
Rahim buatan diujicoba ke bayi domba. (Reuters).
CB,
Jakarta
- Tim peneliti dari Australia dan Jepang memasukkan beberapa janin
domba berusia 105-115 hari ke dalam rahim buatan di luar rahim induknya.
Usia janin domba ini setara dengan usia janin manusia 23 minggu setelah
pembuahan.
Setelah seminggu di ruang inkubasi buatan tersebut,
janin domba mampu mengembangkan beberapa organ vital dan meningkatkan
ketahanan hidup. Janin domba lahir normal pada usia 148 hari. Sebelum
rahim buatan ini dibuat, para peneliti hanya bisa menjaga janin domba
tetap hidup dalam sistem rahim tiruan selama 60 jam. Dan anak-anak domba
itu mengalami kerusakan otak yang parah.
Kali ini, setelah
sepekan, anak domba lahir sehat dari rahim buatan itu tanpa tanda-tanda
kerusakan otak. "Merancang strategi penanganan untuk bayi yang sangat
prematur adalah sebuah tantangan," kata Ketua Tim Peneliti Australia,
Matt Kemp, yang mempublikasikan hasil risetnya di
American Journal of Obstetrics & Gynecology edisi Agustus 2017.
Riset
kolaborasi internasional ini melibatkan peneliti dari Women and Infants
Research Foundation, Universitas Western Australia, dan Rumah Sakit
Universitas Tohoku, Jepang. Mereka juga melibatkan Tim Pengembangan
Plasenta Buatan di Nipro Corporation di Osaka, pimpinan Shinichi
Kawamura. Riset ini menunjukkan bahwa anak domba lahir prematur dapat
dipelihara dalam keadaan sehat dan bebas infeksi dengan pertumbuhan yang
signifikan.
Mereka "ditanam" selama seminggu menggunakan terapi
lingkungan rahim buatan di luar rahim asli (EVE). Matt Kemp
mengungkapkan, dengan pengembangan lebih lanjut, terapi EVE dapat
mencegah sakit parah yang diderita oleh bayi prematur. Alat ini sangat
penting karena setiap tahun sekitar 30 ribu bayi manusia di Amerika
Serikat terlahir secara kritis prematur. Mereka lahir sebelum 26 minggu.
Padahal
bayi mematangkan organ-organ tubuhnya pada usia 37-39 minggu. Adapun
bayi prematur adalah mereka yang lahir pada masa kritis 23-28 minggu.
"Pada usia kehamilan ini, paru-paru sering kali secara struktural dan
fungsional kurang berkembang," ujar Kemp.
Harapan hidup bayi prematur
Tim peneliti berhipotesis bahwa salah satu cara meningkatkan harapan
hidup bagi bayi prematur adalah memperlakukannya sebagai janin. Bukan
bayi kecil. Peralatan ini pada dasarnya adalah "bak mandi" atau tas
cairan ketuban berteknologi tinggi yang dikombinasikan dengan plasenta
buatan. Rahim buatan diisi cairan ketuban untuk meniru kondisi di rahim
ibu.
Dengan menyediakan sarana alternatif pertukaran gas untuk
janin, peneliti berharap dapat menyelamatkan nyawa bayi yang
paru-parunya terlalu muda untuk bernapas dengan benar. Oksigen eksternal
akan mengambil peran plasenta dengan mengubah oksigen yang beredar di
sistem itu menjadi karbon dioksida. Jantung dipantau secara ketat
sehingga tidak terbebani, sementara organ lain dalam tubuh domba
berkembang.
Tujuan akhirnya, menurut anggota peneliti Haruo
Usuda, menyediakan bayi prematur kesempatan untuk lebih mengembangkan
paru-paru dan organ penting lain sebelum dibawa ke dunia.
Ini
bukan pertama kalinya rahim buatan digunakan untuk mengembangkan anak
domba. Pada April lalu, para peneliti dari Children Hospital of
Philadelphia menggunakan metode yang sama untuk menginkubasi anak domba.
Rahim buatan itu mampu mengembangkan anak domba tersebut selama empat
minggu tanpa kerusakan pada otak atau organ tubuh. Kini para ilmuwan di
Australia telah mereplikasi alat ini.
Namun para
kritikus mengatakan metode ini bisa berbahaya karena, bagaimanapun, ada
perbedaan antara domba dan bayi manusia. Misalnya, anak domba hanya
berada di rahim selama lima bulan, sementara bayi manusia berada di sana
selama delapan sampai sembilan bulan.
Anak domba lahir juga jauh
lebih besar daripada bayi. Ukurannya bisa mengubah bagaimana rahim
buatan harus bekerja untuk bayi kecil. Karena itu, periset tidak akan
menguji sistem baru ini pada bayi manusia selama lima tahun ke depan.
Masih ada waktu untuk mengembangkan rahim buatan.
Credit
tempo.co