Pasukan khusus Amerika Serikat di Timur Tengah (Reuters)
Jakarta (CB) - Pentagon menyatakan tentara Amerika Serikat berada di belakang garis depan dalam ofensif ke Mosul.
Tentara-tentara
Amerika Serikat ini bertindak sebagai penasihat militer untuk pasukan
Irak yang hendak merebut kembali kota itu dari cengkeraman ISIS.
"Tentara
Amerika kembali memainkan peran penasihat, peran yang memungkinkan
untuk pasukan Irak. Kebanyakan tentara Amerika di Irak tidak berada di
dekat garis depan," kata juru bicara Pentagon Peter Cook.
Cook juga mengatakan tentara Amerika hanya mengemban misi penasihat dan dukungan logistik.
"Peran pasukan Amerika Serikat hari ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya," kata Cook seperti dikutip Reuters.
Credit
ANTARA News
Pasukan Irak berjuang keras untuk bebaskan Mosul dari ISIS
Pasukan
Peshmerga berkumpul di timur Mosul selama persiapan serangan ke Mosul,
Irak, pada 16 Oktober 2016. (REUTERS/Azad Lashkari)
Baghdad (CB) - Pasukan Irak melancarkan serangan
habis-habisan untuk merebut kembali Kota Mosul dari cengkeraman petempur
ISIS, setelah Perdana Menteri Haider Al-Abadi pada Senin (17/10)
mengumumkan dimulainya serangan yang sudah lama dinantikan.
"Hari ini, saya mengumumkan dilancarkannya operasi untuk membebaskan
Provinsi Nineveh. Saat kemenangan telah tiba, dan saat kemenangan besar
makin dekat," kata Al-Abadi di dalam pidato singkatnya yang ditayangkan
oleh stasiun televisi milik negara, Al-Iraqiya.
Al-Abadi berjanji akan membangun kembali Mosul dan desa serta kota
lain di Provinsi Nineveh setelah semuanya dihancurkan oleh anggota ISIS,
dan berikrar akan membawa kestabilan ke Mosul.
"Dalam waktu dekat, kami akan bersama anda semua untuk mengibarkan
bendera Irak di tengah Mosul, dan juga di desa serta kota kecil," kata
Al-Abadi, sebagaimana diberitakan Xinhua. Ia menyeru rakyat Mosul agar
bekerjasama dengan pasukan keamanan untuk mengalahkan kelompok IS.
Seperti berbagai pertempuran sebelumnya yang membebaskan Kota
Tikrit, Ramadi dan Fallujah serta kota lain dari petempur IS, tentara
bergerak untuk secara bertahap mengepung Kota Mosul, sekitar 400
kilometer di sebelah utara Ibu Kota Irak, Baghdad, setelah membersihkan
anggota IS dari desa dan kota kecil di sekitarnya, sebelum memasuki
kota.
Pada Senin, pasukan Irak dilaporkan membebaskan sembilan desa dari
anggota ISIS yang melarikan diri dari tempat itu, saat personel militer
terus bergerak maju untuk membebaskan banyak daerah di sekitar Mosul,
termasuk Kota Kecil Bashiwa dan Himdaniyah di bagian timur-laut kota
tersebut.
Di Mosul, beberapa laporan mengatakan sebanyak 1,3 juta warga sipil
masih tinggal di Permukiman Mosul dan beberapa desa di sekitarnya di
Dataran Rendah Nineveh, sementara lebih dari 5.000 anggota IS berlindung
di kota itu, dengan persiapan untuk mempertahankan kota tersebut.
"Lebih dari 65.000 personel keamanan Irak diperkirakan ikut dalam
pertempuran di Mosul, posisi mereka berada antara 15 dan 50 kilometer
dari ujung permukiman di kota itu," kata Mayor Abdullah Al-Jubouri,
seorang perwira Angkatan Darat Irak, kepada Xinhua.
Beberapa brigade Angkatan Darat dengan dukungan pasukan elit
anti-teror dan satu brigade lapis-baja, termasuk tank Abram, bergerak
maju dari poros selatan di pinggir timur Sungai Tigris. Brigade lain
Angkatan Darat dan pasukan anti-teror juga bergerak maju dari poros
tenggara di sisi barat sungai tersebut, kata Al-Jubouri.
Juga ada sebanyak 10.000 petempur Peshmerga Kurdi yang bergerak maju
dari poros utara dan timur. Pasukan Kurdi itu didukung oleh sebanyak
24.000 polisi Provinsi Nineveh dan satuan paramiliter suku Sunni, kata
Al-Jubouri.000
Pasukan Irak dalam perang di Mosul juga didukung oleh pesawat
Pemerintah Irak dan internasional serta berbagai satuan artileri koalisi
pimpinan AS dan Pemerintah Irak.
Banyak pengamat berpendapat pertempuran di Mosul akan berlangsung
lama, bergelimang darah, mahal dan berlarut-larut, belum lagi
penderitaan rakyat sipil, tapi terutama akan bergantung atas apakah
milisi IS akan siap memperlihatkan perlawanan sengit mereka atau tidak.
Meskipun demikian, bagian berat dalam perang itu hanyalah pada tahap
pasca-ISIS, sebab banyak kemungkinan konflik dapat meletus di Provinsi
Nineveh di kalangan faksi Irak di Irak Utara dan juga dengan negara
regional.
Credit
ANTARA News