Senin, 29 Oktober 2018

Saudi Janji Investigasi Menyeluruh Kasus Pembunuhan Khashoggi



Saudi Janji Investigasi Menyeluruh Kasus Pembunuhan Khashoggi
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Ahmed Al-Jubeir (Foto: Carlo Allegri)


Jakarta, CB -- Arab Saudi berjanji melakukan penyelidikan menyeluruh dalam kasus pembunuhan terhadap jurnalis Jamal Khashoggi.

Hal itu dikatakan oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Jim Mattis, Minggu, usai menggelar pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir di Bahrain.

"Kami membicarakan kasus itu, mengenai pentingnya transparansi, investigasi mendalam dan menyeluruh. Menteri Luar Negeri Jubeir menyetujui itu. Tak ada keberatan sama sekali," kata Mattis kepada wartawan setelah pembicaraan.


"Tak ada keberatan sedikit pun. Dia (Jubeir) mengatakan 'kami perlu mengetahui apa yang terjadi' dan itu sangat kolaboratif," Mattis menambahkan.



Jurnalis Arab Saudi, Khashoggi, 59 tahun, yang kerap mengkritik putra mahkota Saudi Mohammad bin Salman, sebelumnya hidup di pengasingan di Amerika Serikat sejak 2017.

Dia dibunuh 2 Oktober lalu saat memasuki konsulat negaranya di Istanbul, Turki, ketika ingin mengurus dokumen pernikahan dengan tunangannya. Khashoggi yang merupakan kolomnis Washington Post dibunuh dan mayatnya dimutilasi oleh sebuah tim yang dikirim dari Saudi.

Setelah menolak selama beberapa pekan, Riyadh akhirnya bersedia melakukan penyelidikan.


Pangeran Salman secara terbuka menyebut pembunuhan Khashoggi itu peristiwa menjijikkan, sementara jaksa Saudi untuk pertama kalinya pada pekan ini menyatakan bahwa berdasarkan bukti-bukti hasil penyelidikan otoritas Turki, pembunuhan terhadap Khashoggi telah direncanakan sebelumnya.

Namun Riyadh pada Sabtu lalu menolak permintaan Ankara untuk mengekstradisi 18 orang Saudi yang kini ditahan terkait pembunuhan Khashoggi. Penolakan itu disampaikan saat Washington memperingatkan bahwa krisis dalam kasus ini dapat berisiko mengganggu stabilitas Timur Tengah.

Dalam forum di Manama, Sabtu, Mattis mengatakan "Pembunuhan Jamal Khashoggi dengan menggunakan fasilitas diplomatik menjadi perhatian serius semua pihak."

"Kegagalan suatu negara mematuhi norma internasional dan aturan hukum dapat mengganggu stabilitas regional, tepat di saat hal itu sangat dibutuhkan," ujar Mattis.

Mattis tidak menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Jubeir di forum Manama meski di saat yang sama dia bertemu dengan sejumlah pemimpin Arab dan Eropa.

Keduanya baru berbicara saat jamuan makan malam para menteri.


Pembunuhan Khashoggi yang menodai citra putra mahkota Pangeran Salman telah memicu gelombang kriitik internasional dan mempengaruhi hubungan Amerika Serikat dengan Kerajaan Saudi.

Amerika sangat mengandalkan Arab Saudi untuk membendung pengaruh Iran di kawasan dan menjaga keamanan Israel.




Credit  cnnindonesia.com