Jakarta, CB -- Kisruh antara Catalonia
dan Spanyol makin gaduh ketika sejumlah pemimpin separatis, pada Rabu
(25/10) menantang anggota senat di Madrid untuk memberi tenggat waktu
pengakuan kemerdekaan mereka dalam dua hari.
Aktivis yang
pro-kemerdekaan berkumpul di jalanan Barcelona, dan mengundang Presiden
pemerintahan Catalonia, Carles Puigdemont untuk datang dan berdiskusi
terkait ancaman perpisahan secara pihak Catalan.
Puigdemont
dikabarkan sedang mempertimbangkan dua respons: deklarasi kemerdekan
secara sepihak, atau menggelar pemilihan umum sela untuk parlemen
Catalan yang baru.
Tim Puigdemont juga mempersoalkan pernyataan Perdana Menteri Spanyol
Mariano Rajoy, yang pada Rabu menegaskan Pasal 155 konstitusi Spanyol,
akan rencana kendali regional yang memberontak, menjadi 'satu-satunya
respons akan tekanan kemerdekaan Catalonia.'
Pemerintah
pusat, seperti diungkap sumber dekat Puigdemont, "telah mengumumkan
bahwa akan mengimplementasikan Pasal 155 apapun yang terjadi."
Lewat
akun instagramnya, Puigdemont mengatakan pada Rabu: "Kami tidak akan
membuang waktu untuk orang yang telah memutuskan menghancurkan
pemerintahan. kami akan terus berjuang!," dengan tagar #CatalanRepublic.
Media Spanyol mengungkapkan Puigdemont menggelar pertemuan kabinet darurat pada Rabu malam.
Krisis
politik terburuk di Spanyol dalam satu dekade terakhir ini makin
menjadi ketika mayoritas suara 'Ya' pada referendum 1 Oktober lalu akan
kemerdekaan untuk kawasan semi-otonom tersebut. Catalonia merupakan 16
persen dari jumlah populasi Spanyol, dan 20 persen penyumbang ekonomi
negara.
Kawasan itu terdiri dari 7,5 juta orang yang menjaga bahasa dan budaya asli, serta keinginan untuk otonomi.
Hanya
sisa dua hari sebelum senat, di mana Partai Populer Rajoy memegang
mayoritas, menyetujui tekanan Puigdemont dan eksekutifnya.
Parlemen Catalan sendiri dijadwalkan akan menggelar pertemuan pada Kamis siang untuk membuat formula tanggapan.
Ada
kekhawatiran 135 anggota parlemen, yang mana mayoritas pro-kemerdekaan,
akan memberi suara Catalonia berpisah dari Spanyol, langkah yang tidak
diinginkan oleh Madrid.
Sementara, dorongan akan pemilihan umum,
di sisi lain, dianggap sebagai langkah yang akan diambil Madrid
setidaknya untuk sementara waktu.
Namun, seiring dengan tekanan
yang terus meningkat, kisruh antara kelompok separatis pun juga terjadi.
Beberapa anggota eksekutif Puigdemont memilih pemilu daripada
pemberontakan dalam sebuah pertemuan pada Selasa, menurut sumber yang
dekat dengan pimpinan Catalan pada AFP. Sementara kelompok lainnya,
lebih setuju kemerdekaan penuh.
Sejumlah masyarakat juga
berkumpul di jalanan, dan gedung eksekutif Catalan, pada Rabu malam
mendorong kemerdekaan republik Catalan.
Di luar itu, kelompok masyarakat ada juga yang melakukan protes dan mendesak kemerdekaan sekarang, tanpa pemilu.
"Kami
inginkan sebuah republik, kami tak ingin berada di bawah pemerintahan
Spanyol, dan pemimpin yang diktator," ungkap Jaime Planaz, pensiunan
berusia 66 tahun pada AFP.
Jaime Arasa, pengacara 26 tahun juga menyuarakan dkungannya pada kemerdekaan penuh.
Sementara, aksi demo anti-kemerdekaan dikabarkan akan berlangsung di Barcelona, pada Minggu mendatang.
Apapun
yang terjadi, para pengamat menyampaikan keprihatinannya pada Spanyol,
diantaranya karena makin menurunnya jumlah turis atau wisatawan ke
negara itu, sejak kisruh terjadi. Selain itu, ribuan perusahaan telah
memindahkan kantor pusat mereka dari Catalonia sejak referendum.
Alfred de Zayas, pakar demokrasi mendorong pemerintah Spanyol untuk mau melakukan negosiasi dengan Catalonia.
Credit
cnnindonesia.com