dikutip dari CNN, Kamis (31/5/2018).
Laksamana
Harry Harris, yang mengawasi operasi militer AS di wilayah itu hingga
Rabu, telah diangkat oleh Presiden Donald Trump sebagai duta besar AS
untuk Korea Selatan (Korsel). Sebagai gantinya adalah Laksaman Phillip
Davidson yang akan memimpin Komando Indo-Pasifik, mengawasi sekitar 375
ribu personel militer dan sipil AS.
Para pejabat AS mengatakan
perubahan nama dimaksudkan untuk lebih mencerminkan daerah tanggung
jawab komando, yang meliputi 36 negara serta Samudra Pasifik dan Hindia.
Perubahan
nama ini terjadi setelah serangkaian aksi militer China dan AS yang
meningkatkan ketegangan di Laut Cina Selatan. AS dan mayoritas komunitas
internasional menolak klaim kepemilikan Laut China Selatan Beijing.
Dalam
beberapa bulan terakhir para pejabat AS telah mengatakan bahwa militer
China telah mengerahkan rudal anti-kapal, sistem rudal
permukaan-ke-udara, dan jammers elektronik untuk memperebutkan fitur di
wilayah Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan.
China juga baru-baru ini mendaratkan pesawat pembom H-6K berkekuatan nuklir di Woody Island untuk pertama kalinya.
Tidak
lama berselang, dua kapal Angkatan Laut AS melewati beberapa pulau yang
disengketakan di Laut China Selatan, termasuk Pulau Woody di mana
pembom Cina itu mendarat, sebuah langkah yang menyebabkan kemarahan
Beijing. AS menyatakan apa yang dilakukannya dalam rangka operasi
kebebasan navigasi.
Ilustrasi militer Laut China Selatan. (REUTERS/Stringer)
Jakarta, CB -- Filipina menyatakan siap
berperang jika personel militer negara itu dilukai di wilayah Laut China
Selatan yang dipersengketakan.
Pernyataan Penasehat Keamanan
Nasional Filipina Hermogenes Esperon ini dikeluarkan untuk menjawab
kritik bahwa pemerintah Presiden Rodrigo Duterte bersikap lunak terhadap
China dan membiarkan negara itu mempersenjatai Laut China Selatan.
Esperon
mengatakan Filipina akan terus mencoba menempuh jalan perundingan untuk
mengendorkan ketegangan, tapi opsi perang tetap ada sebagai jalan
terakhir jika militer negara itu dipancing atau diserang.
"Presiden mengatakan jika tentara dilukai, itu adalah garis batas merah baginya," kata Esperon seperti dikutip kantor berita Reuters.
Presiden Duterte dikritik karena tidak mengusik Beijing setelah
muncul kabar China menempatkan sistem rudal di pulau buatan di perairan
yang sibuk dengan lalu lintas kapal, termasuk di dalam Zona Ekonomi
Ekslusif Filipina.
Kubu oposisi politik marah karena pemerintah
tidak mengajukan protes diplomatik, namun Duterte yang tidak seperti
presiden pendahulunya memiliki hubungan erat dengan Beijing karena
mensasar investasi dari negara itu. Dia sering menyatakan negara itu
tidak bisa berperang dengan China yang jauh lebih kuat.
Pernyataan
Esperon ini senada dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Alan Peter
Cayetano bahwa Duterte telah memberi tahu China negaranya menolak
pembangunan tanpa izin atau pengambilan sumber daya alam di wilayah yang
juga diakui oleh Filipina.
China mengklaim sebagian besar wilaya Laut China selatan yang setiap tahun dilalui oleh kapal barang dengan nilai US$3 triliun.
China telah membangun benteng di pulau reklamasi buatannya dengan alasan negara itu berhak untuk melindungi diri.
Minggu
lalu, Filipina mengemukakan "keprihatinan serius" terkait kehadiran
pesawat pengebom China di wilayah perairan yang dipersengketakan, namun
tidak memberi pernyataan atas pengerahan sistem rudal di sana.
