Senin, 28 Mei 2018

Cerita di Balik Tarik Ulur Trump Bertemu Kim Jong-un



Cerita di Balik Tarik Ulur Trump Bertemu Kim Jong-un
Presiden AS Donald Trump tarik ulur soal pertemuannya dengan pemimpin Korut, Kim Jong Un. ( REUTERS/Jay Paul)


Jakarta, CB -- Hari itu di rembang petang, matahari pun telah masuk ke peraduannya. Koki Gedung Putih telah menyiapkan makan malam. Presiden Amerika Serikat Donald Trump berniat kembali ke kediaman. Namun tiba-tiba dia berubah pikiran.

Petang itu, 8 Maret Trump berbalik arah saat akan kembali ke rumah. Dia menuju ruang media briefing. Mengintip dari balik pintu yang setengah terbuka, dia mendapati beberapa gelintir wartawan masih bekerja lalu memanggil mereka.

"Korea Selatan akan mengumumkan sebuah pernyataan besar pukul 19.00 ini," kata Trump perlahan. Di belakangnya, Wakil Presiden Mike Pence berdiri diam.



"Soal apa?" tanya seorang reporter penasaran.

"Sebuah hal besar," jawab Trump sambil menyeringai. Dia mengumumkan hal serupa lewat akun Twitter resminya. "Korea Selatan akan mengumumkan suatu hal besar dalam waktu dekat!"

Itulah awal dari guliran berita rencana pertemuan antara Trump dengan Kim Jong-un. Yang lalu dilanjutkan dengan lawatan pejabat senior Korsel ke Pyongyang dan bertemu dengan pemimpin Korut itu. Delegasi yang dipimpin Kepala Intelijen Korsel itu pun bertemu Trump di Washington, selepas bertemu Kim Jong-un, menyampaikan surat kepadanya.

Dan euforia perdamaian pun dimulailah. Meredam hiruk-pikuk dan kekhawatiran akan meletusnya perang nuklir di Semenanjung Korea sebelumnya, akibat perang kata-kata Kim Jong-un dan Trump.

Dikutip CNN, hari itu juga bisa dibilang awal optimisme Trump terkait rencana pertemuan bersejarahnya dengan Kim.

Bagaimana tidak, jika tatap mata keduanya terjadi, itu akan menjadi gebrakan dalam sejarah relasi AS-Korut yang selama ini bermusuhan.

Pertemuan dengan Kim juga menjadi prestasi dan prestise tersendiri bagi Trump di masa pemerintahannya. Sejak itu, Trump pun bermain cukup lembut terhadap rezim Kim.

Dia memuji Kim bahwa ia percaya rivalnya itu benar-benar tulus untuk berunding dan berharap mau melucuti senjata nuklir sepenuhnya. Denuklirisasi memang menjadi agenda utama Trump untuk bertemu Kim.

"Saya benar-benar berpikir bahwa dia [Kim Jong-un] ingin membawa sesuatu dan membawa negara itu ke dunia nyata. Saya pikir kami berdua akan sukses. Saya pikir ini akan menjadi kesuksesan besar," ucap Trump saat mengunjungi Pangkalan Militer Andrews.


Kim Jong-un dan Presiden Korsel Moon Jae-in
Foto: Korea Summit Press Pool/Pool via Reuters
Kim Jong-un dan Presiden Korsel Moon Jae-in
Ketegangan di Semenanjung Korea pun mereda. Presiden Korsel Moon Jae-in bersama Kim Jong-un tampak bergandeng tangan, saling melintas perbatasan di Desa Perdamaian Panmunjom. Keduanya tampak akrab berjalan berdua. Disaksikan jutaan pemirsa di dunia. Deklarasi Panmunjom pun diteken. Upaya perdamaian bergulir.

Lalu pada 10 Mei, lewat akun Twitternya, Trump menjawab berbagai teka-teki soal tempat dan waktu pertemuan dengan Kim, yakni di Singapura 12 Juni mendatang.

