Ratusan ribu warga Catalonia turun ke jalan pada Sabtu (21/10). (Reuters/Gonzalo Fuentes)
Jakarta, CB -- Pendukung koalisi
separatis Catalan, partai CUP, mengancam akan menggencarkan
"pembangkangan sipil massal" jika Spanyol benar-benar mencabut otonomi
daerah mereka di tengah meningkatnya tensi politik pasca referendum
kemerdekaan Catalonia.
CUP menyatakan, keputusan Spanyol untuk
mencabut kekuasaan Puigdemont setelah Catalonia mendeklarasikan
kemerdekaan merupakan "serangan terbesar" bagi warga Catalan sejak
kepemimpinan Francisco Franco.
Franco merupakan diktator yang
memegang kuasa di Spanyol sejak 1939 hingga 1975. Selama ini memimpin,
otonomi Catalonia tak diakui.
"Serangan semacam ini akan mendapatkan tanggapan dalam bentuk
pembangkangan sipil massal," demikian pernyataan CUP, sebagaimana
dilansir
AFP.
Senada dengan CUP, juru bicara koalisi Together for Yes, Lluis
Corominas, mengatakan bahwa tindakan Spanyol merupakan bentuk
pelanggaran institusi paling parah.
"Mereka memberlakukan hukum
melalui hakim dan penuntut. Mereka memberlakukan hukum atas kami melalui
polisi. Kami sudah diokupasi selama berminggu-minggu. Mereka ingin
menakuti kami, dengan polisi, badan peradilan, tuntutan hasutan,
tuntutan pemberontakan," ucap Corominas.
Sejak Catalonia
menggelar referendum, Spanyol memang terus menekan daerah tersebut,
dimulai dengan menghalangi proses pemungutan suara.
Setelah hasil
referendum menunjukkan bahwa sekitar 90 persen pemegang hak pilih
Catalonia memilih memisahkan diri dari Spanyol, Madrid mengancam akan
mencabut otonomi daerah tersebut.
Keputusan ini dijamin dalam
Pasal 155 konstitusi Spanyol yang memberikan wewenang kepada perdana
menteri untuk mencabut otonomi Catalonia dan mengambil alih daerah
tersebut demi "kepentingan umum Spanyol."
Sebelum referendum, Catalonia sebenarnya sudah memiliki otonomi untuk
mengatur kebijakan, edukasi, dan layanan kesehatan sendiri. Namun kini,
Catalonia menuntut kuasa lebih untuk mengatur keuangan mereka.
Dalam
keadaan seperti ini, pemerintah Spanyol bisa langsung mencabut
kewenangan kepolisian Catalonia, memecat kepala media pemberitaan publik
daerah itu, hingga mengambil alih keuangan pemerintah daerah.
Namun, menurut sejumlah pengamat, langkah tersebut justru akan semakin menyulut bara separatisme di Catalonia.
Saat
pemerintah mengumumkan pencabutan kuasa Presiden Catalonia, Carles
Puigdemont, pada Sabtu lalu saja, sekitar 500 ribu orang sudah turun ke
jalan.
Kerusuhan
pun diperkirakan bakal pecah ketika pemerintah Spanyol menggelar pemilu
daerah yang seharusnya dilaksanakan dalam jangka waktu enam bulan dari
pencabutan kuasa Puigdemont.
Pada Senin (23/10) saja, pemadam
kebakaran Catalonia sudah menyiratkan bahwa mereka mungkin menolak
perintah dari pemerintah pusat.
"Tergantung apa yang mereka
suruh. Jika ada jalan yang diblokir dan mereka mengerahkan kami untuk
membukanya kembali, mungkin kami tidak akan pergi," ucap seorang juru
bicara asosiasi pemadam kebakaran yang berhubungan dengan gerakan
separatis.
Credit
cnnindonesia.com
Katalunya peringatkan pembangkangan umum, Madrid penguasaan langsung

Peta
Spanyol, dengan Catalonia digambarkan pada arena berwarna merah bata.
Ibukota Catalonia adalah Barcelona dan penduduknya memakai bahasa
Catalan. (google.com)
Madrid (CB) - Katalunya pada Senin mengatakan yakin bahwa
semua pejabat, termasuk polisi, akan menentang upaya Madrid
memberlakukan penguasaa langsung di wilayah tersebut dalam perselisihan,
yang menimbulkan kekhawatiran akan kerusuhan di antara sekutu Spanyol
di Eropa.