Presiden Rodrigo Duterte disebut siap
berperang demi mempertahankan sumber daya Filipina di daerah sengketa
Laut China Selatan. (Reuters/Romeo Ranoco)
Jakarta, CB -- Presiden Rodrigo Duterte siap berperang demi mempertahankan sumber daya Filipina di wilayah sengketa Laut China Selatan.
Pernyataan
ini dikonfirmasi langsung oleh Menteri Luar Negeri Filipina, Alan Peter
Cayetano, saat menghadiri upacara di kementeriannya pada Senin (28/5).
"Presiden
sudah mengatakannya. Jika ada yang mengambil sumber daya alam di Laut
Filipina Barat, Laut China Selatan, ia akan berperang. Ia mengatakan,
'Apa yang terjadi, terjadilah,' Dia siap berperang," ujar Cayetano
sebagaimana dikutip CNN.
Cayetano melontarkan pernyataan ini di tengah peningkatan
ketegangan setelah China dilaporkan mengerahkan pesawat pengebom nuklir
ke pulau buatan mereka di LCS.
Ia pun menekankan bahwa Filipina sudah mengirimkan nota protes atas
pengerahan pesawat China tersebut. Cayetano menegaskan bahwa negaranya
akan mengambil langkah diplomatik di saat yang tepat.
Pernyataan
ini dilontarkan di tengah kritik publik atas sikap lunak Filipina
terhadap China terkait sengketa LCS, terutama setelah Duterte menjabat.
Sejak
Duterte dilantik pada dua tahun lalu, Filipina memang mulai merapat ke
China, menjauh dari sekutu lamanya, Amerika Serikat.
Pada April lalu, Duterte bahkan secara terbuka mendeklarasikan ia "mencintai" Presiden China, Xi Jinping.
Tak lama sebelum itu, Cayetano dan Menlu China, Wang Yi, bahkan membahas
kemungkinan menggelar eksplorasi minyak dan gas bersama di Laut China
Selatan.
Pergerakan ini menimbulkan kekhawatiran di tengah
konflik sengketa yang belum terselesaikan antara China dan sejumlah
negara di kawasan, seperti Vietnam, Brunei, dan Malaysia.
Filipina
sendiri sebenarnya masih memiliki sengketa dengan China di LCS. Di
bawah pemerintahan sebelumnya, Filipina sangat tegas menentang klaim
China atas 90 persen wilayah perairan yang kaya sumber daya tersebut.
Kala Presiden Benigno Aquino menjabat, Filipina bahkan mengajukan
tuntutan yang mempertanyakan keabsahan klaim China ke Pengadilan
Arbitrase Tetap (PAC).
PAC kemudian menyatakan klaim China di LCS tidak sah pada 2016, saat pemerintahan baru saja bergulir ke tangan Duterte.
Duterte
mengatakan bahwa ia lebih memilih kesepakatan "kepemilikian bersama"
atas wilayah sengketa itu ketimbang mengorbankan tentara Filipina dalam
perang dengan China.
Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengatakan
bahwa Malaysia berencana membangun pulau di Middle Rocks, wilayah di
Selat Singapura yang pernah disengketakan. (Reuters/Stringer)
Jakarta, CB -- Perdana Menteri Mahathir
Mohamad mengatakan bahwa Malaysia berencana membangun pulau di Middle
Rocks, wilayah di Selat Singapura yang pernah disengketakan.
"Kami berniat memperbesat Middle Rocks agar kami dapat membangun pulau kecil untuk kami," ujar Mahathir sebagaimana dikutip Reuters, Rabu (29/5).
Mahathir
mengatakan bahwa negaranya sudah membangun sejumlah struktur di Middle
Rocks setelah Mahkamah Internasional (ICJ) menyerahan kepemilikan
wilayah itu kepada Malaysia tahun 2008 lalu.
Dalam putusan tersebut, ICJ menyatakan bahwa wilayah Pedra Branca yang
terletak di dekat Middle Rocks adalah daerah kedaulatan Singapura.