Semua tampak sempurna sampai Korea Utara tiba-tiba keberatan atas latihan militer bersama negeri tetangganya dengan Amerika.

Optimisme lantas berubah 180 derajat menjadi kesuraman. Hanya beberapa pekan sebelum pertemuan berlangsung, Trump sendiri membatalkan pertemuannya dengan Kim di Singapura, pada Kamis (24/5).

Sehari sebelumnya, Pada Rabu, Korut berang pada pernyataan Wapres AS yang mengancam mereka akan menjadi seperti Libya menyebut Pence bodoh dan dungu. Trump diberitahu soal itu pada malam harinya.

Trump pun membuat draf surat kepada Kim Jong-un Kamis pagi setelah berkonsultasi dengan para ajudannya. Termasuk penasihat keamanan nasional John Bolton, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, dan Pence.

Dalam sepucuk surat kepada Kim itu, Trump mengatakan bahwa dirinya merasa pertemuan bersejarah itu "tidak pantas" dilakukan. Dia menekankan amarah dan tindakan permusuhan Korut menjadi penyebabnya.

"Saya terpaksa membatalkan Pertemuan Tinggi di Singapura bersama Kim Jong-un," kicau Trump melalui Twitter.

Pembatalan itu tak mengejutkan bagi beberapa kalangan. Sejak Trump menerima undangan Kim untuk bertemu, sejumlah pejabat Gedung Putih sudah menunjukkan skeptisme mereka terhadap pertemuan tinggi itu.

Belasan pejabat Gedung Putih yang terlibat merasa Trump sendiri yang menggagalkan upaya perdamaian. Menurut mereka, Trump memaksakan diri bertemu Kim semata demi memuaskan rasa hausnya untuk menciptakan gebrakan --yang dipercayai bisa memberinya hadiah Nobel Perdamaian.

Selama ini, Trump disebut malah terfokus pada ingar-bingar KTT tanpa mau terlibat dalam diskusi mendalam mengenai program nuklir Korut bersama para pejabat, kata sumber Gedung Putih.

"Pertemuan puncak itu memang mungkin tidak akan pernah berhasil dalam situasi seperti ini," kata seorang pejabat AS seperti dikutip CNN.

Sebagian pejabat Gedung Putih merasa keputusan itu adalah kebijakan Trump yang paling rasional saat ini. Mereka menganggap pertemuan tinggi Trump-Kim dalam beberapa pekan ke depan sangat tidak mungkin tercapai.

Beberapa pejabat AS mengatakan pihak Korut tidak pernah menunjukkan keseriusan membicarakan substansi pertemuan puncak, bahkan sampai sebelum Trump membatalkannya. Mereka mengatakan Korut bahkan tidak hadir dalam pembicaraan terakhir yang mereka gelar demi mempersiapkan pertemuan Trump-Kim.

"Mereka [para pejabat AS] terus menunggu dan menunggu. Korut tidak pernah muncul. Pihak Korut tidak pernah memberitahu kami soal apapun. Mereka [Korut] hanya mengingkari janji," ucap seorang pejabat AS.

Segera setelah kabar pembatalan tersiar, Presiden Korsel Moon Jae-in langsung menggelar rapat darurat. Tanpa menyebut nama, dari pihak Istana Kepresidenan Korea Selatan Cheong Wa Dae pernyataan bahwa sebaiknya kedua pemimpin berdialog langsung dan tertutup.

Korea Utara pun bergeming dengan pembatalan Trump. Lewat Wakil Menteri Luar Negerinya Korut menyatakan tetap menunggu kesempatan dialog.

Jumat (25/5) malam waktu Amerika Serikat, sehari setelah pembatalan, jari jemari Trump pun kembali menyatakan siap bertemu Kim Jong-un. Di Singapura pada 12 Juni atau sesudah itu.





Credit  cnnindonesia.com