Pemerintah Spanyol meminta kekuasaan konstitusional khusus untuk
memecat pemerintah daerah dan memaksa mengadakan pemilihan umum dalam
melawan upaya kemerdekaan, yang mengguncang perekonomian Spanyol.
Pemungutan suara di Senat untuk menerapkan peraturan langsung itu akan
dilakukan pada Jumat.
Namun, pemimpin gerakan pemisahan tersebut mengatakan bahwa
referendum, yang ditentang, pada 1 Oktober itu memberi mereka mandat
untuk menyatakan kemerdekaan dari seluruh Spanyol.
"Bukannya kami akan menolak. Ini bukan keputusan pribadi. Ini adalah
keputusan tujuh juta orang," kata kepala urusan luar negeri Katalunya
Raul Romeva kepada radio BBC.
Romeva ditanya apakah dia mempercayai semua institusi, termasuk
polisi, akan mengikuti perintah dari lembaga Katalan dan bukan dari
pemerintah Spanyol.
"Dari sudut itu, saya tidak ragu bahwa semua pegawai negeri sipil di
Katalunya akan terus mengikuti perintah dari lembaga terpilih dan sah,
yang kita miliki saat ini," katanya.
Pemerintah Katalan mengatakan sekitar 90 persen dari mereka yang
ikut dalam referendum pada 1 Oktober memilih untuk merdeka. Tapi hanya
43 persen pemilih dan 1 dari 3 orang Katalan berpartisipasi, dengan
sebagian besar penentang pemisahan Katalunya tinggal di dalam rumah.
Kemelut Katalan menimbulkan kekhawatiran di antara negara Eropa sehingga dapat meluas ke seluruh benua.
Dari Skotlandia ke Flanders dan Lombardy, krisis keuangan 2007-2009,
pengangguran dan migrasi telah memungkinkan partai anti-Uni Eropa dan
populis untuk mendapatkan dukungan ketidakpuasan dengan elit politik dan
membuka kembali divisi kawasan.
Dua daerah kaya di Italia utara melakukan pemungutan suara pada Minggu untuk mendapatkan otonomi yang lebih besar.
Dalam pertemuan puncak Eropa pada pekan lalu, para pemimpin berusaha
meredakan kemelut Spanyol dengan Katalunya dan memaparkan pemisahan
diri tersebut sebagai masalah dalam negeri, demikian Reuters.
Credit
antaranews.com
Catalonia ancam pembangkangan sipil besar-besaran

Sebuah
unjuk rasa pro-persatuan yang diadakan oleh organisasi Catalan Civil
Society berjalan menuju jalan-jalan Barcelona, Spanyol, Minggu
(8/10/2017). (REUTERS/Rafael Marchante )
Jakarta (CB) - Partai Calon Persatuan Rakyat (CUP yang
berorientasi kiri ekstrem, Senin, mengancam menggelar pembangkangan
sipil besar-besaran jika Spanyol terus mengancam Catalonia untuk tidak
memproklamasikan kemerdekaannya.
CUP menyebut pemerintah pusat di
Madrid telah melakukan agresi terbesar terhadap rakyat Catalan sejak
kediktatoran Francisco Franco.
"Agresi semacam ini akan mendapatkan tanggapan dalam bentuk pembangkangan sipil besar-besaran," ancam CUP seperti dikutip AFP.
Sabtu
pekan lalu setengah juta kaum separatis tumpah ruah ke jalan-jalan di
Barcelona setelah Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy menyatakan akan
memecat pemimpin Catalan Carles Puigdemont dan eksekutifnya.
Rajoy menyatakan Madrid akan mengendalikan para menteri regional dengan segala upaya guna menghentikan pemisahan diri Catalonia.
CUP
adalah sekutu utama koalisi partai separatis Catalonia. CUP
mengungkapkan rencana pembangkangan sipil ini akan diungkapkan segera
pekan ini.
Partai-partai Catalan akan bertemu hari ini untuk
rembuk besar untuk menentukan langkah mereka selanjutnya. Dan ini akan
menjadi momen bagi kaum separatis untuk mengumumkan kemerdekaan
Catalonia secara sepihak.
Mereka sudah mengeluarkan ancaman semacam itu sejak menggelar referendum kemerdekaan ilegal pada 1 Oktober.
Credit
antaranews.com