Sebelumnya, Malaysia mengajukan banding atas putusan
tersebut demi merebut Pedra Branca dari Singapura. Namun kini, Mahathir
mengatakan bakal mempertimbangkan kembali keputusan tersebut.
Tak
lama setelah itu, Kementerian Luar Negeri Singapura merilis pernyataan
bahwa mereka sudah mendapatkan pemberitahuan dari ICJ bahwa Malaysia
menghentikan permohonan pertimbangan kembali tersebut.
Hubungan kedua negara kerap diselubungi kontroversi karena Singapura
pada awalnya merupakan bagian dari Malaysia yang memisahkan diri pada
1965.
Masa paling dingin dalam hubungan kedua negara terjadi saat
Mahathir memerintah pada 1981 hingga 2003. Tak lama setelah Mahathir
kembali terpilih dalam pemilu awal Mei lalu, Perdana Menteri Singapura,
Lee Hsien Loong, langsung berkunjung ke Malaysia.
Namun kemudian, Mahathir membatalkan proyek kereta cepat Malaysia-Singapura karena dianggap tidak menguntungkan negaranya.
Kementerian
Pertahanan Rusia pamerkan foto rudal Tomahawk Amerika Serikat (AS) dan
kepingan rudal lain yang diperoleh pasukan Suriah saat agresi.
Foto/REUTERS/Igor Ermachenkov
MOSKOW
- Rusia akan mengembangkan sistem peperangan elektronik baru setelah
mempelajari rudal Tomahawak Amerika Serikat (AS). Sistem ini akan
dikembangkan dalam tiga tahun.
Militer Suriah menemukan dua
rudal Tomahawk yang tidak meledak setelah serangan rudal besar-besaran
terhadap Suriah oleh AS, Inggris dan Prancis pada 14 April lalu.
Rudal-rudal tersebut kemudian diserahkan kepada Rusia.
"Atas
dasar pengalaman ini (serangan rudal oleh koalisi Barat di Suriah),
tugas-tugas teknis untuk pekerjaan baru sedang dipersiapkan sekarang,"
ujar penasihat untuk wakil direktur jenderal pertama KRET Rusia Vladimir
Mikheev.
"Mereka akan mempertimbangkan semua informasi yang
diperoleh untuk membantu kami membangun prototipe sistem peperangan
elektronik baru," sambung Mikheev seperti dikutip dari Sputnik, Selasa (29/5/2018).
KRET
(Concern Radio-Electronic Technologies) adalah sebuah perusahaan induk
di dalam kelompok usaha Rostec milik negara Rusia yang mengembangkan dan
memproduksi peralatan radio elektronik, identifikasi negara,
penerbangan dan radio elektronik, serta berbagai produk sipil.
"Memiliki
rudal ini di tangan, kita dapat dengan jelas memahami saluran
komunikasi, informasi dan kontrol, navigasi dan jangkauan yang
ditemukannya. Dan mengetahui semua parameter ini, kita akan dapat lebih
efektif melawan rudal jelajah ini di semua tahap penyebaran mereka dalam
pertempuran," tegasnya.
Berbicara tentang kerangka waktu untuk
pengembangan sistem baru, Mikheev mencatat bahwa sesuai dengan
persyaratan negara sebagai pelanggan, siklus pengembangan penuh pada
sistem peperangan elektronik membutuhkan waktu sekitar 2-3 tahun dan
prototipe ini tidak akan menjadi pengecualian.
LONDON
- Kepala kebijakan nuklir Pentagon memperingatkan bahwa rudal
hipersonik dari Rusia dan China merupakan ancaman menyeramkan di depan
mata Amerika Serikat (AS). Senjata itu dianggap bisa memengaruhi
Washington menjadi lebih buruk.
Direktur Kebijakan Nuklir Kantor
Kementerian Pertahanan AS, Brad Clark, mengatakan bahwa meningkatnya
kecanggihan rudal yang dimiliki oleh negara-negara bersenjata nuklir
yang bermusuhan merupakan penyebab kekhawatiran di Washington.
Menurut
Clarck, Pentagon khawatir tentang rudal jelajah komputer dan rudal
hipersonik yang dapat mencapai kecepatan Mach 5 atau 3.500 mph.
Kekhawatiran
Clark disampaikan saat dia membahas pendekatan administrasi Trump untuk
pertahanan rudal di dalam dan di luar negeri dalam RUSI Missile Defence
Conference di London, Rabu (30/5/2018).
Departemen Pertahanan AS
diperkirakan akan merilis Ballistic Missile Defence Review (BMDR) akhir
tahun ini. Dokumen itu diharapkan akan menguraikan rencana Trump untuk
postur pertahanan rudal di daratan AS dan di seluruh dunia.
"BMRD
masih kosong, dan akan dikeluarkan ketika dikeluarkan," kata Clark
kepada audiensi akademisi dan pembuat kebijakan, yang dilansir Daily Star.
Menurut
Clark, sejak 2010—tahun perilisan BMDR selama masa pemerintahan Barack
Obama sebagai Presiden AS—ancaman rudal yang dihadapi AS telah memburuk.
"Seiring waktu, hal-hal yang kami khawatirkan pada tahun 2010
memburuk," ujarnya.
"Kami tidak dapat mencapai dialog yang berarti dengan Rusia atau China," kata Clark.
"Kedua
kapasitas dalam hal jumlah rudal dan kemampuan rudal, tidak hanya
sekarang tetapi melihat ke masa depan, yang memengaruhi Amerika Serikat
menjadi memburuk," imbuh Clark.
"Pemerintahan Obama memang
beradaptasi dengan perubahan tersebut dengan mempromosikan peningkatan
kemampuan regional. Jadi dari situlah administrasi Trump masuk."
Clark
menyatakan AS telah difokuskan pada pertahanan rudal regional dengan
perhatian khusus terhadap negara-negara "jahat", yaitu Iran dan Korea
Utara, yang rudal balistik antarbenua (ICMB) dianggap mampu mencapai
daratan AS.
Meskipun ada jaminan dari Washington, penyebaran
sistem rudal AS ke negara-negara sekutu, termasuk Korea Selatan, Jepang
dan Polandia, dilihat sebagai upaya untuk mengganggu keseimbangan
strategis oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.
Ratusan umat Yahudi berkumpul untuk melakukan doa massal
selama liburan Sukkot di depan Tembok Ratapan di Kota Tua Yerusalem, 19
Oktober, 2016. AP/Tsafrir Abayov
CB, Jakarta - Israel
telah menerbitkan aturan yang melarang seluruh turis berpaspor
Indonesia masuk wilayah itu. Keputusan tersebut diduga kuat diambil
sebagai aksi balasan pemerintah Indonesia yang melarang warga negara
Israel masuk Indonesia.
Dalam sebuah pesan yang beredar luas,
turis Indonesia yang telah dijadualkan masuk Israel pada 9 Juni 2018
akan diperlakukan seperti biasanya dan diperkenankan masuk. Namun untuk
turis Indonesia yang ingin masuk setelah tanggal tersebut, akan ditolak.
Aturan ini berlaku bagi perorangan mau pun kelompok.
Kementerian
Luar Negeri telah membenarkan larangan yang diterbitkan Israel tersebut.
Namun belum memberikan keterangan lebih lanjut.
Umat
Yahudi mengikuti ritual doa saat ziarah akbar dalam perayaan Paskah
Yahudi di Tembok Ratapan, Kota Tua Yerusalem, 2 April 2018.
REUTERS/Ronen Zvulun
Sementara
itu, edaran dari biro perjalanan Rhema Tours pada Rabu, 30 Mei 2018,
mengkonfirmasi pada 29 Mei 2018 telah menerima surat edaran dari
Kementerian Dalam Negeri Israel yang menyatakan setelah tanggal 9 Juni
2018 pemegang paspor Indonesia atau Warga Negara Indonesia dinyatakan
tidak dapat masuk ke Israel. Aturan ini berlaku hingga waktu yang belum
ditentukan.
"Kami akan informasikan kembali perkembangannya, jika
sudah kondusif maka keberangkatan akan tetap seperti jadwal semula,
namun apabila belum maka kami akan mendiskusikan ulang untuk jadwal
keberangkatannya. Kami sangat menyesalkan kejadian yang bersifat force majeur ini," demikian pernyataan Rio Pattiselanno, Direktur Rhema Tours, sebuah biro perjalanan ziarah rohani ke Israel.
Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomasi. Selama ini, turis Indonesia yang ingin berwisata rohani ke Israel umumnya melalui Mesir atau negara penghubung lainnya.
Presiden Jokowi bersama Perdana Menteri India Shri Narendra
Modi saat membuka Pameran layang-layang di Lapangan Monas, Jakarta, 30
Mei 2018. TEMPO/Subekti.
CB, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India
Narendra Modi di Istana Merdeka pagi tadi, Rabu, 30 Mei 2018. Jokowi
mengatakan India adalah mitra strategis Indonesia di bidang
perekonomian.
Menurut Jokowi, India merupakan mitra dagang ekspor
terbesar Indonesia di Asia Selatan dan Asia Tengah dengan nilai hampir
US$ 15 miliar. "Wisatawan India juga meningkat tajam, naik 28 persen
dengan jumlah hampir 500 ribu wisatawan di tahun 2017," katanya dalam
konferensi pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 30 Mei 2018.
Sementara
itu, Modi menuturkan India dan Indonesia harus bekerja sama guna
mewujudkan kesejahteraan bersama. Sebabnya India sepakat untuk
mengadakan kerja sama di kawasan Indo Pasifik.
Selain itu, kata Modi, India ingin meningkatkan nilai perdagangan antara kedua negara menjadi US$ 50 miliar pada 2025 mendatang.
Dalam
pertemuan itu, kedua negara menandatangani sejumlah nota kesepahaman.
Total ada sembilan perjanjian kerja sama government to government (G to
G) dan enam non G to G.
Berikut daftar MoU Indonesia dan India:
G to G:
1. Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India mengenai Kerja Sama dalam Bidang Pertahanan 2.
Kerangka Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan
Pemerintah Republik India tentang Kerja Sama Eksplorasi dan Penggunaan
Antariksa untuk Tujuan Damai 3. Memorandum Saling Pengertian mengenai
Kerja Sama Teknis di Sektor Perkeretaapian antara Kementerian
Perhubungan Republik Indonesia dan Kementerian Perkeretaapian Republik
India 4. Memorandum Saling Pengertian antara Pemerintah Republik
Indonesia dan Pemerintah Republik India tentang Kerja Sama Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. 5. Memorandum Saling Pengertian antara
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia dan Lal Bahadur Shastri
National Academy of Administration Republik Indonesia mengenai Kerja
Sama Teknik di Bidang Pengembangan Kapasitas Aparatur Sipil Negara 6.
Memorandum Saling Pengertian antara Kementerian Luar Negeri Republik
Indonesia dan Kementerian Luar Negeri Republik India Mengenai Dialog
Kebijakan antara Pemerintah dan Interaksi antara Lembaga Kajian 7.
Memorandum Saling Pengertian antara Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia dan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan
Keluarga/Organisasi Pengawasan Standar Obat Pusat Republik India dalam
Kerja Sama di Bidang Regulasi Produk Obat, Bahan Baku Obat, Produk
Biologi dan Kosmetik 8. Pernyataan Kehendak Pembentukan Kerja Sama antar Provinsi Bali dan Uttarakhand 9.
Memorandum Saling Pengertian antara Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia dan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Republik
India di Bidang Kesehatan.
Non G to G: 1. Nota Kesepahaman
antara Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan
Informatika Republik Indonesia dengan International Institute of
Information Technology, Bangalore. 2. Nota Kesepahaman antara Kamar Dagang Industri (Kadin) dan Confederation of Indian Industries (CII). 3. Nota Kesepahaman antara PT Pindad (Persero) dan Bhukanvala 4. Nota Kesepahaman anatar PT Kalbe Farma dan The Himalaya Drug Company 5. Perjanjian Kerja Sama Twinning Heritage Prambanan dan Taj Mahal 6. Nota Kesepahaman antara Museum Layang-layang dan Museum Ahmedabad India
Sistem prtahanan udara S-400 Triumph menggunakan radar yang
dapat mendeteksi sasaran sejauh 600 km dan dilengkapi empat macam rudal
yang berbeda jangkauannya, yaitu rudal 40N6 dengan jangkauan 400 km,
rudal 48N6 dengan jangkauan 250 km, rudal 9M96E dan 9M96E2 dengan
jangkauan 40 km dan 120 km. Vitaliy Nevar/TASS
CB, Jakarta - Amerika Serikat
memperingatkan India bahwa pengadaan sistem pertahanan canggih S-400
Rusia dapat membahayakan kerjasama pertahanan dan teknologi antara
Amerika Serikat dan India, serta interoperabilitas (kerja sama sistem
operasi) antara angkatan bersenjata mereka.
"Ada banyak
kekhawatiran dalam administrasi dan kongres Amerika Serikat dengan
S-400," kata Ketua Komite Pelayanan Bersenjata, Mac Thornberry, seperti
dilansir dari Russia Today, 30 Mei 2018.
Dia
mendesak India untuk tidak terburu-buru dan mempertimbangkan secara
seksama semua konsekuensi dari pembelian senjata canggih Rusia. . "Ada
kekhawatiran bahwa negara manapun yang mengakuisisi sistem akan
menyulitkan kemampuan interoperabilitas (dengan pasukan AS)."
"Saya khawatir akuisisi teknologi ini akan membatasi Amerika Serikat membawa teknologi ke negara mana pun," kata Thornberry.
Radar
dan software S-400 Triumph telah disempurnakan sehingga dapat
menghancurkan 36 target secara bersamaan. Radar panorama 91N6E dapat
mendeteksi target sejauh 600 km dan radar 92N6 merupakan radar multi
fungsi yang mampu mendeteksi 100 target dengan jangkauan 400 km.
topwar.ru
Keputusan untuk membeli S-400 yang akan
diumumkan India pada Oktober, bisa membahayakan penjualan drone
Predator yang dikembangkan Amerika Serikat, meskipun pemerintahan Donald
Trump baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mengurangi penjualan
senjata ke negara-negara asing, termasuk India. Perubahan ini dirancang
untuk memungkinkan pemasok senjata Amerika Serikat untuk menjual senjata
kepada sekutu secara langsung, dan melewati proses birokrasi dari
departemen terkait, Pentagon, dan Kongres.
"Ini adalah
salah satu bidang di mana akuisisi sistem anti-pesawat Rusia akan
membuat akuisisi teknologi itu agak lebih sulit," ujar Thornberry
Predator
C dapat dipersenjatai dengan rudal anti tank udara ke permukaan AGM-114
Hellfire, bom diameter kecil GBU-39 250 lb, bom dipandu laser
GBU-12/GBU-49 Paveway II 500 lb, bom dipandu laser GBU-16 1.000lb dan
bom presisi GBU-48. Avenger juga dapat membawa GBU-31, GBU-32, dan
GBU-38 Joint Direct Attack Munition (JDAM). airforce-technology
Keinginan
India untuk meproduksi jet tempur F-16 dalam negeri juga dapat
dipertaruhkan, sebagian karena Countering America’s Adversaries Through
Sanctions Act (CAATSA), yang berisi pemerintahan Amerika Serikat berhak
menghukum entitas yang terlibat dalam transaksi signifikan dengan sektor
pertahanan Rusia .
"India
ingin memiliki lebih banyak berbagi teknologi dan produksi seperti
F-16. Masalahnya adalah ketika Anda berbicara tentang teknologi dan
kemudian ada S-400 ... kami memiliki beberapa kekhawatiran yang kami
bawa ke berbagai tingkat pemerintahan Anda," kata anggota Kongres Texas,
Henry Cuellar.
India bukan satu-satunya negara yang ditekan oleh Amerika Serikat karena berniat membeli S-400 Rusia. Anggota parlemen Amerika Serikat
juga mengancam menjatuhkan sanksi terhadap Turki dan bahkan berusaha
melarang pengiriman F-35 jika Ankara melanjutkan dengan kesepakatan
dengan Rusia.
Pangkalan militer Incirlik, Turki, yang digunakan AS dalam operasi melawan ISIS. Foto/REUTERS
ANKARA
- Turki mengancam akan melarang Amerika Serikat (AS) mengakses
pangkalan militer Incirlik jika Washington nekat tidak memasok pesawat
jet tempur siluman F-35 ke Ankara. Pangkalan tersebut selama ini jadi
rumah bagi pasukan AS dalam operasi melawan ISIS di Timur Tengah.
"Kami
mencoba untuk meningkatkan hubungan kami dengan AS. Untuk menormalkan
itu, Amerika Serikat harus mengambil langkah-langkah mengenai (kota
Suriah) Manbij, mengekstradisi (Ulama Islam Fethullah) Gulen," kata
Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu.
"Ketika datang ke masalah
ini, orang-orang kami mengatakan; 'Tutup Incirlik, basis Kurecik (untuk
AS)'. Kami sedang menunggu Amerika Serikat untuk meninggalkan tindakan
salahnya," ujar Cavusoglu kepada penyiar A Haber, Rabu (30/5/2018).
Para
senator AS sedang berupaya memblokir pengiriman jet tempur siluman F-35
ke Ankara. Salah satu alasannya, karena Turki membeli sistem rudal
pertahanan S-400 yang tidak kompatibel dengan persenjataan NATO,
termasuk F-35. Alasan lain, karena Ankara menahan pastor asal AS Andrew
Brunson.
Sebelumnya,
Menlu Cavusoglu mengisyaratkan bahwa Ankara akan membeli jet tempur
siluman dari negara lain jika memang Washington menolak memasok jet
tempur F-35.
"Mengenai jet F-35, saya tidak memiliki
kekhawatiran, kontrak ini mengikat secara hukum, tidak dapat dengan
mudah dihentikan. Tetapi jika jet ini tidak dipasok ke Turki, kami akan
memenuhi kebutuhan kami di tempat lain," kata Cavusoglu, seperti dikutip
NTV.
"Tidak ada alasan mengapa AS tidak akan memasok
F-35 kepada kami. Kami tidak ingin merusak hubungan dengan sekutu AS
kami. Pesawat F-35 harus dikirim ke Turki seperti yang direncanakan,"
lanjut dia.
"Tetapi dalam kasus masalah, Turki akan tidak
dibiarkan tanpa alternatif. Mungkin membeli (pesawat) baik dari Rusia
dan dari negara NATO. Ada kesepakatan tentang F-35, dan jika satu pihak
menarik diri dari (kesepakatan) itu, langkah yang diperlukan akan
diambil," imbuh Cavusoglu.
Pada hari Minggu, media Ankara, Yeni Safak,
melaporkan Turki dapat membeli jet tempur generasi kelima Rusia, Su-57,
jika Amerika Serikat memblokir pengiriman pesawat F-35 karena keputusan
Ankara membeli sistem pertahanan udara S-400 Moskow.
Sebelumnya,
pada bulan April lalu, Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Eropa
dan Eurasia Wess Mitchell mengatakan pembelian sistem pertahanan udara
S-400 dari Rusia dapat berdampak negatif terhadap pengiriman jet F-35 ke
Ankara.